Tuesday, March 10, 2015

PRIS PRISAN

Pris prisan/Bentengan (sumber)
Permainan benteng ini biasa disebut dengan pris prisan di daerah Jawa Barat. Biarpun sebutannya berbedaTujuan utama dari permainan ini adalah saling menyerang benteng. Masing-masing tim menentukan bentengnya, dapat berupa pohon, tiang, tembok, atau bahkan batu yang diinjak secara bersamaan dan dijaga secara bersamaan. Mereka berusaha menawan anggota tim lawan agar dapat merebut benteng lawan. Permainan dimulai dengan salah satu anggota keluar dari benteng, maka anggota tim lawan akan berusaha menyentuh orang tersebut. Tetapi anggota tim pertama dapat langsung menyerang dengan berusaha menyentuh pemain yang keluar tersebut begitu pula dengan tim lawan. Untuk menghindari disentuh, mereka dapat kembali ke benteng masing-masing dan kembali menyentuh benteng agar bisa menyerang lawan yang datang.

Siapa yang tersentuh akan ditawan di benteng lawan. Teman satu tim dapat berusaha menyelamatkan teman-teman yang tertawan dengan mendatangi benteng lawan dan menyentuh teman-temannya, tetapi tentu saja tidak boleh tersentuh lawannya. Harus ada anggota tim yang menjaga bentengnya. Bila benteng lawan tidak ada yang menjaga, maka pemain dapat menyentuh benteng tersebut yang berarti tim tersebut menjadi pemenangnya.

SORODOT GAPLOK

Sorodot Gaplok (sumber)
Sorodot gaplok meruakan permainan yang menggunakan batu sebagai alat permainannya ini adalah permainan tradisional khas Jawa Barat, dimana biasanya dimainkan oleh anak laki-laki saja. Sorodot Gaplok berasal dari dua kata, Sorodot yang berarti ‘meluncur’ dan Gaplok yang berarti ‘tamparan’. Jadi Sorodot Gaplok adalah permainan meluncurkan batu ke batu lainnya yang nantinya bisa menimbulkan suara ‘plok’ seperti suara tamparan.

Permainan ini bisa dimainkan oleh dua orang atau lebih, yang penting jumlahnya genap. Karena kalau lebih dari dua orang biasanya akan dibagi menjadi dua tim yang jumlah anggotanya sama. Setelah dibagi dua tim, kita harus menentukan tim mana yang main duluan dan tim mana yang kebagian jaga, biasanya dengan cara suit.

Setelah itu kita tinggal membuat garis di lantai atau tanah sebagai tempat meletakkan batu secara berdiri. Kemudian buat garis lagi untuk tempat lemparan batu bagi tim yang bermain. Jarak kedua garis itu biasanya sekitar 3-5 meter. Yang terakhir jangan lupa kita siapkan juga batu yang tidak terlalu berat dan kalau bisa agak gepeng dan bisa diberdirikan supaya memudahkan kita sewaktu membawanya di punggung kaki.

Setelah semua siap, tim yang bermain lebih dulu akan berjajar di garis lempar. Secara bergiliran setiap anggota tim akan melemparkan batu yang diletakkan di atas punggung kaki mereka ke arah batu lawan yang sebelumnya diletakkan secara berdiri. Melemparnya juga tidak sembarang melempar, kita harus mendekati garis lempar dengan cara ‘engklek’ terlebih dulu sebelum nantinya ‘menyorodotkan’ batu itu.

Jika si pelempar tidak mengenai batu lawan, dia harus melempar batu itu lagi dari tempat batu itu jatuh. Tapi kali ini dia harus melempar melalui kedua kolong kaki dengan tangan. Jadi dia harus jongkok dan melemparkan batu itu melewati kolong kakinya. Tim pelempar harus menjatuhkan semua batu lawannya untuk menjadi pemenang karena kalau tidak tim mereka akan giliran menjadi tim penjaga.

Seperti disebut di awal tadi, permainan Sorodot Gaplok ini memiliki unsur edukasi yang sangat kuat. Karena ternyata permainan ini bisa melatih kerjasama tim, meningkatkan jiwa sportifitas dan juga bisa melatih konsentrasi seseorang. Selain itu permainan ini juga bisa melatih kepemimpinan serta ketangkasan seseorang.

GALAH JIDAR

Galah Jidar (sumber)
Galah jidar dapat ditemui hampir disemua wilayah tanah air yang merupakan permainan tradisional dengan istilah daerah masing-masing. Permainan bisa dilakukan oleh dua orang atau lebih. Namun paling sering permainan dilakukan secara beregu atau berkelompok. Setiap regu atau kelompok terdiri dari masing-masing 3 hingga bisa mencapai belasan orang. Inti permainannya adalah melewati batang (garis) yang menjadi rintangan untuk dilangkahi dengan jumlah langkah semampu mungkin.

Kelompok pertama mempunyai kesempatan memulai permainan. Setelah seluruh anggota kelompok pertama secara bergiliran melakukan loncatan, giliran kelompok kedua melakukan hal yang sama. Setelah semua pemain melompati palang garis, seorang dari kelompok kedua mempunyai tugas untuk mengukur atau memindahkan palang garis.  Untuk menentukan menang dan kalah dalam permainan dalam satu kelompok ada anggota yang menginjak palang garis, yang dinyatakan kalah juga ditentukan bila ada anggota melakukan loncatan sesuai kesepakatan bersama dalam Semisal bilamana anggota pertama kelompok melakukan loncatan melewati palang garis, tapi ada anggota yang setelah dirinya dua atau lebih, maka kelompok tersebut dinyatakan kalah mendapat nilai.


Permainan ini pun bisa dilakuan dengan persaingan antar individu. Pemain dengan langkah yang lebih sedikit dalam melewati batang garis, maka dialah yang menjadi pertama. Secara otomatis, para pemain yang setelahnya harus mengikuti jumlah langkah pemain pertama tersebut. Boleh dengan langkah yang lebih banyak, asalkan pemain setelhnya melangkah dengan jumlah langkah yang sama atau lebih banyak. Pemain yang langkahnya paling banyak maka dialah yang menjaga dan memindahkan batang garis.

Friday, March 6, 2015

GUA BELANDA DAN GUA JEPANG BANDUNG

Didalam Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda - Bandung, terdapat dua buah gua bersejarah. Dua buah gua yang hanya terpisahkan jarak kurang lebih 700 meter tersebut memiliki nama yang disesuaikan dengan negara penjajah yang berkuasa saat gua tersebut di bangun. Gua Belanda yang dibangun pada tahun 1918 memiliki umur yang sedikit lebih tua dibandingkan "adik"-nya Gua Jepang yang baru dibangun pada tahun 1942.

Gua Belanda
Pintu masuk ke gua Belanda 
Semula kawasan Tahura ini merupakan bentangan pegunungan dari barat sampai ke timur yang merupakan tangki “air raksasa alamiah” untuk cadangan di musim kemarau. Oleh karena itu, pada masa kedudukan Belanda tahun 1918, dibangunlah sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Bengkok di Daerah Aliran Sungai (DAS) Cikapundung yang berada di Tahura. PLTA sepanjang 114 meter dengan lebar 1,8 meter ini merupakan PLTA pertama di Indonesia, dimana terdapat sebuah terowongan yang melewati perbukitan batu pasir tufaan. Gua Belanda adalah salah satu Gua di Bandung yang ada di Taman Hutan Raya Juanda selain Gua Jepang. Gua Belanda adalah Gua yang ukurannya lebih besar dan dibangun lebih dulu dari Gua Jepang, dibangun pada masa penjajahan Belanda, dulunya Gua Belanda dibangun untuk dijadikan terowongan PLTA. 

Bekas ruang interogasi
Tangga yang mengarah
ke pos jaga
Di Gua Belanda terdapat sekitar 15 lorong dan beberapa ruangan seperti Ruang Kamar untuk tempat istirahat / tidur para Tentara Belanda, Ruang Interogasi, Penjara atau Ruang Tahanan. Terlihat di atap gua seperti bekas ada penerangan lampu dan terdapat pula seperti bekas rel roli semacam untuk pengangkutan barang atau sejenisnya. Memang belum lama ini gua Belanda dipasangi lampu sebagai penerangan bagi pengunjung, namun entah disengaja atau tidak sekarang gua Belanda gelap gulita. Hal ini mungkin untuk membantu sumber penghasilan warga sekitar yang menyewakan lampu senter untuk membantu para pengunjung mengakses gua. Juga dinding-dindingnya terlihat sudah pakai semen sepertinya Gua Belanda ini telah mengalami renovasi.
  
Bekas ruang tahanan
Lorong sebelah kiri berukuran lebih besar dari pada lorong tengah dan lorong kanan. Mungkin lorong ini digunakan sebagai garasi kendaraan tentara-tentara Belanda karena ukurannya memang cukup untuk dilalui kendaraan roda empat.

Bekas radio yang digunakan
oleh tentara Belanda
Di dalam Gua Belanda masih bisa ditemui lokasi penempatan radio pemancar kuno dan menurut informasi yang saya dapat, radio tersebut terhubung dengan radio Malabar yang ada di Gunung Puntang Pangalengan Badnung Selatan. Memang logis karena radio Malabar mampu mencapai radius 12.000 km jangkauannya.

Pada salah satu lorong gua juga terdapat rel kereta/roli yang berada di lantai gua. Konon gua ini selain menjadi saluran air PLTA Bengkok dulunya digunakan sebagai markas militer, penjara, tempat penyimpanan senjata. Sebuah relung gua kecil tak jauh dari gua utama yang posisinya berada di loring gua sebelah kanan, belok kanan dari gang yang pertama dulunya digunakan sebagai tempat pos jaga.


Gua Jepang
Pintu masuk ke gua Jepang
Sejak Belanda menyerah dan meninggalkan Indonesia, gua Belanda pun diambil alih oleh tentara Jepang.  Tentara Jepang pun membuat gua yang lain yang jaraknya tidak jauh dari gua Belanda. Gua Jepang yang berada di taman Hutan raya Ir. H. Djuanda ini merupakan salah satu dari puluhan gua jepang yang tersebar di seluruh Indonesia. Jika dibandingkan dengan gua belanda, tentu usia gua ini lebih muda dan ruangannya lebih sempit. Konon dikabarkan bahwa Jepang memaksa rakyat Indonesia yang membangun dan menyelesaikan gua tersebut. Sehingga tidak sedikit korban yang berjatuhan akibat kerja paksa tersebut. Sungguh malang para pendahulu kita.

Gua Jepang ini terdiri dari empat lorong utama dan 1 ventilasi atau yang digunakan sebagai pos jaga seperti yang ada di gua Belanda. Gua Jepang tidak mengalami renovasi atau perluasan. Sampai sekarang pun gua Jepang dibiarkan alami dengan diding batu dan beralaskan tanah tidak seperti gua Belanda. Mungkin tentara Jepang tidak sempat merenovasinya. Hal ini karena tentara Jepang tidak bertahan lama menjajah Indonesia seperti tentara belanda. 


Gua ini digunakan Jepang sebagai tempat istirahat, menyimpan persenjataan dan amunisis perang. Usia gua ini tidak lama dihuni tentara Jepang, karena 1945 jepang menyerah kepada tentara sekutu dan Indonesia pun merdeka. Gua ini pun ditinggalkan dan tidak terawat sampai ditumbuhi semak belukar. Pada tahun 1965 gua ini kembali dibuka dan ternyata masih menyimpan sisa-sisa peninggalan tentara Jepang seperti amunisi.

TAHURA Ir. H. DJUANDA BANDUNG


Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda Bandung
Kota bandung yang di riung ku gunung ini memiliki hitan raya yang begitu luas mencapai ratusan hektar di tengah kota Bandung yang kita kenal dengan Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda. Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda merupakan kawasan konservasi yang terpadu antara alam sekunder dengan hutan tanaman yang terletak di Kota Bandung, Indonesia. Luasnya mencapai 590 hektare membentang dari kawasan Dago Pakar sampai Maribaya.

Letak Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda berada di Kampung Pakar, Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan, pada ketinggian antara 770 mdpl sampai 1330 mdpl. Di atas tanahnya yang subur terdapat sekitar 2500 jenis tanaman yang terdiri dari 40 familia dan 112 species. Pada tahun 1965 luas taman hutan raya baru sekitar 10 ha saja, namun saat ini sudah mencapai 590 ha membentang dari kawasan Pakar sampai Maribaya. Saat ini pengelolaannya dilakukan oleh Dinas Kehutanan Pemda Provinsi Jawa Barat (sebelumnya berada di bawah naungan Perum Perhutani) (Sumber).

Terdapat beberapa titik di dalam kompleks hutan raya yang bisa dijadikan tujuan wisata, antara lain:

Curug Dago & Batu Prasasti Kerajaan Thailand
Curug Dago memiliki ketinggian terjunan air hanya sekitar 12 m saja dan berada di ketinggian sekitar 800 m di atas permukaan laut curug ini terbentuk dari aliran sungai Cikapundung yang mengalir dari Maribaya memasuki kota Bandung. Dengan lokasinya yang cukup tersembunyi, di daerah Bukit Dago di dalam kawasan Taman Hutan Raya (THR) Ir H Djuanda, Bandung, dan kurang ditunjang promosi wisata menyebabkan curug ini kian jarang dikunjungi wisatawan.  Tidak jauh dari lokasi air terjun, terdapat dua prasasti batu tulis peninggalan sekitar tahun 1818. Menurut para ahli sejarah, kedua prasasti tersebut konon merupakan peninggalan Raja Rama V (Raja Chulalonkorn) dan Raja Rama VII (Pradjathipok Pharaminthara) dari dinasti Chakri yang pernah berkunjung ke Curug Dago Sumber.

Kolam PLTA Bengkok
Sejak mulai beroperasi tahun 1923, Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Bengkok yang terletak tak jauh dari Taman Hutan Raya Juanda-Dago-Bandung, hingga kini masih berfungsi. Sejak pendiriannya, PLTA ini diberi nama oleh Belanda dengan sebutan Centrale Bengkok. Nama ini pun tetap dipertahankan mengiringi kokohnya bangunan khas Belanda yang melindungi PLTA tersebut. Hingga kini, bangunan kuno yang berdiri di areal lahan seluas 5 hektar ini, menjadi salah satu heritage milik rakyat Jawa Barat dan selalu dijadikan tujuan wisata oleh para pelajar atau wisatawan domestik lainnya (Sumber).

Monumen Ir. H. Djuanda
Di lokasi wisata ini terdapat pula Monumen Ir. H. Djuanda. Tempat ini merupakan prasasti dan museum peninggalan sejarah Ir. H Juanda. Bisa menambah banyak pengetahuan dan sejarah. Dari Museum dan monumen Ir.H Juanda pun bisa dipetik banyak inspirasi, melalui sejarah mantan Perdana Menteri Indonesia ke 10 ini, banyak hal yang patut kita teladani, berbagai sumbangan dan dedikasi terhadap bangsa dan negara di masa lalu sangat maksimal, sampai mengeluarkan Deklarasi Djuanda yang berpengaruh.

Goa Belanda
Belanda membuat terowongan ini untuk keperluan saluran air bagi pembangkit listrik tenaga air pertama di Indonesia yaitu PLTA Bengkok. Namun pada perkembangannya, air untuk pembangkit listrik kemudian disalurkan menggunakan pipa-pipa besar, sedangkan terowongan yang membelah bukit tersebut digunakan untuk kepentingan militer khususnya sebagai pusat telekomunikasi. Selanjutnya terowongan-terowongan tersebut ditambah sehingga di dalamnya menjadi lebih luas dengan beberapa lorong. Di dalamnya terdapat ruangan-ruangan lain yang berbeda-beda fungsinya. Terdapat ruangan pengawasan, penyimpanan senjata dan amunisi, termasuk penjara dan tempat interogasi.

Goa Jepang
Setelah Jepang masuk ke Indonesia, tentara Jepang kemudian mengambil alih dan menguasai Gua Belanda. Selain itu tentara Jepang juga membangun gua lainnya sebagai basis pertahanan mereka tidak jauh dari gua Belanda. Jepang menggunakan tenaga kerja paksa sehingga konon tidak sedikit korban yang berjatuhan selama pembuatan gua ini. Saat Jepang menyerah terhadap tentara sekutu, tempat ini adalah pertahanan terakhir bagi tentara Jepang yang ada di Bandung. Setelah Jepang meninggalkan Indonesia, gua inipun terlantar, tertutup oleh semak belukar dan hutan. Sampai kemudian ditemukan kembali pada sekitar tahun 1965, konon pada waktu itu masih banyak ditemukan sisa-sisa peninggalan tentara Jepang seperti senjata dan amunisi di dalamnya. Sampai sekarang pun kondisi gua Jepang ini masih tetap dibiarkan dengan kondisi alaminya, alias tidak ada perubahan atau renovasi.

Curug Lalay
Lalay itu Kelelawar. Jadi, Curug Lalay ialah Air Terjun Kelelawar. Dinamai Curug Lalay karena ternyata di sekitar curug ini banyak sekali terdapat Lalay atau Kelelawar itu. Keadaan Curug Lalay bisa dikatakan masih memiliki keasrian dan kealamian yang tinggi. Curug Lalay berada di ketinggian 1.800 meter diatas permukaan laut dan memiliki kesejukan yang tidak perlu diragukan lagi. Curug Lalay ini merupakan curug terakhir dari sebuah aliran sungai, karena ternyata di lokasi tersebut banyak terdapat curug lain yang lokasinya berada di atas Curug Lalay. Selain lokasinya yang terdapat dikawasan Bandung Utara yang berhawa sangat sejuk, curug layung juga berada pada ketinggian 1.400 meter dpl dan memiliki pemandangan yang sangat indah.

Curug Omas Maribaya
Curug ini memiliki ketinggian terjunan air sekitar 30 meter dengan kedalaman 10 m yang berada di aliran sungai Cikawari. Di atas air terjun ini terdapat jembatan yang dapat digunakan untuk melintas dan melihat air terjun dari posisi atas. Dari atas jembatan ini akan terlihat bentangan dasar sungai yang merupakan pertemuan dua aliran sungai Cikawari dan Cigulun yang nantinya menjadi daerah Aliran Sungai (DAS) Cikapundung Hulu. Aliran ini mengalir dan berbelok membelah kawasan Tahura tersebut. Para pengunjung pun harus hati-hati karena tangga-tangganya licin dikarenakan basah oleh cipratan air curug. Di lokasi ini pun tidak jarang kawanan monyet yang turun ke jalan, tapi tidak membahayakan pengunjung namun tetap harus waspada dan hati-hati. 

Tebing Keraton
Tebing Karaton merupakan sebuah tebing yang berada di dalam kawasan Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda. Banyak yang bilang ini ‘Tebing Keraton‘, padahal nama aslinya sunda abis, ‘Tebing Karaton’ yang artinya itu Kemegahan Alam menurut papan informasi yang ada disana. Ketinggian Tebing Keraton yang berada tepat di daerah Dago Pakar ini sekitar 1200 mdpl, lumayan banget buat ngeliat pemandangan hutan dari atas. Bebrbeda dengan puncak lain di kota Bandung yang keika melihat kebawah akan dihiasi lampu-lampu kota. Dari Tebing Keraton dapat menikmati pemandangan keren dan spektakuler. Bukan lampu kota, melainkan hutan. Ya, Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda dari atas.

Tiket Masuk
Untung memasuki kawasan Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda pengunjung akan dikenakan tiket masuk ke lokasi tersebt dengan harga yang variatif untuk setiap lokasinya. Untuk tiket masuk Dago Pakar (gua Belanda, gua jepang, Monumen Ir. Djuanda, Curug Lalay, Curug Omas Maribaya) seharga Rp 10.000 per orang. Untuk Tebing Keraton Rp 11.000 per orang. Untuk PLTA Bengkok dan Curug Dago tidak ada tiket masuk alias free.

Rute Menuju THR Djuanda
Untuk sampai ke lokasi Taman Hutan Raya ini, pengunjung yang berasal dari dalam luar kota Bandung bisa melalui rute di bawah ini:

Buah Batu
Buah Batu > Gurame > Karapitan > Sunda > Sumatra > Aceh > Sulawesi > Seram > MArtadinata > Ir.H.Djuanda > THR Djuanda/Dago Pakar

Pasteur
Terusan Pasteur > Flyover Pasupati > Exit Tamansari > Cikapayang > Ir.H.Djuanda > THR Djuanda/Dago Pakar

Jakarta
Jakarta (Cawang) > Tol Jakarta-Cikampek > Tol Purbaleunyi (Cipularang) > Exit Pasteur > Terusan Pasteur > Flyover Pasupati > Exit Tamansari > Cikapayang > Ir.H.Djuanda > THR Djuanda/Dago Pakar

Tuesday, March 3, 2015

Goa Pawon, Bukti Keberadaan Manusia Prasejarah

Gua Pawon
Di daratan Bandung sekitar 5.000 – 9.500 tahun yang lalu terdapat sekelompok manusia yang bertahan hidup dengan berburu. Mereka mengikuti pergerakan hewan buruannya dari Cipatat di Barat hingga ke wilayah Dago Pakar di Utara. Dengan menggunakan kapak batu para pemburu memburu sapi, gajah bahkan kera, lalu mengolah hasil buruan dengan api sebelum memakannya. Dengan gaya hidup begitu mereka memiliki rentang usia 18-35 tahun.

Berada di ketinggian 601 meter di atas permukaan laut, Goa Pawon terletak di puncak Bukit Pawon yang sempat  menjadi daerah penambangan batu kapur. Pemprov Jabar segera mengambil langkah penyelamatan dengan melarang penambangan batu di sekitar lokasi situs.

Untuk masuk ke pintu goa kaki harus meniti batuan kapur besar yang kasar, keras, namun berongga seperti karang. Pengunjung pun harus rela menahan sengatan aroma khas Goa Pawon yang mungkin belum pernah tercium sebelumnya. Goa dengan panjang 38 M dan lebar 16 M ini  memiliki 3 buah rongga layaknya kamar serta sebuah jendela alami di atas goa tempat masuknya cahaya matahari.

Kalau berani, bisa langsung masuk dan menjelajahi gua itu sendiri. Namun bila merasa tempat itu sedikit seram, gelap dan takut tersesat maka disarankan mencari penduduk sekitar yang bisa dijadikan guide. Kalau memang butuh pemandu, tidak ada salahnya mencari orang-orang yang sudah biasa mengantar setiap tamu yang hendak berkunjung ke goa ini.

Ada tiga mulut gua yang seperti mendadahi minta dimasuki, dan ada satu lagi yang letaknya di bawah, jadi seperti kolam kering yang di pojoknya ada sebuah celah besar. Saat berada disana, disarankan untuk mengambil foto yang banyak, karena pemandangannya sangat bagus sekali. Sayang jika tidak diabadikan. Di bagian kiri atas gua ini, ada sebuah spot yang dinamakan Sumur Bandung. Sumur Bandung ini sebenarnya bukanlah sebuah sumur, lebih seperti sebuah kolam kecil yang cukup dalam yang tentu aja berisi air

Peta Bandung-Gua Pawon
Tidak sulit menemukan Goa Pawon khusunya bagi yang berdomisili di Bandung. Sesampainya di sisi kanan Jalan Raya Padalarang Cianjur akan terlihat plang penunjuk situs Goa Pawon. Dari situ lokasi masih harus ditempuh sekitar 2 kilometer melewati perkampungan. Akses jalannya memang berkelok, menanjak dan menurun namun rata dan layak dilewati. Hanya saja lebar jalan hanya pas untuk dua mobil ukuran standar, membuat pengunjung pengguna mobil harus berhati-hati.


Referensi Tambahan :

Monday, March 2, 2015

LP SUKAMISKIN BANDUNG ; LAPAS PARIWISATA



Penjara Sukamiskin yang sekarang di kenal dengan nama Lapas Klas I Sukamiskin dibangun pada masa kolonial Belanda tahun 1918 dan mulai difungsikan pada tahun 1924 sebagai tempat hukuman bagi kaum intelektual yang dianggap melakukan kejahatan politik karena bertentangan dengan Penguasa Belanda dengan nama  “STRAFT GEVANGENIS VOOR INTELECTUELEN”, berlokasi di Jalan A.H. Nasution Nomor 114 Bandung (sumber) .

Dipenjara seluas lebih dari 2 hektar ini, mantan presiden pertama RI Soekarno, pernah menjalani hukuman disalah satu sel dari 552 sel penjara Sukamiskin pada bulan Desember 1930. Ir. Soekarno pernah menghuni Kamar No. 1 Blok Timur Atas. Kini, bekas sel penjara yang ditempati proklamator itu diberi tulisan "Bekas Kamar Bung Karno".Dipenjara inilah Ir. Soekarno menulis buku berjudul “Indonesia Menggugat”. Judul buku yang kemudian menjadi inspirasi untuk penamaan “Gedung Indonesia Menggugat” Bandung ini disebut-sebut sebagai pengganti Lanraard (gedung pengadilan Belanda). Meski dalam beberapa literatur, Indonesia Menggugat disebut-sebut sebagai pledoi terkenal yang dibuatnya di penjara Banceuy.

Bangunannya memiliki ciri khas tersendiri, jika dilihat dari atas mirip kincir angin, karena pembagian blok mengikuti arah mata angin, kemana bilah “kincir” menunjuk: blok utara, blok selatan, blok barat dan blok timur. Masing-masing blok memiliki 2 (dua) lantai yang saling berhubungan melalui bangunan bundar paling tinggi ditengah sebagai porosnya.

Sejak ditangani pemerintah Indonesia pasca kemerdekaan, secara fisik bentuk bangunan LP Sukamiskin tidak banyak mengalami perubahan, kecuali beberapa bangunan tambahan untuk kantor sipir dan kepala lembaga pemasyarakatan serta patung seorang ibu yang sedang menggendong anaknya, di halaman depan gedung.

Sejalan dengan perkembangan konsep perlakuan terhadap pelanggar hukum dari sistem penjara ke Sistem Pemasyarakatan, Penjara Sukamiskin berubah menjadi Lembaga Pemasyarakatan Khusus Dewasa Muda Sukamiskin Bandung, kemudian berdasarkan keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia  Nomor: 01-PR.07.03 Tahun 1985 ditetapkan menjadi Lembaga Pemasyarakatan Klas I Sukamiskin. Dan pada tanggal 22 Juni 2010 telah dilakukan penandatanganan Prasasti Lapas klas I Sukamiskin menjadi Lapas Pariwisata oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia.

Lapas pariwisata, kiranya menjadi konsep baru dalam dunia hukum di Indonesia, termasuk juga dalam dunia kepariwisataan. Lapas yang identik sebagai tempat pelanggar hukum menghabiskan masa hukumannya, kini menjadi hal yang kontras saat dihadapkan dengan kegiatan pariwisata. Kebanyakan kegiatan pariwisata mungkin akan selalu merujuk pada tempat-tempat yang aman dan nyaman. Dengan kata lain, tempat yang identik dengan ketidaknyamanan dan ketidakamanan pastinya akan selalu dihindari.

Secara umum, pembentukan Lapas Sukamiskin Bandung sebagai tempat pariwisata ini bertujuan untuk mengedukasi masyarakat tentang masalah hukum. Sementara tujuan lainnya adalah mengenalkan Sukamiskin sebagai Lapas yang memiliki aset sejarah dalam perjuangan dan kemerdekaan Indonesia. Bagaimana pun, lapas ini pernah menjadi tempat penahanan orang-orang besar Indonesia. Di lapas ini jugalah, kita bisa merefleksikan masa lalu yang berkaitan dengan perjuangan Indonesia (sumber).





PEMANDANGAN BANDUNG DI PUNCAK BINTANG BUKIT MOKO

Puncak Bintang Bukit Moko Bandung
Banyak tempat di Bandung yang dijadikan sebagai tempat wisata alam yang memanjakan pengunjungnya dengan pemandangan memukau. Salah satunya adalah wisata alam, Bukit Moko. Tanggal 27 Februari 2015 ini saya dan teman saya mengunjungi lokasi wisata ini yang katanya memiliki pemandangan bagus.

Bukit Moko berada disekitar ketinggian 1440 meter dari permukaan laut. Dari atas bukit ini kamu bisa melihat pemandangan 180 derajat kota Bandung. Hal inilah yang membuat Bukit Moko disebut sebagai puncak tertinggi di kota Bandung oleh warganya. Selain itu, kamu juga bisa menikmati pemandangan hutan pinus sambil berjalan menuju Puncak Bintang atau bisa dibilang puncak tertinggi Moko.





Selain bisa melihat pemandangan cekungan Bandung yang dikelilingi oleh gunung-gunung, di Bukit Moko ini juga kita bisa memesan makanan dan minuman di Warung Daweung, satu-satunya warung yang ada di sini. Makanan dan minuman hangat di Warung Daweung dapat mengurangi rasa dingin dari udara di Bukit Moko. Makanan atau minuman hangat ini memang paling cocok untuk menemani ngadaweung (melamun) sambil menikmati indahnya panorama Kota Bandung.

Banyak orang yang datang ke sini menjelang malam hari. Selain untuk menghindari cuaca siang yang panas alasan lainnya adalah untuk bisa melihat sunset yang sangat indah. Saat malam tiba, suguhan citylight Kota Bandung yang seperti ratusan bintik-bintik cahaya akan memanjakan mata semua. Bagi yang belum puas dengan melihat sunset dan citylight, cukup dengan bermalam di sini bisa melihat indahnya matahari terbit dari balik gunung yang mengelilingi Kota Bandung.

Untuk sampai ke Bukit Moko bisa lewat beberapa jalur. Sayangnya yang saya tahu hanya via jalur Padasuka Cicaheum. Jika melewati jalur Padasuka, sepanjang perjalanan akan disuguhkan rumah-rumah warga yang berjejer di sepanjang jalan. Kemudian saat dilanjutkan ke atas, akan menemui tempat yang namanya Caringin Tilu. Di tempat ini kita bisa sedikit beristirahat sambil menikmati sejuknya udara di bawah pohon beringin yang sangat besar sebelum melanjutkan perjalanan. Untuk dapat mencapai Bukit Moko, perlu berjalan terus ke atas. Jika sudah melihat bangunan kayu yang bernama Wrung Daweung, itu artinya sudah sampai di Bukit Moko. Pengunjung akan dikenai voucher wajib Rp 10.000 dan 25.000 untuk masuk ke Warung Daweung. Tapi pengunjung tidak harus selalu jajan di situ. Jika pengunjung ingin langsung ke Puncak Bintang pun bisa dengan hanya membeli Tiket masuk Rp. 8.000 per orang.

Bagi yang ingin berwisata ke Bukit Moko dan mengunjungi Puncak Bintang, disarankan untuk memeriksa kendaraan terlebih dahulu, karena rute perjalanan menuju Bukit Moko bukan rute yang mudah dilalui. Kondisi badan dan kendaraan harus dalam keadaan prima. Untuk sampai ke Bukit Moko tidak ada kendaraan umum, jadi jika tidak memiliki kendaraan pribadi, maka harus ditempuh dengan berjalan kaki atau menumpang mobil pick up yang kebetulan menuju ke sana.


Referensi Tambahan :