Kamis, 20 Desember 2012

MAKNA DI BALIK HASAD




A.      ARTI HASAD
Sadar ataupun tidak, dalam berputarnya roda kehidupan setiap insan bisa jadi hasad (dengki) adalah penyakit hati yang sering datang menjangkiti. Penyakit ini telah berumur sekian lamanya semenjak Iblis membangkang kepada Allah ta’ala sehingga laknat Allah jatuh atasnya sampai hari kiamat. Salah satunya, disebabkan kedengkiannya kepada Nabi Adam ‘alaihissalam..
Hasad adalah mengharapkan hilangnya nikmat yang Allah ta’ala berikan kepada orang lain. Bahkan, semata-mata membenci nikmat yang Allah ta’ala anugerahkan kepada orang lain, itu juga dinamakan hasad. (Kitabul Ilmi¸Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin). Hasad merupakan akhlak yang tercela. Seseorang yang memiliki sifat hasad jiwanya tidak akan bisa lapang selama nikmat tersebut belum hilang dari saudaranya. Apabila saudaranya mendapat nikmat dari Allah, baik nikmat dalam perkara dunia ataupun akhirat, dadanya merasa sempit karena ada yang menyamai atau lebih tinggi darinya dalam perkara nikmat tersebut.
Banyak akibat buruk yang dapat ditimbulkan oleh sifat hasad, di antaranya adalah merendahkan dan menolak kebenaran. Hasad-lah yang menjadikan Yahudi mengingkari kerasulan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kerena takut tergesernya kedudukan mereka, dan tidak pernah ridho kepada agama islam sebelum kita orang-orang muslim mengikuti agama mereka sebagaimana firman Allah:

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar)". dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, Maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.”  (Q.S. Al-Baqarah : 120).

Hasad-lah yang menjadikan orang-orang kafir Quraisy menentang dakwah Rasulullah karena mereka tidak ridha ada orang seperti mereka yang memperoleh derajat kerasulan, sebagaimana firman Allah (yang artinya), “Tidaklah engkau (Muhammad) adalah manusia biasa seperti kami” (Yasin : 15). Hasad-lah maksiat pertama di langit yang dilakukan Iblis kepada Allah ta’ala sehingga dia diusir dari rahmat Allah. Hasad pula yang menjadi maksiat pertama manusia di bumi kala seorang anak Nabi Adam membunuh saudaranya karena dengki kurbannya tidak diterima (disarikan dari Al Luma’ ‘ala Kitabi Ishlahil Mujtama’, Asy Syaikh Yahya bin Ali al Hajuri dan Mukhtashar Minhajul Qashidin, Al Imam Ibnu Qudamah)

B.       BAHAYA HASAD
Telah disebutkan sebelumnya mengenai bahaya dan akibat hasad secara sekilas. Di samping itu semua, masih banyak bahaya yang ditimbulkan oleh hasad, di antaranya:
  1. Dengan hasad, seseorang berarti membenci apa yang telah ditakdirkan oleh Allah ta’ala secara kauni bagi saudaranya.
  2. Sesungguhnya hasad dapat memusnahkan banyak kebaikan sebagaimana api memakan kayu karena orang yang hasad akan berusaha menjauhkan orang lain dari saudaranya dengan menyebutkan perkara-perkara yang dibenci saudaranya. Demikian pula dia merendahkan kedudukan saudaranya dan ini merupakan dosa besar yang dapat menghilangkan kebaikan.
  3. Orang yang hasad dadanya akan terasa sempit, sesak, dan seolah-olah api membakar dadanya. Setiap kali Allah ta’ala memberikan nikmat kepada saudaranya hatinya marah dan sempit, sehingga orang yang seperti ini kapan dia akan mendapatkan ketenangan hati?
  4. Hasad merupakan perangai orang Yahudi. Oleh karena itu, seorang yang hasad berarti dia telah menyerupai perangai Yahudi, sebagaimana disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Barangsiapa bertasyabbuh (menyerupai) seuatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka” (HR Ahmad, Abu Dawud dengan sanad hasan)
  5. Orang yang hasad sekalipun dia memperkuat kedengkiannya, dia tetap tidak akan mampu menghilangkan nikmat Allah ta’ala kepada saudaranya –kecuali atas kehendak Allah-.
  6. Sifat hasad akan mengurangi tingkat kesempurnaan iman seorang hamba, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak sempurna iman seorang dari kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya apa-apa yang ia cintai untuk dirinya.” (HR Bukhari). Orang yang hasad tentu imannya tidak sempurna karena dia mencintai nikmat tertentu ada pada dirinya sementara dia membenci nikmat tersebut ada pada saudaranya.
  7. Hasad menyebabkan seseorang berpaling dari meminta keutamaan dari Allah ta’ala. Dia selalu menginginkan nikmat yang ada pada saudaranya tanpa meminta karunia Allah ta’ala yang lainnya. Allah ta’ala berfirmanŸ
, “Janganlah kamu iri hati atas apa yang Allah karuniakan kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain (karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, begitu pula bagi wanita. Dan mintalah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya”  (Q.S. An Nisa’ : 32)

  1. Dengan hasad, seorang berarti mengabaikan nikmat-nikmat yang Allah ta’ala berikan kepada dirinya sehingga dia memandang rendah nikmat-nikmat Allah tersebut dan tidak mensyukurinya, sehingga dia bisa menjadi orang yang kufur nikmat.
  2. Hasad adalah akhlak yang tercela. Karena dengan hasad seseorang akan senantiasa menjauhkan masyarakat dari orang yang dia dengki.
  3. Apabila seorang dengki kepada orang lain, maka orang yang ia dengki akan mengambil kebaikan-kebaikannya pada hari kiamat. Apabila kebaikan-kebaikannya habis, maka kejelekan-kejelekan orang yang ia dengki akan ditimpakan kepadanya.
فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ
Sesungguhnya ORang yang bangkRut daRi umatku adalah seseORang yang datang pada haRi Kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa dan zakat, namun dia juga peRnah mencela seseORang, menuduh, memakan haRta manusia, menumpahkan daRah dan menganiaya. Maka ORang-ORang yang peRnah dizhalimi teRsebut dibeRi pahala-pahala dia; jika telah habis pahalanya sebelum semua kezhaliman teRbayaRkan, maka akan diambilkan dOsa daRi ORang yang peRnah dizhalimi, kemudian dibeRikan kepada diRinya; akhiRnya dia akan dilempaRkan ke dalam neRaka.” (HR. Muslim)

مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ مَظْلِمَةٌ لِأَخِيهِ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهَا فَإِنَّهُ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُؤْخَذَ لِأَخِيهِ مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَخِيهِ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ
BaRangsiapa yang peRnah beRbuat zhalim pada saudaRanya, hendaklah segeRa meminta kehalalan (maaf) kaRena di sana (di akhiRat) tidak beRlaku diRham dan dinaR, sebelum diambil kebaikannya untuk dibeRikan kepada saudaRanya (yang dizhalimi). Apabila dia tidak memiliki amal kebaikan, maka akan diambilkan daRi dOsa saudaRanya (yang dizhalimi), kemudian dialihkan untuk diRinya.”
(HR. Muslim)

Demikianlah hasad. Apabila sifat ini tumbuh subur dalam hati seorang hamba seperti benalu bagi yang membiarkannya tumbuh. Dia akan senantiasa menambah rasa sakit dalam jiwa seorang hamba serta berusaha mengusik ketenangan ruh yang akan melahirkan adu domba dan permusuhan. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memperingatkan kita dengan sabdanya “Janganlah kalian saling membenci, janganlah kalian saling mendengki, janganlah kalian saling membelakangi. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang saling bersaudara.” (HR Muslim).

“Sungguh beruntung orang orang yang menyucikan hatinya, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya” (Q.S. Asy Syams: 9).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar