Showing posts with label Kaulinan. Show all posts
Showing posts with label Kaulinan. Show all posts

Tuesday, March 10, 2015

GATRIK

Gatrik (sumber)
Gatrik atau Tak Kadal pada masanya pernah menjadi permainan yang populer di Indonesia. Merupakan permainan kelompok, terdiri dari dua kelompok.

Permainan ini menggunakan alat dari dua potongan bambu yang satu menyerupai tongkat berukuran kira kira 30 cm dan lainnya berukuran lebih kecil. Pertama potongan bambu yang kecil ditaruh di antara dua batu lalu dipukul oleh tongkat bambu, diteruskan dengan memukul bambu kecil tersebut sejauh mungkin, pemukul akan terus memukul hingga beberapa kali sampai suatu kali pukulannya tidak mengena/luput/meleset dari bambu kecil tersebut. Setelah gagal maka orang berikutnya dari kelompok tersebut akan meneruskan. Sampai giliran orang terakhir. Setelah selesai maka kelompok lawan akan memberi hadiah berupa gendongan dengan patokan jarak dari bambu kecil yang terakhir hingga ke batu awal permainan dimulai tadi. Makin jauh, maka makin enak digendong dan kelompok lawan akan makin lelah menggendong.

GALAH ASIN

Galah Asin (sumber)
Galah asin atau galasin atau gobak sodor adalah sejenis permainan daerah tradisional dari Indonesia. Permainan ini adalah sebuah permainan grup yang terdiri dari dua grup, di mana masing-masing tim terdiri dari 3 – 5 orang. Inti permainannya adalah menghadang lawan agar tidak bisa lolos melewati garis ke baris terakhir secara bolak-balik, dan untuk meraih kemenangan seluruh anggota grup harus secara lengkap melakukan proses bolak-balik dalam area lapangan yang telah ditentukan.

Permainan galah asin atau gobak sodor ini biasanya dilakukan di lapangan. Arena bermain merupakan kotak persegi panjang dan diberi garis di dalamnya dengan ukuran 9 x 4 m yang dibagi menjadi 6 bagian. Garis batas dari setiap bagian biasanya diberi tanda dengan kapur atau tali. Anggota grup yang mendapat giliran untuk menjaga lapangan ini terbagi dua, yaitu anggota grup yang menjaga garis batas horisontal dan garis batas vertikal. Bagi anggota grup yang mendapatkan tugas untuk menjaga garis batas horisontal, maka mereka akan berusaha untuk menghalangi lawan mereka yang juga berusaha untuk melewati garis batas yang sudah ditentukan sebagai garis batas bebas. Bagi anggota grup yang mendapatkan tugas untuk menjaga garis batas vertikal (umumnya hanya satu orang), maka orang ini mempunyai akses untuk keseluruhan garis batas vertikal yang terletak di tengah lapangan. Permainan ini sangat mengasyikkan sekaligus sangat sulit karena setiap orang harus selalu berjaga dan berlari secepat mungkin jika diperlukan untuk meraih kemenangan.

UCING-UCINGAN


Ucing Sumput
Ucing Sumput (sumber)
Petak umpet atau dikenal dengan istilah Ucing Sumput di Jawa barat merupakan permainan yang menuntut pemainnya untuk pintar dalam memilih tempat persembunyian. Satu orang pemain yang kalah akan menutup matanya pada salah satu tempat yang dianggap sebagai benteng, sementara yang lain mencari tempat untuk bersembunyi. Setelah menghitung sampai jumlah tertentu, maka mulailah pemain yang menutup mata tersebut mencari tiap orang yang bersembunyi.

Bila telah menemukan orang yang bersembunyi, pencari ini harus cepat-cepat berlari ke benteng sambil menyebut nama orang yang ketahuan persembunyiannya sambil teriak “25!!” saat menyentuh benteng. Begitu juga dengan anak yang ketahuan, karena bila berhasil lebih dulu menyentuh benteng, maka pada tahap selanjutnya dia tidak akan jaga. Anak lain yang bersembunyi dapat pula menyentuh benteng agar tidak jaga pada tahap selanjutnya, asalkan tidak ketahuan dengan pencari.

Setelah semua telah ketahuan persembunyiannya, maka pencari akan menutup matanya kembali pada benteng dan anak-anak lain membentuk barisan di belakangnya. Pencari akan menyebut salah satu nomor. Anak yang ada di urutan nomor yang disebut akan menjadi pihak yang kalah bila tadi dia tidak berhasil lebih dulu mencapai benteng. Sedangkan bila anak pada urutan yang disebut ternyata adalah anak yang berhasil mencapai benteng (biasa disebut pembela) lebih dulu pada saat ketahuan tempat persembunyiannya, maka si pencari tetap dalam posisi kalah dan kembali menjadi ucing.


Ucing Kup
Permainan ini juga gampang, tinggal ada ucing, kita bikin nama sendiri , ucing ngejar, kalo kita terdesak, kita tinggal bilang “kup” sambil megang bahu, gampang kan ?! tapi saat dalam posisi kup, kita tidak boleh bergerak dan kita tidak boleh ngomong dan keliatan gigi ! jadi kalo mau lari lagi kita harus dibangunin sama teman. Dalam permainan ini jangan libatkan pemain yang terpaut usia yang jauh lebih muda dari pemain yang lain, karena permainan ini butuh kecepatan berlari untuk mengejar pemain yang lain atau saat dikejar ucingnya.

BANCAKAN

Bancakan (sumber)
Bancakan merupakan salah satu permainan tradisional (kaulinan baheula) anak Jawa Barat berjenis petak umpet atau dalam bahasa sunda disebut Ucing sumput, dengan memakai sebuah batu dan genteng yang jumlah idealnya sebanyak jumlah pemain yang disusun bertumpuk, dan keduanya ditempatkan dalam dua buah lingkaran berdampingan. Sebelum permainan dimulai, peserta melakukan pengundian untuk menentukan siapa yang menjadi ucing atau bagian jaga. Pengundian bisa dilakukan dengan dua cara, pertama dengan cara hompimpa atau suit. Kedua, dengan melemparkan genteng milik masing-masing dari jarak tertentu ke dalam lingkaran permainan. Yang kalah harus menjadi petugas penjaga atau kucing (ucing). Ucing bertugas menyusun genteng secara bertumpuk sebagai benteng selagi para pemain bersembunyi, kemudian setelah susunan genteng telah berdiri secara sempurna, Ucing mulai menjaga susunan genteng agar tidak dirobohkan sembari mencari para pemain yang bersembunyi. Biasanya letak persembunyian diberi batas agar pemain tidak bersembunyi terlalu jauh.

Apabila pemain terlihat atau ditemukan, Ucing harus menyebutkan nama pemain kemudian menginjak batu di lingkaran sembari berteriak BANCAKAN! sebagai tanda bahwa persembunyian pemain telah terbongkar dan pemain diharuskan keluar dari tempat persembunyiannya, sampai semua pemain ditemukan, kemudian permainan dimulai lagi dengan pengundian untuk menentukan Ucing yang baru. Pemain selain harus bersembunyi dari Nu Jadi Ucing, pemain juga diharuskan menyerang benteng Nu Jadi Ucing. Jika pemain berhasil merobohkan benteng maka itu menjadi tanda bahwa Ucing wajib mempertanggungjawabkan kekalahannya dengan menjadi ucing lagi dalam ronde berikutnya sampai Nu Jadi Ucing sukses dalam menjalankan tugasnya sebagai penjaga dengan menemukan semua peain yang bersembunyi.


Apabila Pemain ditemukan dan ternyata baik Nu Jadi Ucing maupun peserta yang ditemukan sama-sama jauh dari benteng, maka mereka berdua harus berlomba lari untuk mencapai benteng dan menuntaskan misi masing-masing. Bancakan ini sama dengan permainan yang lain, biasanya dimainkan di sore hari, dan selesai ketika waktu maghrib datang. 

BOYBOYAN

Boyboyan (sumber)
Salah satu permainan tradisonal yang sudah mulai tersisih oleh gadget dan jarang sekali dimainkan oleh anak-anak ialah “Boy-boyan”. Jenis permainan seperti apa ini? Permainan yang menyerupai anak laki-laki? Atau permainan yang dikhususkan untuk anak laki-laki?

Permainan ini menggunakan alat yang bisa didapat di mana saja dan tak perlu mengeluarkan uang untuk mendapatkannya. Seperti pecahan genting yang bisa didapat disekitar rumah atau kaleng susu bekas dan sebuah bola kecil yang empuk (bisa dibuat dari buntalan kertas yang dilapisi plastik). Ingat bolanya harus empuk ya Sobat Djadoel! Karena selain untuk dilempar ke susunan genting yang berbentuk menara, bola ini juga digunakan untuk dilempar ke tubuh pemain. Jadi, diusahakan bolanya harus empuk agar tidak melukai pemain.

Model permainannya yaitu menyusun lempengan pecahan genting menyerupai menara yang kemudian harus dirubuhkan menggunakan bola dan harus disusun kembali seperti semula. Sesimpel itukah cara mainnya? Ternyata tidak semudah itu loh bermain boy-boyan. Karena disini kita dituntut mempunyai fisik yang bagus karena harus berlari-lari. Selain itu, kita juga dituntut mempunyai kemampuan berstrategi yang baik dan kemampuan bekerjasama yang baik pula supaya bisa memenangkan permainan ini.

Sebelum bermain boy-boyan, selain harus menyiapkan dua alat tadi kita juga harus membagi peserta menjadi dua tim, misal tim A dan tim B. Setelah itu biasanya kedua tim akan melakukan hompimpa untuk menentukan tim mana yang berhak melempar terlebih dahulu. Tim yang menang akan melempar terlebih dahulu dan tim yang kalah kebagian menjaga.

Tim yang menang harus melemparkan bola ke arah tumpukan genting, jika tumpukan tersebut berhasil dihancurkan, maka semua anggota tim yang menang harus berlari untuk menghindari lemparan dari tim yang menjaga. Tim yang menang juga harus menyusun kembali menara genting yang hancur sambil menghindari lemparan bola dari tim yang menjaga.

Jika tim yang menang berhasil menyusun kembali menaranya sebelum semua tim yang menang terkena lemparan bola, maka mereka jadi pemenangya dan berhak menjadi tim pelempar lagi. Sedangkan tim yang menjaga harus berusaha menggagalkan tim yang menang untuk menyempurnakan tumpukan genting dengan melempar bola ke arah badan semua anggota tim yang menang. Apabila semua anggota tim yang menang terkena lemparan atau gagal menghancurkan tumpukan genting, maka tim yang jaga akan mendapat bagian melempar bola ke arah tumpukan genting.


Seperti permainan tradisional lainnya, permainan boy-boyan cenderung menggunakan alat-alat yang sederhana dan memanfaatkan fasilitas yang ada di sekitar rumah, jadi tidak perlu mengeluarkan biaya yang banyak. Tapi, disamping sederhananya alat-alat yang digunakan, permainan tradisonal sendiri mampu mengasah konsentrasi, kecepatan dan ketepatan dari setiap pemainnya. Selain itu itu juga para pemain dituntut untuk saling kerjasama, karena hampir semua permainan tradisional selalu mengutamakan kerjasama tim. 

PRIS PRISAN

Pris prisan/Bentengan (sumber)
Permainan benteng ini biasa disebut dengan pris prisan di daerah Jawa Barat. Biarpun sebutannya berbedaTujuan utama dari permainan ini adalah saling menyerang benteng. Masing-masing tim menentukan bentengnya, dapat berupa pohon, tiang, tembok, atau bahkan batu yang diinjak secara bersamaan dan dijaga secara bersamaan. Mereka berusaha menawan anggota tim lawan agar dapat merebut benteng lawan. Permainan dimulai dengan salah satu anggota keluar dari benteng, maka anggota tim lawan akan berusaha menyentuh orang tersebut. Tetapi anggota tim pertama dapat langsung menyerang dengan berusaha menyentuh pemain yang keluar tersebut begitu pula dengan tim lawan. Untuk menghindari disentuh, mereka dapat kembali ke benteng masing-masing dan kembali menyentuh benteng agar bisa menyerang lawan yang datang.

Siapa yang tersentuh akan ditawan di benteng lawan. Teman satu tim dapat berusaha menyelamatkan teman-teman yang tertawan dengan mendatangi benteng lawan dan menyentuh teman-temannya, tetapi tentu saja tidak boleh tersentuh lawannya. Harus ada anggota tim yang menjaga bentengnya. Bila benteng lawan tidak ada yang menjaga, maka pemain dapat menyentuh benteng tersebut yang berarti tim tersebut menjadi pemenangnya.

SORODOT GAPLOK

Sorodot Gaplok (sumber)
Sorodot gaplok meruakan permainan yang menggunakan batu sebagai alat permainannya ini adalah permainan tradisional khas Jawa Barat, dimana biasanya dimainkan oleh anak laki-laki saja. Sorodot Gaplok berasal dari dua kata, Sorodot yang berarti ‘meluncur’ dan Gaplok yang berarti ‘tamparan’. Jadi Sorodot Gaplok adalah permainan meluncurkan batu ke batu lainnya yang nantinya bisa menimbulkan suara ‘plok’ seperti suara tamparan.

Permainan ini bisa dimainkan oleh dua orang atau lebih, yang penting jumlahnya genap. Karena kalau lebih dari dua orang biasanya akan dibagi menjadi dua tim yang jumlah anggotanya sama. Setelah dibagi dua tim, kita harus menentukan tim mana yang main duluan dan tim mana yang kebagian jaga, biasanya dengan cara suit.

Setelah itu kita tinggal membuat garis di lantai atau tanah sebagai tempat meletakkan batu secara berdiri. Kemudian buat garis lagi untuk tempat lemparan batu bagi tim yang bermain. Jarak kedua garis itu biasanya sekitar 3-5 meter. Yang terakhir jangan lupa kita siapkan juga batu yang tidak terlalu berat dan kalau bisa agak gepeng dan bisa diberdirikan supaya memudahkan kita sewaktu membawanya di punggung kaki.

Setelah semua siap, tim yang bermain lebih dulu akan berjajar di garis lempar. Secara bergiliran setiap anggota tim akan melemparkan batu yang diletakkan di atas punggung kaki mereka ke arah batu lawan yang sebelumnya diletakkan secara berdiri. Melemparnya juga tidak sembarang melempar, kita harus mendekati garis lempar dengan cara ‘engklek’ terlebih dulu sebelum nantinya ‘menyorodotkan’ batu itu.

Jika si pelempar tidak mengenai batu lawan, dia harus melempar batu itu lagi dari tempat batu itu jatuh. Tapi kali ini dia harus melempar melalui kedua kolong kaki dengan tangan. Jadi dia harus jongkok dan melemparkan batu itu melewati kolong kakinya. Tim pelempar harus menjatuhkan semua batu lawannya untuk menjadi pemenang karena kalau tidak tim mereka akan giliran menjadi tim penjaga.

Seperti disebut di awal tadi, permainan Sorodot Gaplok ini memiliki unsur edukasi yang sangat kuat. Karena ternyata permainan ini bisa melatih kerjasama tim, meningkatkan jiwa sportifitas dan juga bisa melatih konsentrasi seseorang. Selain itu permainan ini juga bisa melatih kepemimpinan serta ketangkasan seseorang.

GALAH JIDAR

Galah Jidar (sumber)
Galah jidar dapat ditemui hampir disemua wilayah tanah air yang merupakan permainan tradisional dengan istilah daerah masing-masing. Permainan bisa dilakukan oleh dua orang atau lebih. Namun paling sering permainan dilakukan secara beregu atau berkelompok. Setiap regu atau kelompok terdiri dari masing-masing 3 hingga bisa mencapai belasan orang. Inti permainannya adalah melewati batang (garis) yang menjadi rintangan untuk dilangkahi dengan jumlah langkah semampu mungkin.

Kelompok pertama mempunyai kesempatan memulai permainan. Setelah seluruh anggota kelompok pertama secara bergiliran melakukan loncatan, giliran kelompok kedua melakukan hal yang sama. Setelah semua pemain melompati palang garis, seorang dari kelompok kedua mempunyai tugas untuk mengukur atau memindahkan palang garis.  Untuk menentukan menang dan kalah dalam permainan dalam satu kelompok ada anggota yang menginjak palang garis, yang dinyatakan kalah juga ditentukan bila ada anggota melakukan loncatan sesuai kesepakatan bersama dalam Semisal bilamana anggota pertama kelompok melakukan loncatan melewati palang garis, tapi ada anggota yang setelah dirinya dua atau lebih, maka kelompok tersebut dinyatakan kalah mendapat nilai.


Permainan ini pun bisa dilakuan dengan persaingan antar individu. Pemain dengan langkah yang lebih sedikit dalam melewati batang garis, maka dialah yang menjadi pertama. Secara otomatis, para pemain yang setelahnya harus mengikuti jumlah langkah pemain pertama tersebut. Boleh dengan langkah yang lebih banyak, asalkan pemain setelhnya melangkah dengan jumlah langkah yang sama atau lebih banyak. Pemain yang langkahnya paling banyak maka dialah yang menjaga dan memindahkan batang garis.