Monday, June 22, 2015

KAJIAN ILMU PENDIDIKAN ISLAM 6 : PESERTA DIDIK


Hakikat Peserta Didik
Ramayulis (2008: 77) menjelaskan bahwa peserta didik secara formal adalah orang yang sedang berada pada fase pertumbuhan dan perkembangan baik secara fisik maupun psikis, pertumbuhan dan perkembangan merupakan ciri dari seorang peserta didik yang perlu bimbingan dari seorang pendidik.
Dalam Pasal 1 ayat 4 UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan dirinya melalui proses pendidikan pada jalur jenjang dan jenis pendidikan tertentu.
Menurut Hasan Basri (2009: 88), dalam perspektif pendidikan Islam, hakikat anak didik terdiri dari beberapa macam:
  1. Anak didik adalah darah daging sendiri, orang tua adalah pendidik bagi anak-anaknya maka semua keturunannya menjadi anak didiknya di dalam keluarga;
  2. Anak didik adalah semua anak berada di bawah bimbingan pendidik di lembaga pendidikan formal maupun non formal, seperti di sekolah, pondik pesantren, pengajian di masyarakat, semuanya orang-orang yang menimba ilmu dipandang sebagai anak didik;
  3. Anak didik khusus adalah orang-orang yang belajar di lembaga pendidikan tertentu yang menerima bimbingan, pengarahan, nasihat, pembelajaran, dan berbagai hal yang berkaitan dengan proses kependidikan.

Dalam buku Filsafat Pendidikan Islam oleh Ahmad Tafsir (2010: 165), terdapat tiga sebutan untuk pelajar, yaitu:
1. Murid
Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh kalangan sufi, yang berarti orang yang sedang belajar, menyucikan diri, dan sedang berjalan menuju Tuhan. Yang paling menonjol ialah kepatuhan murid pada gurunya. Hubungan guru dan murid adalah hubungan searah, dari subjek guru (mursyid) ke objek (murid), disebut pengajaran berpusat pada guru.
2. Anak Didik
Anak didik mengandung pengertian guru menyayangi murid seperti anaknya sendiri. Kasih sayang guru terhadap anak didik dianggap salah satu kunci keberhasilan pendidikan. Dalam sebutan anak didik pengajarannya msih berpusat pada guru tapi tidak seketat pada guru-murid.
3. Peserta Didik
Istilah ini menekankan pentingnya murid berpartisipasi dalam proses pembelajaran. Dalam sebutan ini akrivitas pelajar dalam proses pendidikan dianggap sebagai suatu kunci.

Kepribadian Peserta Didik
Allport mendefinisikan kepribadian adalah susunan yang dinamis di dalam sistem psiko-fisik (jasmani rohani) seorang (individu) yang menentukan perilaku dan pikirannya yang berciri khusus.
Fadhil Al-Djamaly menggambarkan kepribadian muslim sebagai muslim yang berbudaya, yang hidup bersama Allah dalam tingkah laku hidupnya, dan tanpa akhir ketinggiannya. Dengan kepribadian muslim harus mengembangkan dirinya dengan bimbingan petunjuk illahi, dalam rangka mengemban tugasnya khalifah Allah di muka bumi, dan selalu melaksanakan kewajiban sebagai hamba Allah melakukan pengabdian kepada-Nya.
Kepribadian muslim ada 2, yaitu:
1. Kepribadian kemanusiaan (basyariah)
    a. Kepribadian individu
    b. Kepribadian ummah
2. Kepribadian kewahyuan (samawi), yaitu corak kepribadian yang dibentuk melalui petunjuk wahyu dalam kitab suci al-Quran.

Adapun pembentukan kepribadian muslim adalah sebagai berikut:
1. Pembentukan Kepribadian Kemanusiaan
a.  Proses pembentukan kepribadian secara perseorangan
a). Pranatal Education (Tarbiyah Qabl al-Wiladah), prosesnya dilakukan secara tidak langsung (indirect). Berawal dari pemilihan calon suami/istri yang baik dan berakhlak mulia, sikap perilaku orang tua yang Islami saat bayi dalam kandungan serta pemberian makanan dan minuman yang halal.
b). Education by Another (Tarbiyah ma’aghairih), dilakukan secara langsung oleh orang lain (orang tua di rumah, guru di sekolah, pemimpin di masyarakat, dan para ulama). Proses ini di mulai sejak anak dilahirkan hingga dewasa baik jasmani maupun rohani.
c).  Self Education (Tarbiyah al-Nafs), dilakukan melalui kegiatan pribadi tanpa bantuan orang lain seperti membaca buku, koran, dan sebagainya, atau melalui penelitian untuk menemukan hakikat segala sesuatu. Menurut Muzayyin, self education timbul karena dorongan dari naluri kemanusiaan yang ingin mengetahui (couriosity).

b. Proses pembentukan kepribadian secara ummah
a). Tidak melakukan hal-hal yang keji dan tercela.
b). Membina hubungan tata tertib meliputi bersikap santun dalam pergaulan.
c). Mempererat hubungan kerja sama dengan cara meninggalkan perbuatan yang dapat merusak dasar kerja sama.
d). Menggalakkan perbuatan-perbuatan terpuji yang memberi dampak positif kepada masyarakat

2. Pembentukan Kepribadian Samawi
Menurut Jalaluddin proses pembentukan kepribadian ini dapat dilakukan dengan cara membina nilai-nilai ke Islaman dalam hubungan dengan Allah SWT, yang dapat dilakukan dengan cara:
a. Beriman kepada Allah SWT.
b. Mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
c. Bertaqwa kepada-Nya.
d. Mensyukuri nikmat Allah dan tidak berputus harapan terhadap rahmat-Nya.
e. Berdoa kepada Tuhan selalu, mensucikan dan membesarkan-Nya dan selalu mengingat Allah.
f. Menggantungkan segla perbuatan masa depan kepada-Nya.
g. Mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi kecintaan kepada yang lain (Ramayulis, 2008: 110- 118).

Kebutuhan Peserta Didik
Banyak kebutuhan peserta didik yang harus dipenuhi oleh pendidik, yaitu (Ramayulis, 2008: 78-80) :
a. Kebutuhan Fisik
Peserta didik mengalami perubahan fisik yang cepat terutama pada masa pubertas. Kebutuhan biologis seperti makan, minim dan istirahan harus diperhatikan. Dengan adanya kebiasaan hidup sehat dapat membantu menjaga kesehatan pertumbuhan tubuh peserta kelompok. Informasi ini sangat diperlukan terutama bagi peserta didik yang berada pada masa pubertas.
b. Kebutuhan Sosial
Kebutuhan sosial yaitu kebutuhan yang berhubungan langsung dengan masyarakat agar peserta didik dapat berinteraksi dengan masyarakat dan lingkungannya.
Kebutuhan untuk Mendapatkan Status
Peserta didik terutama pada usia remaja membutuhkan suatu yang menjadikan dirinya berguna bagi masyarakat. Peserta didik butuh kebanggaan untuk diterima dan dikenal sebagai individu yang berarti baik bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, maupun dalam kelompok teman sebayanya, karena hal ini penting dalam mencari identitas diri dan kemandirian.
Kebutuhan Mandiri
Peserta didik pada usia remaja ingin lepas dari batasan atau aturan orang tuanya dan mencoba untuk mengarahkan dan mendisiplinkan dirinya sendiri.
Kebutuhan untuk Berprestasi
Kebutuhan ini erat kaitannya dengan kebutuhan mendapat status dan mandiri. Artinya dengan terpenuhinya kebutuhan untuk memiliki status atau penghargaan dan kebutuhan untuk hidup mandiri dapat membuat peserta didik giat untuk mengejar prestasi.
Kebutuhan ingin Disayangi dan Dicintai
Rasa ingin disayangi dan dicintai merupakan kebutuhan yang esensial, karena dengan terpenuhinya kebutuhan ini akan mempengaruhi sikap mental peserta didik.
Kebutuhan untuk Curhat
Kebutuhan untuk curhat dimaksudkan untuk dipahami ide-ide dan permasalahan yang dihadapinya. Jika mereka tidak dapat kesempatan untuk mengkomunikasikan permasalahannya, apalagi jika dilecehkan, ditolak, atau dimusuhi, dapat membuat mereka marah, kecewa, sehingga muncul perilaku negatif. 
Kebutuhan untuk Memiliki Filsafat Hidup (Agama)
Peserta didik pada masa pubertas mulai tertarik untuk mengetahui tentang kebenaran, tujuan hidup, dan bagaimana kebahagiaan diperoleh. Karena itu mereka membutuhkan pengetahuan yang jelas sebagai suatu filsafat hidup yang sesuai dengan nilai kemanusiaan yang bisa digunakan sebagai pedoman dalam mengarungi kehidupan. Oleh karena itu peserta didik sangat membutuhkan agama.



0 komentar:

Post a Comment