Thursday, May 5, 2016

Book Review : Dan Brown - The Davinci Code

Judul Buku: The Da Vinci Code
Diterjemahkan dari : The Da Vinci Code
Penulis : Dan Brown
Terbt Pertama : 2003
Penerjemah: Isma B. Koesalamwardi
Tebal : 640 halaman
Terbit di Indonesia : Cetakan ke-25, September 2006
Penerbit : Serambi
ISBN : 979-3335-80-7

Robert Langdon menerima kiriman sebuah foto jasad Jacques Saunire seorang kurator seni museum louvre dengan telanjang bulat membentuk sebuah simbol Vitruvian Man (salah satu lukisan karya Leonardo da Vinci) dengan simbol pentakel diperutnya yang ia gambar sendiri menggunakan darahnya pada jam 23.00 malam. Beberapa petunjuk aneh tertulis disamping jasad Saunire dengan tulisan:
13-3-21-1-1-8-5
O, Draconia Devil !
Oh, lame saint
Bezu Fache, seorang kepala kepolisian DCPJ (Direction Centrale Police judiciaire) menaruh curiga sekaligus menduga Langdon sebagai tersangka. Ia telah meghilangkan pesan Saunire “P.S. Robert Langdon” yang seharusnya ada di baris paling bawah di tulisan yang ada di lantai tersebut demi membuat penyidikan secara tidak langsung tersebut berjalan lancar. Di tengah-tengah penyidikan, muncul Sophie Nevue, seorang agen Kriptologi dari DCPJ yang ternyata adalah cucu dari Saunire. Secara diam-diam Sophie memberi tahu Langdon tentang tujuan Fache memanggilnya untuk datang ke Louvre. Langdon pun mengetahui maksud fache meski ia masih heran, kenapa namanya ada pada pesan Saunire. Sophie yakin bahwa Langdon tak bersalah dan justru Sauniere membuat pesan itu ditujukan untuk Langdon dan Sophie. Fache mengetahui Langdon dan Sophie bekerjasama, ia pun memutuskan untuk menangkap keduanya.
Memanfaatkan situasi, Langdon dan Sophie melarikan diri saat Fache belum menyadari ternyata Langdon tahu dirinya dituduh sebagai tersangka dan dipasang alat semacam GPS dalam kantong jasnya. Mereka mencoba menerjemahkan maksud dari pesan Saunire. Setelah berpikir keras, Langdon pun mengetahui bahwa pesan saunire merupakan anagram dari Mona Lisa (lukisan terkenal karya Leonardo Da Vinci). Mereka bergegas mendatangi lukisan Mona Lisa dan di sana mereka menemukan pesan berikutnya “So Dark Cone of The Man” yang merupakan anagram dari Madonna of The Rock, lagi-lagi karya Leonardo Da Vinci. Lagi-lagi Da Vinci.
Da Vinci dan Jacques Sauniere memiliki ikatan historis. Keduanya merupakan anggota sebuah organisasi rahasia kuno bernama Prieure de Sion (Biarawan Sion). Biarawan Sion, perkumpulan rahasia beraliran Pagan (pemuja hukum suci alam dan memuja dewi sebagai pasangan dewa, keharmonisan antara laki-laki dan perempuan) yang didirikan di Jerusalem oleh Godefroi de Bouillon seorang raja Perancis pada tahun 1099. Da Vinci menjadi ketua Biarawan Sion sebagai mahaguru di tahun 1510-1519, dan Sauniere mahaguru di masa sekarang.
Pada lukisan Madonna of the Rock Sophie kembali menemukan pesan dari kakeknya berupa benda menyerupai salib dengan batang segitiga. Pada salib tersebut terdapat sebuah simbol mawar dengan inisial P.S. di atasnya bertuliskan  ”24 Rue Haxo”. Rue Haxo merupakan alamat sebuah Bank yang menyimpan rahasia Sauniere dan menjadi pesan berikutnya untuk Langdon dan Sophie. Sophie pun harus mengetahui no rekening kakeknya untuk membuka dan mengambil rahasia yang ada di bank tersebut. Ternyata deretan angka acak “13-3-21-1-1-8-5” yang ditemukan pada pesan di dekat jasad Sauniere, adalah deretan angka Fibonnaci yang jika disusun menjadi “1-1-2-3-5-8-13-21”. Angka inilah nomor rekening bank milik sang kakek. Sophie dan Langdon menemukan sebuah Cryptex (benda dengan tabung berisi gulungan serta terdapat cairan). Criptex tersebut merupakan peta yang menunjukan dimana Holy Grail berada. Tidak ingin membuang waktu, Langdon dan Sophie pun kembali ke dalam pelariannya. Langdon mengajak Sophie untuk bertemu temannya bernama Leigh Teabing, seorang sejarawan yang hidup untuk mengungkapkan Holy Grail. Teabing diharapkan membantu memecahkan kode-kode Sauniere.
Leigh Teabing menjelaskan kepada Sophie mengenai Holy Grail. Bukan Cawan Suci yang telah diketahui oleh masyarakat secara umum pada lukisan “The Last Supper” karya Leonardo Da Vinci. Holy Grail merupakan rahasia yang dijaga oleh Biarawan Sion selama berabad-abad. Dokumen Holy Grail berisi tentang garis keturunan kristus dan bahwa seorang perempuanlah (Maria Magdalena) yang ditugasi Kristus untuk mendirikan gereja. Dokumen ini juga menceritakan kenyataan bahwa kristus mempunyai istri (Maria Magdalena). Tetapi pernikahan tersebut menyalahi ketentuan gereja yang menyatakan Yesus adalah Tuhan, dan Tuhan tidak menikah apalagi memiliki anak. Tetapi kenyataannya Kristus menikah dan dikaruniai anak. Biarawan Sion pun adalah pemuja Maria Magdalena sebagai dewi, mawar (bunga lisa), perempuan suci, Ibu Agung dan Holy Grail. Gereja mengabadikan seorang Maria Magdalena sebagai wanita pelacur, melenyapkan semua pengakuan dan opini bahwa kristus tidak lebih dari manusia biasa. Itu semua merupakan upaya untuk menghilangkan identitas Maria Magdalena sang Ibu Agung.
Setelah diskusi panjang tentang Holy Grail dan mengungkapkan fakta-fakta sejarah yang berkaitan dengan Biarawan Sion dan Gereja, pelarian Langdon dan Sophie berlanjut menuju London dengan bantuan pesawat jet pribadi Teabing. Di London mereka mendatangi tempat-tempat yang diduga sebagai tempat disembunyikannya Holy Grail, dan mencoba memecahkan kata kunci dari criptex yang dibawa oleh mereka.
Sesuatu diluar dugaan pun terjadi, dengan mengakunya Leigh Teabing sebagai dalang dari semua kejahatan tentang pembunuhan Sauniere dan ketiga mahaguru Biarawan Sion yang lain. Ia memanfaatkan Silas, seorang albino pengikut Opus Dei (pihak gereja) sebagai eksekutor pembunuhan Sauniere. Langdon pun berhasil memecahkan kata kunci dari criptex dan Teabing berhasil ditangkap oleh Fache.
Dari petunjuk yang ada dalam criptex tersebut, Sopie mendapatkan fakta bahwa dia masih memiliki keluarga di Roselyn Skotlandia. Di sana dia bertemu dengan nenek dan adiknya yang ternyata tidak ikut mengalami kecelakaan bersama orang tuanya. Dan Sophie Naveu merupakan keturunan Merrovingian (garis keturunan langsung Yesus Kristus). Namun Holy Grail ternyata tidak ditemukan di sana. Jacques Sauniere sang mahaguru Biarawan Sion telah setia menjaga dokumen-dokumen rahasia tersebut. Rahasia yang diungkapkan Da Vinci dalam lukisan-lukisan dan karya seni Pagan lainnya, juga makam Maria Magdalena, berada dalam Louvre Museum Paris.
Novel yang menarik meski menurut saya termasuk bacaan yang berat. Dengan alur cerita yang cepat namun tidak terkesan tergesa-gesa. Bab-bab yang pendek dan berganti fokus hampir disetiap babnya membuat pembaca yang menjadi tergesa-gesa ingin menuntaskan ceritanya. Dan Brown berhasil menjebak pembaca, sama dengan novel sebelumnya Angels and Demons. Dalam Da Vinci Code, pembaca digiring untuk mencurigai Bezu Fache sebagai dalang dari kejahatan yang menamai dirinya sang Guru. Pemilihan ide cerita, mengolah sejarah, dan pencapaian klimaks, membuat novel ini tak memiliki kekurangan bagi saya.

0 komentar:

Post a Comment