Showing posts with label Travel Taman. Show all posts
Showing posts with label Travel Taman. Show all posts

Monday, June 19, 2017

BABAKAN SILIWANGI

Babakan Siliwangi atau biasa disebut Baksil oleh para pengunjung yang datang ke sana, merupakan hutan kota yang berada di daerah sekitar lingkungan Sasana Budaya Ganesha (Sabuga). Lokasi hutan kota tersebut biasa dikunjungi oleh para seniman-seniman dari Institut Teknologi Bandung (ITB) karena di lokasi tersebut juga terdapat beberapa sanggar seni, khususnya sanggar seni lukis. Tidak sedikit pula orang-orang yang menggunakan lokasi tersebut untuk acara foto pre wedding. Ditambah lagi, baru-baru ini di lokasi ini dibangun sebuah sky walk sebagai fasilitas para pengunjung baik dari warga Bandung  sendiri maupun juga dari luar Bandung. Semakin ramai saja hutan Baksil dengan para pengunjung yang datang. Apalagi dengan tidak dikenakan biaya masuk. Hanya bermodalkan uang parkir kendaraan saja, kita bisa menikmati hutan kota Bandung dengan berjalan di atas Sky Walk di sana. Untuk berkunjung ke sana, hutan babakan Siliwangi ini berada di jalan Siliwangi kota Bandung, tepat di samping gedung Sasana Budaya Ganesha Bandung. Happy Travelling.


Friday, March 6, 2015

TAHURA Ir. H. DJUANDA BANDUNG


Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda Bandung
Kota bandung yang di riung ku gunung ini memiliki hitan raya yang begitu luas mencapai ratusan hektar di tengah kota Bandung yang kita kenal dengan Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda. Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda merupakan kawasan konservasi yang terpadu antara alam sekunder dengan hutan tanaman yang terletak di Kota Bandung, Indonesia. Luasnya mencapai 590 hektare membentang dari kawasan Dago Pakar sampai Maribaya.

Letak Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda berada di Kampung Pakar, Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan, pada ketinggian antara 770 mdpl sampai 1330 mdpl. Di atas tanahnya yang subur terdapat sekitar 2500 jenis tanaman yang terdiri dari 40 familia dan 112 species. Pada tahun 1965 luas taman hutan raya baru sekitar 10 ha saja, namun saat ini sudah mencapai 590 ha membentang dari kawasan Pakar sampai Maribaya. Saat ini pengelolaannya dilakukan oleh Dinas Kehutanan Pemda Provinsi Jawa Barat (sebelumnya berada di bawah naungan Perum Perhutani) (Sumber).

Terdapat beberapa titik di dalam kompleks hutan raya yang bisa dijadikan tujuan wisata, antara lain:

Curug Dago & Batu Prasasti Kerajaan Thailand
Curug Dago memiliki ketinggian terjunan air hanya sekitar 12 m saja dan berada di ketinggian sekitar 800 m di atas permukaan laut curug ini terbentuk dari aliran sungai Cikapundung yang mengalir dari Maribaya memasuki kota Bandung. Dengan lokasinya yang cukup tersembunyi, di daerah Bukit Dago di dalam kawasan Taman Hutan Raya (THR) Ir H Djuanda, Bandung, dan kurang ditunjang promosi wisata menyebabkan curug ini kian jarang dikunjungi wisatawan.  Tidak jauh dari lokasi air terjun, terdapat dua prasasti batu tulis peninggalan sekitar tahun 1818. Menurut para ahli sejarah, kedua prasasti tersebut konon merupakan peninggalan Raja Rama V (Raja Chulalonkorn) dan Raja Rama VII (Pradjathipok Pharaminthara) dari dinasti Chakri yang pernah berkunjung ke Curug Dago Sumber.

Kolam PLTA Bengkok
Sejak mulai beroperasi tahun 1923, Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Bengkok yang terletak tak jauh dari Taman Hutan Raya Juanda-Dago-Bandung, hingga kini masih berfungsi. Sejak pendiriannya, PLTA ini diberi nama oleh Belanda dengan sebutan Centrale Bengkok. Nama ini pun tetap dipertahankan mengiringi kokohnya bangunan khas Belanda yang melindungi PLTA tersebut. Hingga kini, bangunan kuno yang berdiri di areal lahan seluas 5 hektar ini, menjadi salah satu heritage milik rakyat Jawa Barat dan selalu dijadikan tujuan wisata oleh para pelajar atau wisatawan domestik lainnya (Sumber).

Monumen Ir. H. Djuanda
Di lokasi wisata ini terdapat pula Monumen Ir. H. Djuanda. Tempat ini merupakan prasasti dan museum peninggalan sejarah Ir. H Juanda. Bisa menambah banyak pengetahuan dan sejarah. Dari Museum dan monumen Ir.H Juanda pun bisa dipetik banyak inspirasi, melalui sejarah mantan Perdana Menteri Indonesia ke 10 ini, banyak hal yang patut kita teladani, berbagai sumbangan dan dedikasi terhadap bangsa dan negara di masa lalu sangat maksimal, sampai mengeluarkan Deklarasi Djuanda yang berpengaruh.

Goa Belanda
Belanda membuat terowongan ini untuk keperluan saluran air bagi pembangkit listrik tenaga air pertama di Indonesia yaitu PLTA Bengkok. Namun pada perkembangannya, air untuk pembangkit listrik kemudian disalurkan menggunakan pipa-pipa besar, sedangkan terowongan yang membelah bukit tersebut digunakan untuk kepentingan militer khususnya sebagai pusat telekomunikasi. Selanjutnya terowongan-terowongan tersebut ditambah sehingga di dalamnya menjadi lebih luas dengan beberapa lorong. Di dalamnya terdapat ruangan-ruangan lain yang berbeda-beda fungsinya. Terdapat ruangan pengawasan, penyimpanan senjata dan amunisi, termasuk penjara dan tempat interogasi.

Goa Jepang
Setelah Jepang masuk ke Indonesia, tentara Jepang kemudian mengambil alih dan menguasai Gua Belanda. Selain itu tentara Jepang juga membangun gua lainnya sebagai basis pertahanan mereka tidak jauh dari gua Belanda. Jepang menggunakan tenaga kerja paksa sehingga konon tidak sedikit korban yang berjatuhan selama pembuatan gua ini. Saat Jepang menyerah terhadap tentara sekutu, tempat ini adalah pertahanan terakhir bagi tentara Jepang yang ada di Bandung. Setelah Jepang meninggalkan Indonesia, gua inipun terlantar, tertutup oleh semak belukar dan hutan. Sampai kemudian ditemukan kembali pada sekitar tahun 1965, konon pada waktu itu masih banyak ditemukan sisa-sisa peninggalan tentara Jepang seperti senjata dan amunisi di dalamnya. Sampai sekarang pun kondisi gua Jepang ini masih tetap dibiarkan dengan kondisi alaminya, alias tidak ada perubahan atau renovasi.

Curug Lalay
Lalay itu Kelelawar. Jadi, Curug Lalay ialah Air Terjun Kelelawar. Dinamai Curug Lalay karena ternyata di sekitar curug ini banyak sekali terdapat Lalay atau Kelelawar itu. Keadaan Curug Lalay bisa dikatakan masih memiliki keasrian dan kealamian yang tinggi. Curug Lalay berada di ketinggian 1.800 meter diatas permukaan laut dan memiliki kesejukan yang tidak perlu diragukan lagi. Curug Lalay ini merupakan curug terakhir dari sebuah aliran sungai, karena ternyata di lokasi tersebut banyak terdapat curug lain yang lokasinya berada di atas Curug Lalay. Selain lokasinya yang terdapat dikawasan Bandung Utara yang berhawa sangat sejuk, curug layung juga berada pada ketinggian 1.400 meter dpl dan memiliki pemandangan yang sangat indah.

Curug Omas Maribaya
Curug ini memiliki ketinggian terjunan air sekitar 30 meter dengan kedalaman 10 m yang berada di aliran sungai Cikawari. Di atas air terjun ini terdapat jembatan yang dapat digunakan untuk melintas dan melihat air terjun dari posisi atas. Dari atas jembatan ini akan terlihat bentangan dasar sungai yang merupakan pertemuan dua aliran sungai Cikawari dan Cigulun yang nantinya menjadi daerah Aliran Sungai (DAS) Cikapundung Hulu. Aliran ini mengalir dan berbelok membelah kawasan Tahura tersebut. Para pengunjung pun harus hati-hati karena tangga-tangganya licin dikarenakan basah oleh cipratan air curug. Di lokasi ini pun tidak jarang kawanan monyet yang turun ke jalan, tapi tidak membahayakan pengunjung namun tetap harus waspada dan hati-hati. 

Tebing Keraton
Tebing Karaton merupakan sebuah tebing yang berada di dalam kawasan Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda. Banyak yang bilang ini ‘Tebing Keraton‘, padahal nama aslinya sunda abis, ‘Tebing Karaton’ yang artinya itu Kemegahan Alam menurut papan informasi yang ada disana. Ketinggian Tebing Keraton yang berada tepat di daerah Dago Pakar ini sekitar 1200 mdpl, lumayan banget buat ngeliat pemandangan hutan dari atas. Bebrbeda dengan puncak lain di kota Bandung yang keika melihat kebawah akan dihiasi lampu-lampu kota. Dari Tebing Keraton dapat menikmati pemandangan keren dan spektakuler. Bukan lampu kota, melainkan hutan. Ya, Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda dari atas.

Tiket Masuk
Untung memasuki kawasan Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda pengunjung akan dikenakan tiket masuk ke lokasi tersebt dengan harga yang variatif untuk setiap lokasinya. Untuk tiket masuk Dago Pakar (gua Belanda, gua jepang, Monumen Ir. Djuanda, Curug Lalay, Curug Omas Maribaya) seharga Rp 10.000 per orang. Untuk Tebing Keraton Rp 11.000 per orang. Untuk PLTA Bengkok dan Curug Dago tidak ada tiket masuk alias free.

Rute Menuju THR Djuanda
Untuk sampai ke lokasi Taman Hutan Raya ini, pengunjung yang berasal dari dalam luar kota Bandung bisa melalui rute di bawah ini:

Buah Batu
Buah Batu > Gurame > Karapitan > Sunda > Sumatra > Aceh > Sulawesi > Seram > MArtadinata > Ir.H.Djuanda > THR Djuanda/Dago Pakar

Pasteur
Terusan Pasteur > Flyover Pasupati > Exit Tamansari > Cikapayang > Ir.H.Djuanda > THR Djuanda/Dago Pakar

Jakarta
Jakarta (Cawang) > Tol Jakarta-Cikampek > Tol Purbaleunyi (Cipularang) > Exit Pasteur > Terusan Pasteur > Flyover Pasupati > Exit Tamansari > Cikapayang > Ir.H.Djuanda > THR Djuanda/Dago Pakar

Friday, February 13, 2015

TAMAN LOJI JATINANGOR (Sejarah Sebuah Menara)

Taman Loji Jatinangor
Di Sumedang tempo dulu, Jatinangor merupakan daerah perkebunan, tepatnya daerah perkebunan karet, pemilik perkebunan karet di Jatinangor adalah W.A Baron Baud seorang berkebangsaan Jerman. Jika anda memasuki kawasani kampus Universitas Padjadjaran (Unpad) Jatinangor, anda yang menggunakan kendaraan pribadi dan hendak melewati jalan menanjak yang berawal dari pangkalan bis DAMRI hingga pintu masuk Unpad sebelah Utara, anda akan melewati Institut Teknologi Bandung (dulu Universitas Winaya Mukti (Unwim)), pintu masuk lapangan golf Bandung Giri Gahana, serta jalan menuju Bumi Perkemahan Kiara Payung. Umumnya, mereka melewati jalan itu tanpa memperhatikan sisi jalan. Tanpa disadari, ternyata di kawasan itu terdapat sebuah situs bersejarah.

Ketika anda sampai di sekitar ITB Jatinangor, di sisi kiri jalan, tepatnya dalam kawasan milik ITB, terdapat sebuah susunan huruf-huruf yang bertulisan "TAMAN LOJI". Mengapa dinamai Taman Loji? karena di dalamnya terdapat sebuah menara berwarna putih bergaya neo gothic. Kebanyakan orang yang melewati tidak mengetahui apa pun mengenai menara ini, bahkan menyadari keberadaannya pun tidak. Masyarakat sekitar menamai bangunan putih itu, Menara Loji.

Menara Loji Jatinangor
Menara Loji ini dibangun pada sekitar tahun 1800-an yang berfungsi sebagai penanda dan berbunyi pada waktu-waktu tertentu setiap harinya, yaitu pada pukul 05.00 sebagai penanda untuk mulai menyadap karet, pukul 10.00 sebagai penanda untuk mengumpulkan mangkok-mangkok getah karet, dan terakhir berbunyi pada jam 14.00 sebagai penanda berakhirnya kegiatan produksi karet. Sayang, menara yang dulunya berfungsi sebagai penanda kegiatan yang berlangsung di perkebunan tersebut sekarang telah dikelilingi rumput liar, seakan-akan telah terlupakan.

Pada sekitar tahun 1980-an lonceng Menara Loji dicuri dan hingga kini kasusnya tidak jelas, baik mengenai pencurinya, motifnya dan lain-lain. Sangat disayangkan pemerintah setempat jika tidak lagi menindak lanjuti kass pencurian lonceng yang berniai sejarah tersebut.

Sebelum dikelola menjadi sebuah taman, menra loji dikelilingi oleh tumbuhan liar dengan dinding menara penuh coretan. tidak terurus sama sekali. tapi setelah dikelola menjadi sebuah taman, tempat ini menjadi tempat yang nyaman untuk dikunjungi dan bersantai-santai bagi para pengunjung yang datang atau tidak sengaja lewat ke kawasan ini.

Seperti halnya Jembatan Cincin, jika dilihat dari dari sisi sejarah, tentunya keberadaan Menara Loji ini sangat penting sebagai warisan sejarah bangsa Indonesia pada umumnya terutama Kabupaten Sumedang pada khususnya, dan pemerintah setempat wajib melindungi serta melestarikan peninggalan sejarah tersebut sebagai jati diri dan identitas Kabupaten Sumedang sendiri. Kewajiban kita sebagai warga masyarakat yang baik tentunya menjaga dan melestarikan peninggalan sejarah tersebut agar generasi selanjutnya dapat menikmati peninggalan sejarah tersebut dan berantusias mempelajari sejarahnya.


Sunday, January 11, 2015

TAMAN-TAMAN TEMATIK BANDUNG

Taman di kota Bandung sendiri sebenarnya sudah ada dari sejak lama, meski pun beberapa taman mengalami perubahan akibat pembangunan dan pembenahan, termasuk juga perubahan pada nama taman itu sendiri.

1.      Taman Lansia



Sebelum menjadi Taman Lansia, taman ini dikenal dengan nama Taman Cilaki atau Taman Cisangkuy. Sebutan tersebut tentu saja berhubungan dengan nama jalan yang mengapit taman ini, yaitu Jalan Cilaki dan Jalan Cisangkuy. 


Penyebutan taman Lansia mungkin disebabkan oleh banyaknya lansia yang berolahraga di tempat ini, termasuk juga dengan adanya jalan refleksi, dengan batu-batu kali yang sengaja ditonjolkan sebagai terapi refleksi di telapak kaki.



2.      Taman Pasupati (Taman Jomblo)


Inilah nama taman yang termasuk "fenomenal" di Kota Bandung. Namanya mungkin sedikit menyindir orang yang belum memiliki pasangan. Nama tersebut tercetus karena taman yang lokasinya berada di kolong jembatan Pasupati tersebut terdapat single seat atau bangku yang didesain untuk duduk sendiri. Penamaan taman ini memang sesuai dengan pemanfaatan taman yang kerap digunakan dalam aktivitas berkumpul pemuda dan pemudi Bandung. Taman tersebut banyak didatangi anak-anak muda Bandung untuk sekadar nongkrong atau berfoto-foto. Bagi yang mau berkunjung ke taman ini, lokasinya di jalan Pasupati, samping Balubur Town Square. 



3.      Taman Musik Centrum

Taman Musik berada di Jalan Belitung yang merupakan sebuah ruang publik yang didedikasikan untuk kegiatan musik. Tempat ini kerap dijadikan tempat mengadakan berbagai kegiatan musik oleh para komunitas usik di Bandung. 

Bagi yang mau menggunakan tempat ini dalam sebuah kegiatan, maka bisa langsung menghubungi Dinas Pertamanan Kota Bandung untuk mengatur jadwal penggunaan tempat ini, untuk menghindari bentrok jadwal dengan pengguna lain. hubungi juga aparat setempat untuk menjaga ketertiban demi kelancaran berlangsungnya kegiatan.

Selain dijadikan tempat kegiatan, tentunya warga Bandung pun kerap mengunjungi tempat ini sekedar untuk foto-foto.




4.      Taman Fotografi

Di Bandung, ada sebuah taman yang sengaja digunakan untuk memberikan ruang bagi komunitas fotografi. Taman ini bernama Taman Fotografi. Pada mulanya taman ini bernama Taman Cempaka karena berada di jalan Cempaka, namun kemudian pemerintah kota Bandung mengubah taman ini menjadi Taman Tematik Fotografi. Bandung bisa disebut sebagai sarang komunitas. 

Salah satu komunitas yang ada di Bandung adalah komunitas fotografi. Bahkan, Bandung merupakan rumah untuk komunitas fotografi paling tua di Indonesia. Taman ini sengaja dibuat sebagai sebuah ruang publik bagi mereka pecinta fotografi. Di taman inilah sering kali diadakan berbagai kegiatan yang berhubungan dengan dunia fotografi. Dibangunnya Taman Fotografi ini tentunya sangat disambut baik oleh komunitas-komunitas fotografi, baik itu komunitas kecil maupun komunitas besar.




5.      Taman Pustaka Bunga

Citra Bandung sebagai Kota Kembang semakin mengena setelah munculnya Taman Pustaka Bunga. Taman bunga dulunya bernama Taman Cilaki dan kurang terawat. Namun kini kita bisa menjumpai ribuan bunga dengan aneka jenis menghiasai taman ini. Taman Cilaki awalnya banyak ditumbuhi oleh pohon-pohon besar peninggalan zaman Belanda. Sekarang ini, taman menjadi lebih tertata rapi dengan adanya bunga dan penataan yang maksimal. Taman ini dimaksudkan menjadi ensiklopedia bunga karena bakal berisi sekitar 100 ribu bunga di tempat ini. Tempat ini dulunya memang kurang tertata. 

Sesuai dengan namanya, sudah barang tentu Taman Pustaka Bunga memiliki banyak jenis bunga yang menarik. Beberapa jenis bunga yang ada di taman ini adalah mawar, puring, bakung, kastuba, bunga kertas, krisan, lidah mertua dan berbagai jenis anggerk. Beberapa anggrek langka ditemukan di tempat ini. Anggrek-anggrek ini ditempelkan di pohon-pohon besar yang ada di taman ini. Beberapa jenis anggrek yang ada di taman ini adalah Phalaenopsis Gigantea, Phalaenopsis Bellina, Paphiopedillum Victoria, Paphiopedillum Reginae, dan Dendrobium Glomeratum.

Dengan kerapian taman ini diharapkan warga menjadi sering berkunjung ke taman ini dan diharapkan agar makna Bandung sebagai Kota Kembang menggaung lagi.



6.      Taman Film Bandung

Taman Film Bandung merupakan taman terbaru yang dibangun berlokasi di bawah jembatan Pasupati Bandung yang menjadi sarana komunitas para sineas kota Bandung. Taman yang dilengkapi layar raksasa ini diperuntukan bagi para sineas kota Bandung yang ingin mempromosikan karya-karya nya agar bisa bersentuhan langsung dengan para pengamat, penggemar film di kota Bandung. Taman ini juga ditujukan sebagai ajakan kepada para sineas nasional agar tidak segan membuat film dengan latar belakang/setting kota  Bandung
Taman ini berada sebelah barat Taman Pasupati Bandung. tinggal jalan kaki saja sedikit dari taman Jomblo ke arah barat. Lokasinya berada di bawah Taman Skateboard, sebelum Lapangan Futsal. Desainnya dibuat oleh perusahaan konsultan arsitek SHAU yang berkantor di Jakarta. Dibangun di kolong Jembatan Pasupati dengan luas mencapai 700 meter persegi.

Menurut Kepala Dinas Pemakaman dan Pertamanan (Diskamtam) Kota Bandung Arief Prasetya, taman ini dibentuk menjadi bangunan amphiteater dengan fondasi tempat duduk yang berkelok-kelok. Di depan amphiteater, dibangun megatron yang nantinya akan menjadi tempat pemutaran film. Kapasitasnya sendiri bisa mencapai 500 orang.


7.      Taman Balai Kota

Balai Kota pun semakin cantik dengan pembenahan Taman balai Kota yang semakin indah dan nyaman untuk dikunjungi. Taman Balai Kota Bandung terletak di dalam kompleks Balai Kota Bandung, berada di antara dua jalan protokol di ibu kota Jawa Barat, yaitu jalan Merdeka dan jalan Wastukencana. 

Pintu masuk utamanya terletak di jalan Wastukencana. Rerimbunan pepohonan dilengkapi dengan tempat duduk dari bebatuan akan memberi keleluasaan pada anda untuk bercanda bersama keluarga. Taman ini sering digunakan oleh Penduduk Bandung sebagai salah satu sarana untuk menikmati keindahan kotanya. 

Begitu juga bagi anda yang selesai menikmati kunjungan anda ke berbagai tempat shopping di Bandung, tempat ini pun bisa anda gunakan untuk sekedar melepaskan sedikit rasa lelah.

Patung-patung hiasan menambah nilai seni bagi taman ini. warga bandung pun banyak yang datang untuk berfoto-foto sambil melepas lelah. Beberapa monumen terdapat di dalam pekarangan taman ini.



Monumen Dewi Sartika
Di taman ini ada sebuah patung yang sengaja dibangun untuk mengenang kepahlawanan Dewi Sartika.

Patung Badak Putih
Ada juga patung badak sebagai simbol yang menurut legenda di Bandung banyak ditemui binatang khas Jawa Barat, yaitu Badak Putih.


Patung Sepasang Merpati
Patung sepasang merpati, sebagai peringatan dilepaskannya sebanyak 800 ekor merpati yang menghiasi taman tersebut.

Gembok Cinta
Gembok cinta, sebuah konstruksi besi dan kawat ram berbentuk prisma berukuran 2,5 meter persegi dan tinggi sekira 2 meter. Di atas bangunan tersebut, terpampang huruf berwarna merah yang dirangkai menjadi kata 'LOVE'.


8.      Taman Vanda

Taman Vanda yang berada di Jalan Merdeka akan diambil alih pemeliharaanya oleh Bank Indonesia (BI) Jabar-Banten. Selain itu taman ini juga akan diubah menjadi Taman Tematik Uang. Hal itu dikatakan Wali Kota Bandung Ridwan Kamil di Balai Kota Bandung, Jalan Wastukancana, Senin (13/1/2014). "Ini terkait dengan rencana memperbanyak ruang publik. Dulu di sana hanya belokan tanpa taman. Sekarang, pemeliharaan dan pengadaan taman pun dilakukan oleh BI," kata pria yang akrab disapa Emil ini.
Taman Vanda ini berbentuk segitiga. Di bagian sekelilingnya ditembok, sementara bagian tengah ditanami sejumlah tanaman hias dan kolam air mancur.


9.      Taman Tongkeng


Lagi, Walikota Bandung, Bapak Ridwan Kamil menambah koleksi taman di kota Bandung. Kali ini ia membuat “ulah” dengan membuat taman bacaan masyarakat yang dinamakan Taman Tongkeng. Dinamakan taman Tongkeng karena letakkan berada di jalan Tongkeng Bandung. 
Taman bacaan ini merupakan wadah untuk warga Bandung khususnya anak-anak Bandung yang gemar membaca, di taman ini juga disediakan perpustakaan yang penuhi dengan berbagai jenis buku disamping itu juga ada taman bermain untuk anak. Taman ini merupakan salah satu project dari pemerintah kota Bandung untuk menwujudkan ”Satu taman Satu komunitas”.




10.  Taman Cibeunying

Salah satu taman zaman Walanda yang masih tersisa di Bandung adalah Taman Cibeunying atau nama kerennya Cibeunying Park. Zaman Kompeni disebut dengan Tjibeunjing Plantsoen. Meski bernama taman, fungsinya bukan benar-benar taman, tapi hutan kota yang penanamannya tidak teratur sebagai bagian dari jalur hijau yang memanjang dari Taman Cilaki ke Taman Bengawan.

Taman Cibeunying diubah menjadi bursa tanaman hias sekitar tahun 1980-an oleh Walikota Bandung kala itu Ateng Wahyudi. Rimbunnya pepohonan Tjibeunjing Plantsoen berganti menjadi kios-kios tanaman yang menyuguhkan tanaman dalam ragam jenis dan warna. Cibeunying Park ini ternyata juga sering digunakan untuk ajang kumpul beberapa komunitas, diantaranya ada komunitas bahasa yang sering kumpul untuk latihan conversation bersama di sini. Di taman ini terdapat sebuah bike shelter, kita bisa menyewa sepeda untuk berkeliling di sekitar taman. Ada juga track tanah untuk jalan mengelilingi taman dan track berbatu di bagian belakang taman. Sebuah gazebo yang cukup besar terletak di tengah taman dan ada pula beberapa tempat duduk di sekitar taman.


11.  Taman Hewan

Kembali Bapak Walikota Bandung Ridwan kamil memperbungah warganya engan membuat taman tematik bagi yang memiliki hewan peliharaan. taman ini dinamai degan Taman Hewan atau Pet Park. Keberadaan taman ini dibuat agar masyarakat yang membawa hewan peliharaan, tidak membaur di taman tematik lain khususnya taman yang diperuntukkan bagi kepentingan manusia. Taman ini khusus masyarakat yang bawa hewan peliharaan, kalau di taman lain dikhawatirkan bisa mengganggu pengunjung lain. Hewan yang dibawapun tidak dibatasi, asalkan tidak saling serang dengan hewa peliharaan pemilik yang lain. Taman Hewan ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang ada seperti fasilitas jogging, ketangkasan hewan, sangkar yang sengaja dibuat mirip di alam aslinya.  Taman ini berlokasi di jalan Cilaki. jika datang dari arah Jalan Bengawan, lurus saja sampai berjumpa dengan taman ini.


12.  Taman Maluku

Dahulu taman ini bernama MolukkenPark, sebuah taman warisan kolonial Belanda yang dibangun pada awal tahun 1919. Taman Maluku sendiri adalah salah satu dari beberapa taman di kota Bandung yang di aliri oleh kanal sungai Cikapayang, sebuah kanal legendaris yang dibangun pada masa bupati Martanegara yang membelokkan aliran sungai Cikapundung khusus untuk mengairi beberapa taman tadi, hal ini semakin memperkuat dugaan bahwa Bandung dahulu memang pernah sengaja dirancang sebagai kota taman.



Di bagian depan taman Maluku ini, berdiri sebuah patung wujud dari seorang pastor Belanda yang hidup pada zaman Belanda dulu. Ia adalah Pastor H.C. Verbraak (1835-1918). Patung ini didirikan pada tahun 1922 sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa-jasa sang pastor, patung ini berdiri persis menghadap jalan seram dan sebuah bangunan markas TNI, pastor Verbraak sendiri adalah seorang imam para tentara Belanda yang dahulu sempat bertugas dalam Perang Aceh (1845-1907) konon ia sangat disegani pada masanya ketika itu.


Itulah beberapa taman-taman yang ada di Bandung. kewajiban kita sebagai warga Bandung adalah menjaga agar taman-taman di bandung tetap bersih, tetap indah dan tetap nyaman.


Sumber :
http://www.101jakfm.com/details/3533/taman-taman-unik-di-bandung-ah-adem-
http://www.wisatabdg.com/2014/09/inilah-taman-tematik-di-kota-bandung.html
http://targetabloid.co.id/berita/7040-pet-park-untuk-hewan-kesayangan-masyarakat-bandung
http://news.detik.com/bandung/read/2014/01/13/173756/2466549/486/taman-vanda-di-jalan-merdeka-akan-jadi-taman-tematik-uang?nd772204btr
https://yogiadhi.wordpress.com/2013/11/28/romantisme-taman-maluku-dan-patung-pastor/