Showing posts with label Bandung. Show all posts
Showing posts with label Bandung. Show all posts

Monday, August 7, 2017

GRAFIKA CIKOLE ; Camping Ceria Bersama Keluarga


Lembang merupakan lokasi yang banyak sekali destinasi wisata yang bisa dikunjungi, khususnya wisata alam untuk liburan keluarga dan kerabat. Terminal wisata grafika cikole adalah tempat wisata, restoran serta penginapan di lembang yang berada di kaki gunung dengan ketinggian 1400 meter di atas permukaan laut. Terbukti kawasan wisata ini selalu dipadati wisatawan,alah satunya untuk melakukan aktifitas outbound,baik bersama keluarga,sekolah maupun instansi.Selain itu tempat ini juga sering dijadikan lokasi pegambilan foto prewedding,

Ada beberapa spot yang bisa dinikmati para wisatawan yang berkunjung ke tempat ini, di antaranya :
Saung lesehan merupakan rumah makan pondok terbuka yang dibangun menyerupai saung di persawahan dimana lantai saung lesehan menggunakan kayu dengan pagar setinggi betis dan beratap rumbia. Letak saung lesehan ini diapit bukit hutan pinus dengan suasana yang asri dan ditujukan bagi tamu perorangan maupun keluarga. Pendopo hutan merupakan bangunan yang berada di alam terbuka di kawasan hutan pinus di atas bukit.





Pendopo Hutan merupakan fasilitas yang disediakan bagi tamu pondok wisata dengan kapasitas mencapai 100 orang. Restoran sunda dengan balkon menghadap ke arah bukit hutan pinus merupakan restoran yang berada di bagian paling depan Terminal Wisata Grafika Cikole dengan kapasitas 200 orang dan dilengkapi live music, 16 toilet, musholla dan area parkir yang dapat menampung 24 bis wisata.

Restoran sangkuriang dimana pada sayap bangunan Restoran Sangkuriang ini terdapat balkon yang menghadap ke kawasan hutan pinus yang berada di atas bukit. Dekorasi bangunan Restoran Sangkuriang memiliki nilai artistik dengan konsep mengadopsi atmosfer pulau Bali. Tempat ini sangat representatif untuk tamu-tamu wisatawan asing dengan penyajian buffet atau set table dan dapat menyediakan kesenian tradisional seperti kesenian angklung, tari jaipong. Restoran di lembang ini sangat direkomendasikan untuk anda yang ingin menikmati santapan dengan suasana alam pedesaan lembang.

Aula Daayang Sumbi dapat digunakan tamu wisata rombongan dengan kapasitas 600 orang dengan bangunan yang mengadopsi bangunan balai desa di Jawa Barat dengan furnitur kayu berupa meja kayu dan bangku kayu panjang. Kini tersedia paket wisata Jungle Tracking dengan rute melewati hutan pinus dan berkeliling desa melewati perkebunan sayur, kebun mawar dan rumah budidaya jamur dan goa kelelawar. Anda bisa berbelanja hasil kebun langsung dari petani sambil menikmati udara bersih pegunungan yang diselimuti kabut pagi hari. Jangan lupa membawa kamera untuk mengabadikan moment istimewa.

Untuk tiket masuk ke lokasi ini pengunjung akan dikenai biaya Rp. 15.000 per orang, belum termasuk wahana yang ada di dalam seperti sewa penginapan, sewa camping ground, sewa tenda, Flying fox, Paint Ball, ATP dan yang lainnya. So, Jadikan liburanmu menyenangkan.


Sumber tambahan : http://grafikacikole.com/

Monday, June 19, 2017

TAMAN LEMBAH DEWATA LEMBANG

Taman Lembah Dewata merupakan lokasi wisata yang berada di daerah Lembang kabupaten Bandung Barat provinsi Jawa Barat. Pertama datang ke lokasi ini pada tanggal 18 Mei 2017 lalu. Di lokasi ini terdapat area danau yang mengingatkan saya dengan Situ Cisanti, karena memang mirip dari segi tampulan danau. Namun danau ini lebih kecil karena sebenarnya danau ini merupakan penampungan air hujan. Lain halnya dengan Cisanti yang merupakan sumber mata air sekalugus hulu sungai Citarum. Selain menikmati pemandangan danau yang sejuk dengan pemandangan gunung puteri di sebelah utara danau, pengunjung juga dapat menikmati fasilitas berkuda.lokasi ini memang cocok untuk bersantai dan berfoto-foto. Apa lagi bagi pengunjung yang berasal dari luar daerah Bandung, bisa jalan-jalan ke sini dari pada bosan diam di penginapan. Bagi warga Bandung yang belum pernah ke sini pun, apa salahnya untuk mencoba hunting ke tempat wisata yang masih terbilang baru.



Untuk sampai ke tempat ini, lokasi ini berada di lokasi yang tidak jauh dari jalan raya Lembang – Subang. Lebih tepatnya di jl.Tangkkuban Parahu, sebelum Balai Penelitian Tanaman dan Sayuran (BALITSA). Tiket untuk masuknya pun cukup murah yaitu hanya dengan Rp 10.000 saja sudah termasuk dapat minuman. Happy Travelling

BABAKAN SILIWANGI

Babakan Siliwangi atau biasa disebut Baksil oleh para pengunjung yang datang ke sana, merupakan hutan kota yang berada di daerah sekitar lingkungan Sasana Budaya Ganesha (Sabuga). Lokasi hutan kota tersebut biasa dikunjungi oleh para seniman-seniman dari Institut Teknologi Bandung (ITB) karena di lokasi tersebut juga terdapat beberapa sanggar seni, khususnya sanggar seni lukis. Tidak sedikit pula orang-orang yang menggunakan lokasi tersebut untuk acara foto pre wedding. Ditambah lagi, baru-baru ini di lokasi ini dibangun sebuah sky walk sebagai fasilitas para pengunjung baik dari warga Bandung  sendiri maupun juga dari luar Bandung. Semakin ramai saja hutan Baksil dengan para pengunjung yang datang. Apalagi dengan tidak dikenakan biaya masuk. Hanya bermodalkan uang parkir kendaraan saja, kita bisa menikmati hutan kota Bandung dengan berjalan di atas Sky Walk di sana. Untuk berkunjung ke sana, hutan babakan Siliwangi ini berada di jalan Siliwangi kota Bandung, tepat di samping gedung Sasana Budaya Ganesha Bandung. Happy Travelling.


Friday, December 30, 2016

SEJARAH SIGKAT ISLAM DI KABUPATEN BANDUNG

sumber : bandungkab.go.id
Penyebaran Islam di Kabupaten Bandung berkembang secara pesat setelah adanya dominasi kekuasaan Kesultanan Banten, Cirebon, dan Mataram menggantikan peran kekuasaan system kerajaan. Runtuhnya kerajaan Pajajaran beserta kerajaan-kerajaan kecil dibaeahnya, diikuti pula dengan perubahan tatanan dalam sister religi, masyatakat Kabupaten Bandung.

Selain menguasai pusat-pusat pemerintahan, puseur dayeuh atau lingkungan keratin, pihak kesultanan Banten, Cirebon dan Maaram pun,  kemudian menguasai tempat-tempat yang dianggap suci yang disebut mandala atau  kabuyutan. Ada juga yang menyebutnya tanah kaintar, artinya tempat yang dideklarasikan atau disucikan dalam ajaran lama masyarakat Sunda pada masa itu.

Penguasaan kabuyutan  sebagai pusat ajaran lama, oleh pihak kesultanan melalui para utusannya yang terdiri dari para juru dakwah, ulama, seniman, atau kaum Muslim lainnya, kemudian dijadikan sebagai titik-titik penyebaran dan perluasan ajaran agama Islam. Tampak sekali, dari beberapa situs cagar budaya, seperti Cijambe, Pasirmiri-miri, Pangudar, Ngabehi, Sumur Bandung, Sukaraja, dan lain-lain, berdasarkan silsilahnya selalu dikait-kaitkan dengan tokoh-tokoh yang berasal antara Kesultanan Mataram, Cirebon, dan Banten.

Penyebaran Isalm di wilayah Kabupaten Bandung pada pertengahan abad ke-16 dan abad ke-17, selain dilakukan oleh tokoh-tokoh yang berasal dari Kesultanan banten, Cirebon, dan Mataram, juga ada yang dilakukan oleh pribumi atau para keturunan Prabu Siliwangi, yaitu:
1.       Kean Santarng yang melakukan Islamisasi di wilayah Rancabali (Patenggang), Ciwidey (Sinapeul), Soreang (Gunung Sadu) hingga daerah Munjul (Baleendah).
2.       Kertamanah yang melakukan Islamisasi di daerah Pasirjambu (Kabuyutan).
3.       Paku Jaya yang melakukan Islamisasi di daerah Ciwangi-Cipaku, Kecamatan Paseh.
4.       Dipati Ukur, yang melakukan Islamisasi di daerah Kertasari (Gunung Wayang), Cikondang (Gunung Tilu), Pacet (Pabuntelan dan Tenjonagara).


Jika pada masa klasik atau jaman kerajaan-kerajaan yang berpola kepercayaan asli bercampur Hindu/Budha, kabuyutan memiliki peran penting yang mendampingi peran keratin dalam bidang pendidikan mental spiritual, dan dianggap sebagai tempat suci, maka sejak adanya perluasan penyebaran agama Islam secara tradisional. Status kabuyutan sebagai tempat suci dan sacral perlahan terkubur. Berbagai sarana/prasarana yang menjadi media ajaran lama, seperti punden berundak, arca, sanggah, lingga, dan yoni, banyak lenyap. Ada kemungkinan dilenyapkan. Dan kemudian mengikuti disesuaikan dengan budaya-budaya pesantren yang bertolak kepada ajaran yang bersumber dari Al Quran dan Hadits. Hal ini bias ditemukan dari adanya jenis-jenis kesenian buhun yang masih tersisa.

Saturday, September 10, 2016

BUKIT TELETABIS DI BANDUNG?

Sabtu sore 16 Juli 2016, saya melakukan perjalanan menuju bukit Teletabis di daerah Cicalengka kabupaten Bandung. Nama Bukit Teletabis tentu saja warga yang menamai bukit itu karena sepintas mirip bukit dalam film Teletubbies. Saya dan kawan-kawan berangkat dari komplek tempat kami tinggal di daerah Cileunyi menuju Cicalengka menggunakan kendaraan pribadi alias motor karena biar cepat sampai dan terhindar dari macet. Benar, jalan macet karena sedang musim arus balik mudk lebaran.

Bukit Teletabis ini lokasinya tak jauh dari lokasi air terjun Curug Cinulang. Jika dari arah Cileunyi, tentunya melalui jalan raya Bandung –Garut, melewati daerah Rancaekek. Terus saja melaju hingga sampai di daerah bypass Cicalengka. Tak jauh dari jalan memasuki bypass, tengok ke sebelah kiri jembatan bypass ada jalan yang mengarah ke kiri bawah dengan plang hijau bertuliskan “Aki Enin”. Ikuti saja jalur itu. Yakin ga bakalan nyasar, karena hanya ada jalur itu saja untuk sampai ke Curug Cinulang dan Bukit Teletabis. Sekitar 8 km menempuh jalur itu, sampailah di Curug Cinulang. Bagi yang ingin mampir dulu ke Curug Cinulang, akan dekenakan biaya masuk Rp 5000 / orang dan Rp 2000 untuk parkir kendaraan.

Lajut perjalanan menuju Bukit Teletabis hanya sekitar 700 m dari Curug Cinulang terdapat tanjakan  single track di sebelah kanan dengan bertuliskan Teletabis. Jika tidak sehabis diguyur hujan, bisa saja motor dibawa ke atas hingga sampai ke lokasi bukitnya. Tapi jika jalannya sehabis diguyur hujan, tidak memungkinkan membawa motor ke atas karena jalan akan menjadi sangat licin dan berbahaya jika menggunakan motor. ikuti terus jaur single track tersebut hingga sapai di bukitnya. Jika menggunakan motor hanya membutuhkan waktu 10 menit tanpa ada biaya masuk namun akan dikenakan biaya parkir Rp 5000 pr motor. Namun jika berjalan kaki diperkirakan akan sampai dalam waktu 45 menit bahkan 1 jam.

Sesampainya di uncak bukit, pengunjung akan disuguhi dengan pemandangan yang luar biasa dengan hamparan hijau yang luas sekali. Di puncak bukit tersebut tak sedikit juga orang yang memilih untuk camp karena memang di puncak bukit tersebut terdapat tulisan “Camp Area”. Itulah perjalanan singkat saya dan kawan-kawan di Bukit Teletabis. Jika berminat, tunggu apa lagi, keburu musim hujan. Jika berkunjung, tetap jaga kelestarian lingkungannya dan jaga kebersihan lokasi tersebut agar tetap menjadi lokasi kunjungan yang bersih, asri, dan nyaman.


KAREUMBI MASIGIT


Kawasan Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi, patut dicoba untuk rekreasi sekaligus mengenalkan pelestarian lingkungan kepada keluarga. Ternyata tidak jauh dari daerah temat saya tinggal ad ataman buru yang cocok untuk tempat camping dan rekreasi keluarga. Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi adalah sejak tahun 1976 di tetapkan sebagai hutan dengan fungsi Taman Buru yang merupakan satu-satunya taman Buru se jawa-Bali. Pada tahun 2008, WANADRI dan BBKSDA Jabar bekerjasama untuk mengoptimalisasi pengelolaan kawasan yang lestari.

Untuk anda yang ingin berkemah di Camping ground , anda bisa menyewa lokasi dengan donasi Rp.800.000 /malam. Camping ground dibagi menjadi 3 lokasi. Ground A, ground B, ground C. untuk di lokasi ground A dan B, pengunjung bias memasang listrik dengan dikenakan biaya tambahan Rp.300.000. untuk lokasi ground C tidak bias menggunakan listrik karena lokasinya yang terlalu jauh dan dalam. Di lokasi ini juga menyewakan tenda, apabila anda tidak ingin membawa tenda, di kenakan biaya Rp.80.000/malam dengan kapasitas 4 orang. Sementara itu untuk tenda kapasitas 10 orang di kenakan donasi Rp.175.000/malam.

Pengunjung bisa menyewa Rumah pohon 4 unit dengan donasi Rp. 2.300.000/malam, kelebihannya apabila Anda membooking sekaligus , pengelola dan tamu yang lain tidak boleh masuk tanpa seizin yang sedang menyewa. Untuk lokasi rumah pohon ini, terdapat 4 unit rumah dengan 3 rumah kapasitas 8 orang dan 1 rumah untuk kapasitas 6 orang. Tidak harus menyewa semuanya, jika hanya perlu 1 rumah saja, bias menyewanya satuan. Untuk anda yang ingin menyewa 1 unit rumah pohon juga bisa, rumah pohon dengan kapasitas 8 orang di kenakan biaya sewa Rp.550.000/ malam. Sedangkan untuk kapasitas 6 orang di kenakan biaya sewa Rp.450.000.

Lokasi Kareumbi Masigit ini berada di daerah Cicalengka. jika dari arah Cileunyi, arahkan saja kendaraan ke arah Cicalengka dan terus menuju Curug Cinulang, karena lokasi ini berada setelah lokasi Curug Cinulang dan Bukit Teletabis. 


Tambahan Sumber :

Friday, February 19, 2016

Kemegahan Curug Malela Bandung Barat

Kali ini saya dan kawan-kawan mendatangi wisata air terjun di Bandung yang katanya disebut-sebut sebagai miniatur Niagara. Wisata tersebut bernama Curug Malela. Berada di Sindangjaya, Gununghalu, Kabupaten Bandung Barat. Kami bertiga berangkat pagi jam 06.30 dari Cileunyi dengan menggunakan sepeda motor saja. Berbekal makanan dan minuman secukupnya, kami tak menyangka jika perjalanan dari Cileunyi menuju lokasi Curug Malela menempuh 95km. wow. 4 jam perjalanan. Lama ya? Ya lama karena kami istirahat beberapa kali. Tapi rasa lelah kami terbayarkan dengan view curug yang begitu luar biasa.

Di lokasi Wisata ini,selain menikmati keindahan curug setinggi 60 meter serta lebar 70 meter ini,para pengunjung pun bisa bermain di sepanjang aliran sungai di bawah air terjun dan berenang. Tak lupa pastinya untuk mengabadikan moment bersama kawan-kawan untuk berfoto di sana. Airnya udah pasti dingin dan sejuk. Sayang kalo datang ke sini tanpa mencoba berenang di kaki air terjunnya.


Untuk sampai ke lokasi wisata ini, jika datang dari arah kota Bandung, terus saja sampai ke Cimahi, lanjut lagi ke arah Padalarang sampai menemukan pertigaan dengan tulisan Curug Malela ke arah kiri. Ikuti terus saja jalan itu karena tidak susah menemukan jalurnya. Banyak petunjuk arah yang akan mengarahkan kita menuju lokasi curug. Meski banyak persimpangan jalan, tapi seperti yang sudah saya bilang tadi, banyak petunjuk arahnya untuk sampai ke curug Malela. Sekitar 15 km menuju lokasi, pengunjung akan menemui jalan yang rusak dan cukup menyiksa. Jadi saya sarankan untuk menggunakan motor trail hehe. Sesampainya di lokasi parkir, pengunjung mau tidak mau harus menempuh jalan kaki sekitar 1 km menuju curug dan menikmati keindahan miniatur Niagara yang Cuma ada di Bandung. Untuk tiket masuk, pengunjung akan dikenakan tiket masuk Rp 10.000 sudah termasuk 2 orang dan 1 motor.

Vandalisme di Gunung Batu Baleendah

Saat tahu bawah di Baleendah ada bukit batu yang tampak asik untuk didatangi, saya langsung tancap gas ke sana. Cuaca sedang terik-teriknya. Panas luar biasa.

Untuk sampai ke tempat ini karena saya datang dari Cileunyi atau yang datang dari arah Bandung, dari Jl. Soekarno Hatta belok kiri di perempatan Buah Batu. Lurus saja ikuti jalan sampai bertemu dengan pertigaan ambil arah dayeuh kolot dan bertemu lagi dengan pertigaan. Ambil belok kiri. Ikuti jalan tersebt dan ambil jalan yang mau ke arah Banjaran. Bertemu lagi dengan pertigaan (banyak ya pertigaannya, tapi sebenarnya tidaklah sulit) menuju Tugu Perjuangan Baleendah, lalu ikuti jalan sebelah kiri. Kurang lebih 500 meter, kamu bisa menemukan Gunung Batu Baleendah ini.

Sampailah kami di gunung ini. ternyata ini tempat penambangan batu. Saat siang hari yang begitu panas, para pekerja tetap saja bekerja membelah batu-batu hingga terpecah menjadi ukuran-ukuran yang diinginkan. Wah, demi sesuap nasi mereka begitu giat membelah batu meski saat terik matahari. Pemandangannya sebetulnya indah, hanya saja waktu itu masih musim kemarau sekitar seminggu setelah Idul Fitri 1436 H, jadi rumput-ruputnya begitu kering.  Hal yang sangat disayangkan juga, adalah coretan-coretan cat semprot yang dilakukan oleh para vandalisme yang tidak bertanggung jawab dan tidak mencintai alamnya.

Meski cuaca panas, kami tidak membuang waktu dengan berteduh. Langsung saja kami ambil spot bagus untuk mengabadikan foto. Masa jauh-jauh datang tapi ga ambil gambar hanya gara-gara cuaca panas. Biar panas tetap eksis. Tempat ini bukan tempat wisata jadi siapapun tidak akan dipungut biaya masuk atau biaya parkir. Meski gratis dan tidak dikelola oleh dinas pariwisata, kita sebagai warga masyarakat yang baik tetap wajib menjaga kebersihan dan kenyamanan lingkungan dengan tidak mersak atau menambah coretan di dinding-dinding batu sehingga mengurangi keindahannya.

Friday, October 9, 2015

TRIP KE SANGHYANG HEULEUT CIPATAT

Kamis pagi 8 Oktober 2015 kami berangkat dari cileunyi menuju Cipatat dengan perut yang sudah terisi dan juga perbekalan di dalam tas. Membawa banyak perbekalan karena kami tau perjalanan yang akan ditempuh akan menguras tenaga. Tujuan kami adalah  Sanghyang Poek dan Sanghyang Heuleut yang lokasinya dekat dengan PLTA Saguling.

Kami sampai di Power House PLTA Saguling sekitar pukul 09.30. sampai di portal, bilang aja ke POS satpam mau ke Sanghyang Heuleut nanti diarahkan ke POS berikutnya alias tempat untuk kita parker motor. jadi patokannya Power House PLTA aja ya. Dari lokasi parkir motor, intuk sampai ke lokasi Sanghyang Heuleut, kita harus melewati gua Sanghyang Poek terlebih dahulu dengan melewati jalan setapak di sisi sungai sekitar 10 menit untuk sampai ke Sanghyang Poek.

Sanghyang Poek
Gua Sanghyang Poek merupakan gua purbakala. Gua Sanghyang Poek ini seperti celah yang dibebani tebing tinggi. Sungai yang mengalir di depan Sanghyang Poek, aliran nya tenang, dan tidak terlalu besar. Banyak batu-batuan besar, yang pasti bikin kamu pengin tidur-tiduran dan gak beranjak dari situ. Setelah berfoto ria di sekitar gua Sanghyang Poek, kami melanjutkan perjalanan menyusuri sungai untuk sampai ke tujuan berikutnya yaitu Sanghyang Heuleut. Saran untuk rekan-rekan yangmau main ke sini, bawa perbekalan air yang banyak, karena dari lokasi gua Sanghyang Poek menuju ke Sanghyang Heuleut, harus berjalan kaki menyusuri sungai kurang lebih 1-2 jam, tergantung berapa lama dan berapa kali kita istirahat. Ada dua jalur untuk sampai ke Sanghyang Heuleut, yaitu berjalan dilawan arus sungai (arus sungainya juga kalem kok ga deras seperti di Sanghyang Tikoro), yang kedua melalui jalan setapak sebelah kanan sungai. Kalo mau cepet sampai ya pilih jalan setapak karena tidak harus melewati batu-batu, tapi jangan salah, jika memilih lewat jalur sungai banyak spot yang bagus untuk berfoto.

Sanghyang heuleut
Kami memilih jalan menyusuri sungai karena penasaran dengan tracknya dan tidak mau kehilangan kesempatan untuk berfoto selama perjalanan. Akhirnya setelah 1 jam lebih berjalan, kami pun sampai di lokasi Sanghyang Heuleut. Takjub dengan pemandangan di sana. Rasa cape karena perjalanan yang melelahkan terbayar oleh panorama yang keren di sana. Bagi yang mau berkunjung ke tempat ini, jangan di musim hujan karena arus sungai akan deras dan jalan menuju ke Sanghyang Heuleut akan tertutup disebabkan debit air yang tinggi. Have a nice trip.

Wednesday, June 17, 2015

FLOATING MARKET LEMBANG


Jika kita berkunjung ke lembang, Wisata Lembang memang tidak ada habisnya, salah satu tempat wisata di Lembang yang tergolong baru adalah Floating Market. Floating Market Lembang menawarkan wisata alam pedesaan yang asri dan sejuk, dilengkapi dengan segala keunikan yang dimilikinya. Floating Market Lembang mulai dibuka sebagai salah satu tempat wisata di Lembang pada tanggal 12 Desember 2012.



Floating Market Lembang beralamat di Jalan Grand Hotel No. 33E Lembang Jawa barat. tempat ini merupakan sebuah kawasan wisata seluas lebih dari 7 hektar dengan sebuah danau bernama Situ Umar yang menjadi pusatnya. Floating Market Lembang menawarkan keunikan berupa wisata pasar terapung satu-satunya disekitar Bandung. Pasang terapung adalah sebuah pasar yang berada di atas air, biasanya menggunakan perahu, seperti di Bangkok dan Kalimantan. Namun, Floating Market Lembang tidak seperti pasar terapung pada umumnya, karena tempat ini memiliki konsep wisata, bukan pusat perdagangan.

Floating Market Lembang memiliki berbagai pilihan makanan yang bisa kita coba nikmati. Stand makanannya ada yang model kios-kios, ada pula yang berjualan di perahu. Yang lebih famous tentu yang berjualan di perahu.

Pasar terapung di sini tidak berjualan sayur, buah, atau daging mentah, melainkan menjajakan berbagai jenis makanan dan jajanan yang enak, misalnya baso tahu, colenak, siomay, tahu lembang, surabi, sosis bakar, tempe mendoan, batagor, lotek, jagung bakar, karedok, otak-otak, ketan bakar, duren bakar, jamur, dim sum, dan lain-lain dengan harga mulai dari 5,000 Rupiah untuk makanan ringan sampai dengan 35,000 Rupiah untuk makanan yang lebih berat. Selain itu, perahu-perahu yang menjajakan berbagai jenis makanan ini juga sudah diatur dan diparkir dengan rapi, tidak seperti di pasar terapung tradisional yang berantakan, sehingga pengunjunglah yang akan mendatangi perahu-perahu ini. Total ada sekitar 46 perahu dengan dagangan yang berbeda-beda.

Pilihan makanan di Floating Market Lembang ini cukup bervariasi. Mulai dari makanan tradisional khas Sunda, sampai makanan modern ala western. Selain aneka jajanan, di sana juga terdapat berbagai permainan untuk anak-anak. Mulai dari permainan canoe-ing sampai permainan-permainan lainnya.


Harga tiket masuk wahana permainan di Floating Market Lembang bervariasi dengan kisaran harga mulai dari 10,000 Rupiah sampai dengan 70,000 Rupiah. Selain itu, juga terdapat restoran dan factory outlet di Floating Market Lembang.


Harga tiket masuk Floating Market Lembang adalah 10,000 Rupiah per orang, dan 5,000 Rupiah per mobil. Tiket masuk Floating Market Lembang yang sudah anda beli kemudian dapat anda tukarkan dengan berbagai jenis minuman hangat di dalam, pilihan minuman hangat yang ada yaitu Lemon Tea, Milo, Coffe latte, dan Choco Latte.


Untuk yang baru pertama kali datang ke Floating Market Lembang, tukar minumannya lebih baik di dalam aja, karena stand penukaran tiket dengan minuman tidak hanya di pintu masuk saja melainkan ada beberapa stand di dalam. Jadi jika belum terlalu haus, nanti saja setelah jalan-jalan atau membeli makanan.

Untuk sampai ke Floating Market bila menggunakan kendaraan pribadi anda bisa dari mana saja kemudian menuju arah Setia Budi dilanjutkan kearah Terminal Ledeng - Lanjut arah Lembang setelah sampai di Grand Hotel Lembang lanjut terus kedepan untuk memutar via pasar Lembang balik kearah Bandung dan sebelum Grand Hotel Lembang maka anda akan menemukan Lokasi Floating Market Lembang Bandung. Berwisata menggunakan sepeda motor semakin digemari saja oleh wisatawan yg tidak mau kena macet hanya saja kapasitas sepeda motor memang hanya bisa digunakan untuk dua orang saja, namun anda bisa mendapatkan pengalaman tersendiri ketika anda naik motor berewisata menjelajah kemana mana.

Sumber :


Tuesday, May 12, 2015

CURUG BATU TEMPLEK PASIR IMPUN, BANDUNG TIMUR

Di Bandung sudah beberapa curug yang saya kunjungi, di antaranya Curug Cinulang di Cicalengka, Curug Pelangi di Cisarua, Curug Kacapi di Cilengkrang, dan Curug Dampit di tebing Gunung Manglayang. Satu lagi curug yang saya kunungi di Bandung tercinta ini adalah Curug Batu Templek di Pasir Impun Bandung.

Keunikan Curug ini adalah aliran airnya keluar dari sela-sela bebatuan. Menurut para ahli Batu Templek ini merupakan fenomena menarik khas Cekungan Bandung yang pada ketinggian tertentu air mengalir dari sela-sela batuan beku.  Batu Templek merupakan jenis batuan metamorf yang terbentuk karena perubahan tekanan dan suhu yang tinggi atau panas bumi. Templek, lempeng atau yang lebih dikenal dengan Slate terbentuk dari lempung dan batuan shale. Dinamakan batu templek atau batu lempeng karena batu nya menyerupai lempengan tipis.

Tinggi curug Batu Templek ini diperkirakan berkisar atara 10-15 m, airnya berasal dari sungai yang berada di atasnya dan terpecah menjadi beberapa aliran. Pada saat saya di sana, alirannya tidak deras dengan volume air yang tidak cukup banyak, namun airnya keruh kemungkinan karena pada hari sebelumnya dari sore hingga malam hari hujan turun di daerah tersebut.

Di lokasi ini pengunjung bisa berfoto ria dengan teman dan keluarga. Tidak hanya di bawah saja, di bagian atas juga terdaat beberapa spot yang bagus untuk dijadikan sebagi spot berfoto. Yang pasti, jika ingin naik ke atas tentu harus berhati-hati dan disarankan menggunakan sepatu yang memiliki daya cengkram yang tinggi. Apalagi untuk pengunjung wanita disarankan untuk tidak menggunakan sepatu berhak tinggi.



Untuk sampai ke curug ini, masuk dari Jalan Pasir Impun, 200 m dari LP Sukamiskin ke arah Ujung Berung – Belok ke kiri. Terus ke atas kira-kira 2 km sampai ketemu Jalan Terusan Pasir Impun. Terus jalan ke atas kira-kira 1,5 km sampai ke Jalan Cisanggarung, letak Air Terjun Batu Templek terletak di Jalan ini. Perhatikan di sebelah kanan ada jalan yang menuju ke bawah di daerah yang banyak pohon bamboo, mabil jalan itu karena jalan itu akan mengarahkan kita ke curug.

Curug Batu Templek ini awalnya tidak dipungut biaya masuk ataupun pakir, namun karena banyaknya pengunjung yang tertarik untuk datang dan melihat serta menikmati view nya, sekarang tempat ini sudah menjadi tempat wisata yang dikomersilkan dengan biaya tiket masuk Rp 5000 per orang dan biaya parkir Rp 5000 per kendaraan.


Sumber :

Tuesday, April 28, 2015

Pemakaman PANDU

Makam Pandu merupakan salah satu makam tertua di Bandung, yang kini menjadi taman pemakaman umum. Umumnya yang dimakamkan disini beragama non muslim. Pemakaman Pandu sendiri bisa dibilang unik, karena berisi makam dengan latar dan budaya yang berbeda serta menyimpan banyak kisah sejarah dari tokoh-tokoh yang dimakamkan disana.

Makam Freemason
Di komplek pemakaman ini terdapat pula sebuah makam dengan simbol Freemason yang berupa jangka dan mistar yang saling bertumpuk. Kondisi makam tersebut sudah tertutup rerumputan dan tidak akan terlihat jika saja rumput nya tidak dibersihkan. Tidak ada infomasi yang tercantum dalam nisannya, tidak ada nama maupun tulisan. Dan menurut kabar yang saya dengar, sudah tidak ada lagi yang mengurus makam tersebut, sehingga sewaktu-waktu makam tersebut bisa digusur kapan saja.


Makam Schoemaker
Nama schoemaker mungkin terdengar tidak asing, tapi bukan merujuk pada pembalap terkenal asal Jerman, melainkan seorang arsitek berkebangsaan Belanda yang karya-karyanya menjadi ikon Kota Bandung seperti Gedung Merdeka, Observatorium Bosscha, Villa Isola (Rektorat UPI), Hotel Preanger, Gedung Jaarbeurs, dan masih banyak lagi.


Mausoleum Ursone

Makam yang paling berbeda dari yang lain, karena penampakanya yang paling menonjol. Ursone sendiri adalah seorang peternak sapi perah dan pemilik industry susu di Lembang. Bandung Milk Center (BMC) yang distributornya bisa dijumpai di Jalan Aceh merupakan peninggalannya. Selain memiliki peternakan sapi, Ursone juga memiliki banyak tanah Di lembang, salah satunya adalah Observatorium Bosscha yang lahannya merupakan hibah dari Ursone.


Makam Raymond Kennedy
Sekilas makam tersebut tampak bak batuan dari zaman megalithikum di tengah rimbunnya semak. Padahal di balik semak tersebut tersimpan informasi yang sudah aus mengenai orang yang suka disebut John padahal Raymond. Bekas plakat tercetak pada batu tersebut. Mungkin ini kerjaannya kolektor karena hasilnya rapi.

Raymond Kennedy merupakan pendukung kemerdekaan Indonesia. Dia seorang ilmuwan lagi humanis. Berdasarkan penelusuran Mang Asep, Kennedy lahir pada 6 Desember 1906. Setelah lulus dari Yale pada tahun 1928, dia bekerja di General Motor regional Asia Tenggara sebagai salesman. Dia mulai tertarik dengan kebudayaan dan orang Indonesia ketika bekerja di Indonesia. Dia pun mengambil keputusan untuk mempelajari teknologi dan antropologi di Yale. Dia merupakan pionir pusat studi Asia Tenggara di Yale, mengumpulkan semua terbitan mengenai Indonesia di sana, serta menjadi konsultan bagi AS mengenai pemerintahan Hindia Belanda.


Makan Laci

Makam di komplek ini memiliki bentuk yang unik. Di sini makam-makam disusun seperti lemari dengan laci-laci yang berderet dua tingkat sehingga membentuk sebuah dinding yang penuh dengan nisan. Nisan-nisan yang terpasang memiliki bentuk yang hampir mirip, umumnya persegi panjang, tetapi sebagian dari nisan-nisan tersebut sudah tidak terbaca lagi tulisannya, bahkan ada beberapa laci yang dalam kondisi rusak dan terbuka.


Makam keluarga Tan
Marga Tan merupakan salah satu marga China paling terkenal di Indonesia. Tan yang dimaksud di sini adalah seorang pengusaha dari Semarang yang pindah ke Bandung. Istrinya membuka usaha batik lalu perusahaan keluarga ini menjadi besar dan terkenal. Dia membangun rumah megah dan termasuk orang pertama di Bandung yang memiliki mobil. Peninggalannya bisa ditemui di Jalan Kebonjati, yaitu Hotel Surabaya. Hal yang biasa di semua kota besar di Pulau Jawa apabila kita menemukan hotel dinamai dengan nama kota di dekat stasiun utama. Misalnya jika orang Cirebon mampir ke Bandung, dia bakal menginap di Hotel Cirebon. Yang agak aneh adalah di Bandung ternyata ada Hotel Bandung juga.

Tan memiliki seorang anak gadis yang terlibat dalam percintaan yang tidak dikehendaki orangtuanya. Kasus itu menjadi aib dan omongan banyak orang, apalagi karena melibatkan keluarga terpandang. Saking sensasionalnya, kisah ini dibukukan dengan judul “Rahasia Bandung” (atau “Rasia Bandung”).

Tan lahir di Amoy di China Selatan. Di pulau inilah seorang pejuang Indonesia, Tan Malaka, tinggal cukup lama. Di sana Tan Malaka mengajar bahasa Mandarin, Prancis, dan Jerman, serta menulis buku “Menuju Republik Indonesia Merdeka” dalam bahasa Belanda.


Sumber :
http://debookbug.blogspot.com/2012/02/tak-sekadar-makam-menilik-makam-pandu.html

SITU CIBURUY "Laukna Hese Dipancing"

expresiku.blogspot.com
“Situ Ciburuy laukna hese di pancing…”. Kenal dengan lirik lagu ini?? Ya, Situ Ciburuy adalah sebuah danau yang diabadikan dalam sebuah lagu sunda. Bagi para pecandu wisata danau, tentunya jangan sampai melewatkan danau yang satu ini. Ya, danau ini bernama Situ Ciburuy. Situ Ciburuy ini terletak di Padalarang, kabupaten Bandung Barat sekitar 22 km dari kota Bandung. Lokasinya begitu strategis sehingga mudah sekali untuk dicapai.

Situ Ciburuy memiliki luas sampai 25 hektar dengan pulau yang begitu rindang di tengah-tengahnya. Pemandangan alamnya begitu menakjubkan. Situ Ciburuy kini sudah ditata lebih rapi, antara lain dengan memperbaiki jalan masuk ke tepi danau. Kita juga bisa menikmati beberapa fasilitas yang ada di sana, seperti kedai-kedai makanan dan minuman, buah-buahan, cenderamata, pentas kesenian, rumah makan dan fasilitas untuk berperahu.

jabarprov.go.id
Setiap pengunjung cukup mengeluarkan Rp 7.500 maka sudah bisa menikmati sajian wisata air situ yang cukup jernih. Dengan biaya murah, kita bisa memanjakan mata kita dengan pemandangan alamnya yang sangat indah dan eksotis. Pengunjung bisa menyewa perahu yang sudah tersedia di tepi danau untuk memuaskan rasa penasaran pengunjung pada lokasi wisata ini.

Untuk perahu tradisional dengan kapasitas lima orang, pengunjung cukup membayar Rp 50 ribu untuk satu kali putaran. Ada juga perahu paket hemat, yakni perahu angsa dan perahu kayuh dengan tarif sewa Rp 20 ribu berkapasitas dua orang untuk satu kali putaran.

Mitos Mitos
Seperti yang kita ketahui bahwa biasanya budaya peninggalan zaman dahulu selalu meninggalkan mitos-motos yang ada si sekelilingnya, tak terkecuali Situ Ciburuy ini. berikut adalah beberapa mitos yang masih beredar di Situ Ciburuy Padalarang.

Ikannya susah dipancing
Ya, bukan hanya pada saat ini, fenomena ini sudah ada ratusan tahun yang lalu, seperti diabadikan dalam sebuah lagu sunda di atas yang berjudul Bubuy Bulan. Sebait lirik tersebut memperlihatkan, bahwa memang ikan di sini sangat susah untuk dipancing. Dan konon, hanya pribumi asli yang mampu memancing ikan di situ tersebut. Wah, penasaran? Coba saja memancing di sana hehe..

Ada pusaran di bawah situ
Pada saat-saat tertentu, sering mucul pusaran air di tengah-tengah situ tersebut, namum kapan terjadinya, masih menjadi misteri.

Dilarang pacaran
Bagi mereka yang berpasangan, terdapat pantangan untuk mengunjungi situ tersebut, terutama pada hari Jumat dan Sabtu. Konon, bagi mereka yang keukeuh kesana, maka hubungannya tidak akan langgeng (dikutip dari Sumber)

Sejarah situ Ciburuy memang sangat panjang, di sini juga terdapat keris, bende (lonceng yang terbuat dari perunggu, kujang) senjata khas Jawa Barat, trisula, tombak, dan tulisan Jawa kuno yang ditulis Prabu Kian Santang.

Mitos ini adalah yang ucapan yang ada turun-temurun, bagi Anda yang ingin menikmati keindahan situ Ciburuy, tidak usah ragu disebabkan mitos itu, langsung saja datang dan nikmati panorama di sana.



Monday, April 6, 2015

CURUG CINULANG : Air Terjun di antara dua kabupaten


Curug Cinulang adalah lokasi wisata air terjun yang terletak di sebelah timur Kabupaten Bandung dan berbatasan dengan bagian barat Kabupaten Sumedang, Jawa Barat (Jabar). Curug Cinulang mempunyai dua air terjun dengan ketinggian 50 meter. Yang pertama adalah air yang alirannya deras. Di sampingnya ada air terjun yang merupakan pecahan debit air yang lebih kecil. Sementara itu, 30 meter ke barat terdapat aliran air dari dinding tebing di selatan. Air terjun kedua tersebut tidak sebesar dan sederas air terjun pertama. Ketinggiannya juga lebih rendah, yakni sekitar 15 m.

Sebelum sampai ke lokasi curug

Curug Utama dengan tinggi 50 m

Curug kecil sebelah barat curug utama
dengan tinggi 15 m
Karena derasnya air yang mengalir di kedua air terjun ini, mengakibatkan jarang ada pengunjung yang berani berada didekatnya. Umumnya mereka lebih memilih bermain dengan jarak sekitar 5 meter dari kolam limpahan air atau menikmatinya dari jembatan yang melintasi Sungai Citarik (aliran air di bawah Curug Cinulang). Sebagai catatan, selain air terjun di kawasan wisata ini juga terdapat tempat bermain anak yang letaknya berada di atas bukit di seberang Sungai Citarik.

Jika tak membawa bekal makan dan minum, Anda tak usah khawatir. Di sekitar lokasi air terjun, banyak pedagang yang siap menyajikan berbagai minuman ringan dan makanan kecil. Namun sayang, kepedulian akan kebersihan masih kurang di lokasi wisata ini. Terbukti dari masih banyaknya sampah yang berceceran. Biasanya obyek wisata ini dipadati pengunjung usai Lebaran. Tak terkecuali untuk liburan akhir pekan, jumlah pengunjung juga naik.

Untuk sampai ke lokasi wisata ini, dari Kota Bandung kira-kira bisa ditempuh dengan waktu kurang lebih 1,5 jam menggunakan jalur tol Cileunyi dan kemudian meneruskan perjalanan ke arah Cicalengka, sepanjang jalan Bypass Cicalengka, lihatlah ke sebelah kiri. Jika melihat plang tulisan Pondok Wisata Aki Enin, maka ambil jalur ke bawah jalan Bypass menuju Curug Cinulang yang searah dengan Pondok Wisata Aki Enin. Pengunjung  tidak akan mengalami kesulitan untuk menemukan lokasi Curug Cinulang karena jalan yang dilalui relatif ramai penduduk dan medan jalan yang relatif mudah serta lengkap dengan papan penunjuk jalan menuju Curug Cinulang. 

Setelah sampai di pintu gerbang kawasan wisata Curug Cinulang, petugas setempat akan meminta bayaran sebesar Rp5.000,00 per orang sebagai tiket masuk. Namun bagi yang membawa kendaraan bermotor, setelah sampai di areal parkir, ada petugas lagi yang meminta jasa parkir sebesar Rp3.000,00 per kendaraan. Selanjutnya, dari areal parkir diteruskan dengan berjalan kaki sekitar 100 meter hingga akhirnya sampai ke lokasi air terjun. Di sepanjang perjalanan menuju curug ini banyak ditemui warung-warung yang menjual makanan dan minuman maupun aksesoris khas tempat wisata.

Thursday, April 2, 2015

CURUG PELANGI a.k.a CURUG CIMAHI CISARUA BANDUNG


Curug Pelangi yang biasa kita kenal dengan Curug Cimahi ini terletak di Jalan Kolonel Masturi, Desa Kertawangi, Kecamatan Cisarua merupakan sebuah air terjun yang berasal dari aliran air sungai Cimahi yang berhulu di situ Lembang. Curug Cimahi memiliki ketinggian sekitar 87 m, terdapat di dataran tinggi Bandung Utara, tepatnya di Desa Kertawangi, daerah Cisarua Lembang. Tempat wisata Curug Cimahi dikelola oleh Perhutani.Jika pengunjung menggunakan GPS, maka Curug Pelangi ini dapat ditemui pada peta dan koordinat: 6° 47′ 56.58″ S 107° 34′ 39.34″ E.

Air terjun pelangi adalah sebuah inovasi baru dari pengelola tempat wisata curug cimahi, yaitu dengan menempatkan lampu-lampu berwarna yang sudah di desain sedemikian rupa di belakang air terjun curug cimahi sehingga dapat menyajikan pempengunjungngan yang luar biasa indah di malam hari, karena efek cahaya lampu tersebut yang dapat memancarkan beragam warna seperti warna pelangi. Lampu-lampu berwarna itulah yang menyebabkan air terjun menjadi ikut berwarna. Ketika tertimpa cahaya, sontak air terjun tersebut menjadi lebih eksotik daripada sebelumnya.

Untuk menikmati pempengunjungngan air terjun pelangi, pengunjung harus berkunjung ke tempat wisata Curug Pelangi pada sore/malam hari karena khusus air terjun pelangi akan dapat disaksikan mulai jam 5 sore hingga jam 9 malam.
Akses dari gerbang menuju curug

Air terjun yang  berada di areal tanah seluas 25,75 hektar itu menjadikan kawasan Perhutani Bandung Utara memiliki keindahan flora dan faunanya dapat Pengunjung nikmati sepanjang jalan menuju Curug Pelangi. Pengunjung bisa mendengar kicauan burung, selintas pengunjung pun bisa menyaksikan beberapa ekor monyet ekor panjang bergelantungan di dahan-dahan pohon.
100 m dari curug
20 m dari curug
Curug Pelangi saat malam hari. sumber foto: PERHUTANI

Rute Menuju Curug Pelangi
Untuk sampai pada tempat ini bisa diakses menggunakan kendaraan roda dua atau roda empat. Ada beberapa rute yang bisa dipilih untuk mencapai curug ini. Jika menggunakan kendaraan pribadi dan dari pusat Kota Bandung, cukup menyusuri Ssersan Bajuri, samping terminal Ledeng yang terlebih dahulu melewati kawasan Universitas Pendidikan Indonesia, lalu ke arah Universitas Advent Indonesia Cihideung menuju Cisarua dengan dan terakhir menuju terminal angkot Cisarua. Pintu masuk Curug Pelangi terletak tepat di sebelah terminal angkot Cisarua, di pinggir jalan Kolonel Masturi sehingga tidaklah sulit untuk mencarinya.

Sedangkan bagi yang menggunakan kendaraan umum dapat menggunakan jasa angkutan umum dengan jurusan Ledeng-Sukasari dari terminal Ledeng. Setelah sampai di Terminal Sukasari (di depan Vila Istana Bunga), dapat diteruskan dengan berjalan kaki sekitar 15-20 menit atau dapat memanfaatkan jasa angkutan umum Cisarua-Lembang dengan ongkos yang relatif murah. Jika dari kota Cimahi jalan termudah adalah dari Terminal Pasar Atas Cimahi jurusan Cimahi-Cisarua.

Balkon peristirahatan
Dan setelah sampai di depan pintu gerbang wana wisata ini perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menyusuri jalan setapak berundak yang menurun dan berkelok-kelok. Jalan setapak berundak ini (berjumlah sekitar 587 buah anak tangga) terbuat dari batu dan semen dengan kemiringan sekitar 45 derajat. Sebelum mencapai ke dasar curug, pengunjung bisa singgah di balkon sisi tangga menuju curug yang disiapkan oleh pengelola untuk beristirahat bagi pengunjung yang kelelahan atau yang ingin mengambil spot foto dengan latar curug dari atas. Terdapat dua balkon yang memiliki daya tampung yang berbeda. Balkon pertama memiliki daya tampung 16 orang dan yang kedua menampung maksimal 25 orang.

Tiket Masuk
Untuk masuk ke lokasi wisata curug cimahi dan air terjun pelangi, pengunjung harus membeli tiket:
Seharga Rp. 12.000,-/orang untuk pagi sampai jam 5 sore.

Seharga Rp. 15.000,-/orang untuk menikmati Curug Pelangi jam 5 sore – 9 malam