Friday, December 30, 2016

SEJARAH SIGKAT ISLAM DI KABUPATEN BANDUNG

sumber : bandungkab.go.id
Penyebaran Islam di Kabupaten Bandung berkembang secara pesat setelah adanya dominasi kekuasaan Kesultanan Banten, Cirebon, dan Mataram menggantikan peran kekuasaan system kerajaan. Runtuhnya kerajaan Pajajaran beserta kerajaan-kerajaan kecil dibaeahnya, diikuti pula dengan perubahan tatanan dalam sister religi, masyatakat Kabupaten Bandung.

Selain menguasai pusat-pusat pemerintahan, puseur dayeuh atau lingkungan keratin, pihak kesultanan Banten, Cirebon dan Maaram pun,  kemudian menguasai tempat-tempat yang dianggap suci yang disebut mandala atau  kabuyutan. Ada juga yang menyebutnya tanah kaintar, artinya tempat yang dideklarasikan atau disucikan dalam ajaran lama masyarakat Sunda pada masa itu.

Penguasaan kabuyutan  sebagai pusat ajaran lama, oleh pihak kesultanan melalui para utusannya yang terdiri dari para juru dakwah, ulama, seniman, atau kaum Muslim lainnya, kemudian dijadikan sebagai titik-titik penyebaran dan perluasan ajaran agama Islam. Tampak sekali, dari beberapa situs cagar budaya, seperti Cijambe, Pasirmiri-miri, Pangudar, Ngabehi, Sumur Bandung, Sukaraja, dan lain-lain, berdasarkan silsilahnya selalu dikait-kaitkan dengan tokoh-tokoh yang berasal antara Kesultanan Mataram, Cirebon, dan Banten.

Penyebaran Isalm di wilayah Kabupaten Bandung pada pertengahan abad ke-16 dan abad ke-17, selain dilakukan oleh tokoh-tokoh yang berasal dari Kesultanan banten, Cirebon, dan Mataram, juga ada yang dilakukan oleh pribumi atau para keturunan Prabu Siliwangi, yaitu:
1.       Kean Santarng yang melakukan Islamisasi di wilayah Rancabali (Patenggang), Ciwidey (Sinapeul), Soreang (Gunung Sadu) hingga daerah Munjul (Baleendah).
2.       Kertamanah yang melakukan Islamisasi di daerah Pasirjambu (Kabuyutan).
3.       Paku Jaya yang melakukan Islamisasi di daerah Ciwangi-Cipaku, Kecamatan Paseh.
4.       Dipati Ukur, yang melakukan Islamisasi di daerah Kertasari (Gunung Wayang), Cikondang (Gunung Tilu), Pacet (Pabuntelan dan Tenjonagara).


Jika pada masa klasik atau jaman kerajaan-kerajaan yang berpola kepercayaan asli bercampur Hindu/Budha, kabuyutan memiliki peran penting yang mendampingi peran keratin dalam bidang pendidikan mental spiritual, dan dianggap sebagai tempat suci, maka sejak adanya perluasan penyebaran agama Islam secara tradisional. Status kabuyutan sebagai tempat suci dan sacral perlahan terkubur. Berbagai sarana/prasarana yang menjadi media ajaran lama, seperti punden berundak, arca, sanggah, lingga, dan yoni, banyak lenyap. Ada kemungkinan dilenyapkan. Dan kemudian mengikuti disesuaikan dengan budaya-budaya pesantren yang bertolak kepada ajaran yang bersumber dari Al Quran dan Hadits. Hal ini bias ditemukan dari adanya jenis-jenis kesenian buhun yang masih tersisa.

2 comments:

  1. Mnta sumbernya donk Kang, atau lngsung k lapangan?, Butuh infonya lbih dlam juga. Klo berkenan PC 082320528432

    ReplyDelete