Babakan Siliwangi atau biasa disebut Baksil oleh para
pengunjung yang datang ke sana, merupakan hutan kota yang berada di daerah
sekitar lingkungan Sasana Budaya Ganesha (Sabuga). Lokasi hutan kota tersebut
biasa dikunjungi oleh para seniman-seniman dari Institut Teknologi Bandung
(ITB) karena di lokasi tersebut juga terdapat beberapa sanggar seni, khususnya
sanggar seni lukis. Tidak sedikit pula orang-orang yang menggunakan lokasi
tersebut untuk acara foto pre wedding. Ditambah lagi, baru-baru ini di lokasi
ini dibangun sebuah sky walk sebagai fasilitas para pengunjung baik dari warga
Bandung sendiri maupun juga dari luar
Bandung. Semakin ramai saja hutan Baksil dengan para pengunjung yang datang.
Apalagi dengan tidak dikenakan biaya masuk. Hanya bermodalkan uang parkir
kendaraan saja, kita bisa menikmati hutan kota Bandung dengan berjalan di atas
Sky Walk di sana. Untuk berkunjung ke sana, hutan babakan Siliwangi ini berada
di jalan Siliwangi kota Bandung, tepat di samping gedung Sasana Budaya Ganesha
Bandung. Happy Travelling.
Showing posts with label Travel Taman. Show all posts
Showing posts with label Travel Taman. Show all posts
Monday, June 19, 2017
Friday, March 6, 2015
Posted on 6:06 AM
by RIJAL JAUHARI
TAHURA Ir. H. DJUANDA BANDUNG
![]() |
| Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda Bandung |
Letak Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda berada di Kampung Pakar, Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan, pada ketinggian antara 770 mdpl sampai 1330 mdpl. Di atas tanahnya yang subur terdapat sekitar 2500 jenis tanaman yang terdiri dari 40 familia dan 112 species. Pada tahun 1965 luas taman hutan raya baru sekitar 10 ha saja, namun saat ini sudah mencapai 590 ha membentang dari kawasan Pakar sampai Maribaya. Saat ini pengelolaannya dilakukan oleh Dinas Kehutanan Pemda Provinsi Jawa Barat (sebelumnya berada di bawah naungan Perum Perhutani) (Sumber).
Terdapat beberapa titik di dalam kompleks hutan raya yang bisa dijadikan tujuan wisata, antara lain:
Curug Dago & Batu Prasasti Kerajaan Thailand
Curug Dago memiliki ketinggian terjunan air hanya sekitar 12
m saja dan berada di ketinggian sekitar 800 m di atas permukaan laut curug ini terbentuk dari aliran sungai
Cikapundung yang mengalir dari Maribaya memasuki kota Bandung. Dengan lokasinya
yang cukup tersembunyi, di daerah Bukit Dago di dalam kawasan Taman Hutan Raya
(THR) Ir H Djuanda, Bandung, dan kurang ditunjang promosi wisata menyebabkan
curug ini kian jarang dikunjungi wisatawan.
Tidak jauh dari lokasi air terjun, terdapat dua prasasti batu tulis
peninggalan sekitar tahun 1818. Menurut
para ahli sejarah, kedua prasasti tersebut konon merupakan peninggalan Raja
Rama V (Raja Chulalonkorn) dan Raja Rama VII (Pradjathipok Pharaminthara) dari
dinasti Chakri yang pernah berkunjung ke Curug Dago Sumber.
Kolam PLTA Bengkok
Sejak mulai beroperasi tahun 1923, Pembangkit Listrik Tenaga
Air (PLTA) Bengkok yang terletak tak jauh dari Taman Hutan Raya
Juanda-Dago-Bandung, hingga kini masih berfungsi. Sejak pendiriannya, PLTA ini
diberi nama oleh Belanda dengan sebutan Centrale Bengkok. Nama ini pun tetap
dipertahankan mengiringi kokohnya bangunan khas Belanda yang melindungi PLTA
tersebut. Hingga kini, bangunan kuno yang berdiri di areal lahan seluas 5
hektar ini, menjadi salah satu heritage milik rakyat Jawa Barat dan selalu
dijadikan tujuan wisata oleh para pelajar atau wisatawan domestik lainnya (Sumber).
Monumen Ir. H. Djuanda
Di lokasi wisata ini terdapat pula Monumen Ir. H. Djuanda.
Tempat ini merupakan prasasti dan museum peninggalan sejarah Ir. H Juanda. Bisa
menambah banyak pengetahuan dan sejarah. Dari Museum dan monumen Ir.H Juanda
pun bisa dipetik banyak inspirasi, melalui sejarah mantan Perdana Menteri
Indonesia ke 10 ini, banyak hal yang patut kita teladani, berbagai sumbangan
dan dedikasi terhadap bangsa dan negara di masa lalu sangat maksimal, sampai
mengeluarkan Deklarasi Djuanda yang berpengaruh.
Goa Belanda
Goa Jepang
Curug Lalay
Lalay itu Kelelawar. Jadi, Curug Lalay ialah Air Terjun
Kelelawar. Dinamai Curug Lalay karena ternyata di sekitar curug ini banyak
sekali terdapat Lalay atau Kelelawar itu. Keadaan Curug Lalay bisa dikatakan
masih memiliki keasrian dan kealamian yang tinggi. Curug Lalay berada di
ketinggian 1.800 meter diatas permukaan laut dan memiliki kesejukan yang tidak
perlu diragukan lagi. Curug Lalay ini merupakan curug terakhir dari sebuah
aliran sungai, karena ternyata di lokasi tersebut banyak terdapat curug lain
yang lokasinya berada di atas Curug Lalay. Selain lokasinya yang terdapat
dikawasan Bandung Utara yang berhawa sangat sejuk, curug layung juga berada
pada ketinggian 1.400 meter dpl dan memiliki pemandangan yang sangat indah.
Curug Omas Maribaya
Curug ini memiliki ketinggian terjunan air sekitar 30 meter
dengan kedalaman 10 m yang berada di aliran sungai Cikawari. Di atas air terjun
ini terdapat jembatan yang dapat digunakan untuk melintas dan melihat air
terjun dari posisi atas. Dari atas jembatan ini akan terlihat bentangan dasar
sungai yang merupakan pertemuan dua aliran sungai Cikawari dan Cigulun yang
nantinya menjadi daerah Aliran Sungai (DAS) Cikapundung Hulu. Aliran ini
mengalir dan berbelok membelah kawasan Tahura tersebut. Para pengunjung pun
harus hati-hati karena tangga-tangganya licin dikarenakan basah oleh cipratan
air curug. Di lokasi ini pun tidak jarang kawanan monyet yang turun ke jalan,
tapi tidak membahayakan pengunjung namun tetap harus waspada dan hati-hati.
Tebing Keraton
Tebing Karaton merupakan sebuah tebing yang berada di dalam
kawasan Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda. Banyak yang bilang ini ‘Tebing
Keraton‘, padahal nama aslinya sunda abis, ‘Tebing Karaton’ yang artinya itu
Kemegahan Alam menurut papan informasi yang ada disana. Ketinggian Tebing
Keraton yang berada tepat di daerah Dago Pakar ini sekitar 1200 mdpl, lumayan
banget buat ngeliat pemandangan hutan dari atas. Bebrbeda dengan puncak lain di
kota Bandung yang keika melihat kebawah akan dihiasi lampu-lampu kota. Dari
Tebing Keraton dapat menikmati pemandangan keren dan spektakuler. Bukan lampu
kota, melainkan hutan. Ya, Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda dari atas.
Tiket Masuk
Untung memasuki kawasan Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda pengunjung akan dikenakan tiket masuk ke lokasi tersebt dengan harga yang variatif untuk setiap lokasinya. Untuk tiket masuk Dago Pakar (gua Belanda, gua jepang, Monumen Ir. Djuanda, Curug Lalay, Curug Omas Maribaya) seharga Rp 10.000 per orang. Untuk Tebing Keraton Rp 11.000 per orang. Untuk PLTA Bengkok dan Curug Dago tidak ada tiket masuk alias free.
Rute Menuju THR Djuanda
Untuk sampai ke lokasi Taman Hutan Raya ini, pengunjung yang berasal dari dalam luar kota Bandung bisa melalui rute di bawah ini:
Buah Batu
Buah Batu > Gurame > Karapitan > Sunda > Sumatra > Aceh > Sulawesi > Seram > MArtadinata > Ir.H.Djuanda > THR Djuanda/Dago Pakar
Pasteur
Terusan Pasteur > Flyover Pasupati > Exit Tamansari > Cikapayang > Ir.H.Djuanda > THR Djuanda/Dago Pakar
Jakarta
Jakarta (Cawang) > Tol Jakarta-Cikampek > Tol Purbaleunyi (Cipularang) > Exit Pasteur > Terusan Pasteur > Flyover Pasupati > Exit Tamansari > Cikapayang > Ir.H.Djuanda > THR Djuanda/Dago Pakar
Tiket Masuk
Untung memasuki kawasan Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda pengunjung akan dikenakan tiket masuk ke lokasi tersebt dengan harga yang variatif untuk setiap lokasinya. Untuk tiket masuk Dago Pakar (gua Belanda, gua jepang, Monumen Ir. Djuanda, Curug Lalay, Curug Omas Maribaya) seharga Rp 10.000 per orang. Untuk Tebing Keraton Rp 11.000 per orang. Untuk PLTA Bengkok dan Curug Dago tidak ada tiket masuk alias free.
Rute Menuju THR Djuanda
Untuk sampai ke lokasi Taman Hutan Raya ini, pengunjung yang berasal dari dalam luar kota Bandung bisa melalui rute di bawah ini:
Buah Batu
Buah Batu > Gurame > Karapitan > Sunda > Sumatra > Aceh > Sulawesi > Seram > MArtadinata > Ir.H.Djuanda > THR Djuanda/Dago Pakar
Pasteur
Terusan Pasteur > Flyover Pasupati > Exit Tamansari > Cikapayang > Ir.H.Djuanda > THR Djuanda/Dago Pakar
Jakarta
Jakarta (Cawang) > Tol Jakarta-Cikampek > Tol Purbaleunyi (Cipularang) > Exit Pasteur > Terusan Pasteur > Flyover Pasupati > Exit Tamansari > Cikapayang > Ir.H.Djuanda > THR Djuanda/Dago Pakar
Friday, February 13, 2015
Posted on 5:56 AM
by RIJAL JAUHARI
TAMAN LOJI JATINANGOR (Sejarah Sebuah Menara)
| Taman Loji Jatinangor |
Ketika anda sampai di sekitar ITB
Jatinangor, di sisi kiri jalan, tepatnya dalam kawasan milik ITB, terdapat
sebuah susunan huruf-huruf yang bertulisan "TAMAN LOJI". Mengapa dinamai Taman Loji? karena di dalamnya terdapat sebuah menara berwarna putih bergaya neo gothic. Kebanyakan orang yang melewati tidak mengetahui apa
pun mengenai menara ini, bahkan menyadari keberadaannya pun tidak. Masyarakat
sekitar menamai bangunan putih itu, Menara Loji.
| Menara Loji Jatinangor |
Pada sekitar tahun 1980-an
lonceng Menara Loji dicuri dan hingga kini kasusnya tidak jelas, baik mengenai
pencurinya, motifnya dan lain-lain. Sangat disayangkan pemerintah setempat jika
tidak lagi menindak lanjuti kass pencurian lonceng yang berniai sejarah
tersebut.
Sebelum dikelola menjadi sebuah taman, menra loji dikelilingi oleh tumbuhan liar dengan dinding menara penuh coretan. tidak terurus sama sekali. tapi setelah dikelola menjadi sebuah taman, tempat ini menjadi tempat yang nyaman untuk dikunjungi dan bersantai-santai bagi para pengunjung yang datang atau tidak sengaja lewat ke kawasan ini.
Sebelum dikelola menjadi sebuah taman, menra loji dikelilingi oleh tumbuhan liar dengan dinding menara penuh coretan. tidak terurus sama sekali. tapi setelah dikelola menjadi sebuah taman, tempat ini menjadi tempat yang nyaman untuk dikunjungi dan bersantai-santai bagi para pengunjung yang datang atau tidak sengaja lewat ke kawasan ini.
Seperti halnya Jembatan Cincin,
jika dilihat dari dari sisi sejarah, tentunya keberadaan Menara Loji ini sangat
penting sebagai warisan sejarah bangsa Indonesia pada umumnya terutama
Kabupaten Sumedang pada khususnya, dan pemerintah setempat wajib melindungi
serta melestarikan peninggalan sejarah tersebut sebagai jati diri dan identitas
Kabupaten Sumedang sendiri. Kewajiban kita sebagai warga masyarakat yang baik
tentunya menjaga dan melestarikan peninggalan sejarah tersebut agar generasi
selanjutnya dapat menikmati peninggalan sejarah tersebut dan berantusias
mempelajari sejarahnya.
Sunday, January 11, 2015
Posted on 1:44 AM
by RIJAL JAUHARI
TAMAN-TAMAN TEMATIK BANDUNG
Taman di kota Bandung sendiri sebenarnya sudah ada dari sejak lama, meski pun beberapa taman mengalami perubahan akibat pembangunan dan pembenahan, termasuk juga perubahan pada nama taman itu sendiri.
1. Taman Lansia
Sebelum menjadi Taman Lansia, taman ini dikenal dengan nama Taman Cilaki atau Taman Cisangkuy. Sebutan tersebut tentu saja berhubungan dengan nama jalan yang mengapit taman ini, yaitu Jalan Cilaki dan Jalan Cisangkuy.
Penyebutan taman Lansia mungkin disebabkan oleh banyaknya lansia yang berolahraga di tempat ini, termasuk juga dengan adanya jalan refleksi, dengan batu-batu kali yang sengaja ditonjolkan sebagai terapi refleksi di telapak kaki.
2. Taman Pasupati (Taman Jomblo)
3. Taman Musik Centrum
Bagi yang mau menggunakan tempat ini dalam sebuah kegiatan, maka bisa langsung menghubungi Dinas Pertamanan Kota Bandung untuk mengatur jadwal penggunaan tempat ini, untuk menghindari bentrok jadwal dengan pengguna lain. hubungi juga aparat setempat untuk menjaga ketertiban demi kelancaran berlangsungnya kegiatan.
Selain dijadikan tempat kegiatan, tentunya warga Bandung pun kerap mengunjungi tempat ini sekedar untuk foto-foto.
4. Taman Fotografi
Di Bandung, ada sebuah taman yang sengaja digunakan untuk memberikan ruang bagi komunitas fotografi. Taman ini bernama Taman Fotografi. Pada mulanya taman ini bernama Taman Cempaka karena berada di jalan Cempaka, namun kemudian pemerintah kota Bandung mengubah taman ini menjadi Taman Tematik Fotografi. Bandung bisa disebut sebagai sarang komunitas.
Salah satu komunitas yang ada di Bandung adalah komunitas fotografi. Bahkan, Bandung merupakan rumah untuk komunitas fotografi paling tua di Indonesia. Taman ini sengaja dibuat sebagai sebuah ruang publik bagi mereka pecinta fotografi. Di taman inilah sering kali diadakan berbagai kegiatan yang berhubungan dengan dunia fotografi. Dibangunnya Taman Fotografi ini tentunya sangat disambut baik oleh komunitas-komunitas fotografi, baik itu komunitas kecil maupun komunitas besar.
5. Taman Pustaka Bunga
Citra Bandung sebagai Kota Kembang semakin mengena setelah munculnya Taman Pustaka Bunga. Taman bunga dulunya bernama Taman Cilaki dan kurang terawat. Namun kini kita bisa menjumpai ribuan bunga dengan aneka jenis menghiasai taman ini. Taman Cilaki awalnya banyak ditumbuhi oleh pohon-pohon besar peninggalan zaman Belanda. Sekarang ini, taman menjadi lebih tertata rapi dengan adanya bunga dan penataan yang maksimal. Taman ini dimaksudkan menjadi ensiklopedia bunga karena bakal berisi sekitar 100 ribu bunga di tempat ini. Tempat ini dulunya memang kurang tertata.
Dengan kerapian taman ini diharapkan warga menjadi sering berkunjung ke taman ini dan diharapkan agar makna Bandung sebagai Kota Kembang menggaung lagi.
6. Taman Film Bandung
Taman Film Bandung merupakan taman terbaru yang dibangun berlokasi di bawah jembatan Pasupati Bandung yang menjadi sarana komunitas para sineas kota Bandung. Taman yang dilengkapi layar raksasa ini diperuntukan bagi para sineas kota Bandung yang ingin mempromosikan karya-karya nya agar bisa bersentuhan langsung dengan para pengamat, penggemar film di kota Bandung. Taman ini juga ditujukan sebagai ajakan kepada para sineas nasional agar tidak segan membuat film dengan latar belakang/setting kota Bandung
Taman ini berada sebelah barat Taman Pasupati Bandung. tinggal jalan kaki saja sedikit dari taman Jomblo ke arah barat. Lokasinya berada di bawah Taman Skateboard, sebelum Lapangan Futsal. Desainnya dibuat oleh perusahaan konsultan arsitek SHAU yang berkantor di Jakarta. Dibangun di kolong Jembatan Pasupati dengan luas mencapai 700 meter persegi.
Menurut Kepala Dinas Pemakaman dan Pertamanan (Diskamtam) Kota Bandung Arief Prasetya, taman ini dibentuk menjadi bangunan amphiteater dengan fondasi tempat duduk yang berkelok-kelok. Di depan amphiteater, dibangun megatron yang nantinya akan menjadi tempat pemutaran film. Kapasitasnya sendiri bisa mencapai 500 orang.
7. Taman Balai Kota
Pintu masuk utamanya terletak di jalan Wastukencana. Rerimbunan pepohonan dilengkapi dengan tempat duduk dari bebatuan akan memberi keleluasaan pada anda untuk bercanda bersama keluarga. Taman ini sering digunakan oleh Penduduk Bandung sebagai salah satu sarana untuk menikmati keindahan kotanya.
Begitu juga bagi anda yang selesai menikmati kunjungan anda ke berbagai tempat shopping di Bandung, tempat ini pun bisa anda gunakan untuk sekedar melepaskan sedikit rasa lelah.
Patung-patung hiasan menambah nilai seni bagi taman ini. warga bandung pun banyak yang datang untuk berfoto-foto sambil melepas lelah. Beberapa monumen terdapat di dalam pekarangan taman ini.
| Monumen Dewi Sartika |
| Patung Badak Putih |
![]() |
| Patung Sepasang Merpati |
| Gembok Cinta |
8. Taman Vanda
Taman Vanda yang berada di Jalan Merdeka akan diambil alih pemeliharaanya oleh Bank Indonesia (BI) Jabar-Banten. Selain itu taman ini juga akan diubah menjadi Taman Tematik Uang. Hal itu dikatakan Wali Kota Bandung Ridwan Kamil di Balai Kota Bandung, Jalan Wastukancana, Senin (13/1/2014). "Ini terkait dengan rencana memperbanyak ruang publik. Dulu di sana hanya belokan tanpa taman. Sekarang, pemeliharaan dan pengadaan taman pun dilakukan oleh BI," kata pria yang akrab disapa Emil ini.
Taman Vanda ini berbentuk segitiga. Di bagian sekelilingnya ditembok, sementara bagian tengah ditanami sejumlah tanaman hias dan kolam air mancur.
9. Taman Tongkeng
Taman bacaan ini merupakan wadah untuk warga Bandung khususnya anak-anak Bandung yang gemar membaca, di taman ini juga disediakan perpustakaan yang penuhi dengan berbagai jenis buku disamping itu juga ada taman bermain untuk anak. Taman ini merupakan salah satu project dari pemerintah kota Bandung untuk menwujudkan ”Satu taman Satu komunitas”.
10. Taman Cibeunying
Salah satu taman zaman Walanda yang masih tersisa di Bandung adalah Taman Cibeunying atau nama kerennya Cibeunying Park. Zaman Kompeni disebut dengan Tjibeunjing Plantsoen. Meski bernama taman, fungsinya bukan benar-benar taman, tapi hutan kota yang penanamannya tidak teratur sebagai bagian dari jalur hijau yang memanjang dari Taman Cilaki ke Taman Bengawan.
Taman Cibeunying diubah menjadi bursa tanaman hias sekitar tahun 1980-an oleh Walikota Bandung kala itu Ateng Wahyudi. Rimbunnya pepohonan Tjibeunjing Plantsoen berganti menjadi kios-kios tanaman yang menyuguhkan tanaman dalam ragam jenis dan warna. Cibeunying Park ini ternyata juga sering digunakan untuk ajang kumpul beberapa komunitas, diantaranya ada komunitas bahasa yang sering kumpul untuk latihan conversation bersama di sini. Di taman ini terdapat sebuah bike shelter, kita bisa menyewa sepeda untuk berkeliling di sekitar taman. Ada juga track tanah untuk jalan mengelilingi taman dan track berbatu di bagian belakang taman. Sebuah gazebo yang cukup besar terletak di tengah taman dan ada pula beberapa tempat duduk di sekitar taman.
11. Taman Hewan
Kembali Bapak Walikota Bandung Ridwan kamil memperbungah warganya engan membuat taman tematik bagi yang memiliki hewan peliharaan. taman ini dinamai degan Taman Hewan atau Pet Park. Keberadaan taman ini dibuat agar masyarakat yang membawa hewan peliharaan, tidak membaur di taman tematik lain khususnya taman yang diperuntukkan bagi kepentingan manusia. Taman ini khusus masyarakat yang bawa hewan peliharaan, kalau di taman lain dikhawatirkan bisa mengganggu pengunjung lain. Hewan yang dibawapun tidak dibatasi, asalkan tidak saling serang dengan hewa peliharaan pemilik yang lain. Taman Hewan ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang ada seperti fasilitas jogging, ketangkasan hewan, sangkar yang sengaja dibuat mirip di alam aslinya. Taman ini berlokasi di jalan Cilaki. jika datang dari arah Jalan Bengawan, lurus saja sampai berjumpa dengan taman ini.
12. Taman Maluku
Dahulu taman ini bernama MolukkenPark, sebuah taman warisan kolonial Belanda yang dibangun pada awal tahun 1919. Taman Maluku sendiri adalah salah satu dari beberapa taman di kota Bandung yang di aliri oleh kanal sungai Cikapayang, sebuah kanal legendaris yang dibangun pada masa bupati Martanegara yang membelokkan aliran sungai Cikapundung khusus untuk mengairi beberapa taman tadi, hal ini semakin memperkuat dugaan bahwa Bandung dahulu memang pernah sengaja dirancang sebagai kota taman.
Di bagian depan taman Maluku ini, berdiri sebuah patung wujud dari seorang pastor Belanda yang hidup pada zaman Belanda dulu. Ia adalah Pastor H.C. Verbraak (1835-1918). Patung ini didirikan pada tahun 1922 sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa-jasa sang pastor, patung ini berdiri persis menghadap jalan seram dan sebuah bangunan markas TNI, pastor Verbraak sendiri adalah seorang imam para tentara Belanda yang dahulu sempat bertugas dalam Perang Aceh (1845-1907) konon ia sangat disegani pada masanya ketika itu.
Itulah beberapa taman-taman yang ada di Bandung. kewajiban kita sebagai warga Bandung adalah menjaga agar taman-taman di bandung tetap bersih, tetap indah dan tetap nyaman.
Sumber :
http://www.101jakfm.com/details/3533/taman-taman-unik-di-bandung-ah-adem-
http://www.wisatabdg.com/2014/09/inilah-taman-tematik-di-kota-bandung.html
http://targetabloid.co.id/berita/7040-pet-park-untuk-hewan-kesayangan-masyarakat-bandung
http://news.detik.com/bandung/read/2014/01/13/173756/2466549/486/taman-vanda-di-jalan-merdeka-akan-jadi-taman-tematik-uang?nd772204btr
https://yogiadhi.wordpress.com/2013/11/28/romantisme-taman-maluku-dan-patung-pastor/
Subscribe to:
Posts (Atom)








