Thursday, September 25, 2014

KEBERADAAN SIM PENDIDIKAN KEMENDIKBUD DAN IMPLIKASI PADA PERUBAHAN DAN PENGEMBANGAN


Perkembangan Teknologi kehidupan dikenal dengan e-life, artinya kehidupan ini sudah dipengaruhi oleh berbagai kebutuhan secara elektronik. Sekarang ini sedang semarak dengan berbagai huruf yang dimulai dengan awalan e seperti E-Book, E-Government, E-Education, E-Library, E-Journal, E-Learning, E-Laboratory, E-Biodiversitiy, dan yang lainnya lagi yang berbasis elektronika.
Sistem Informasi Manajemen Pendidikan menjadi faktor penting untuk meningkatkan pelayanan sekaligus penghematan bagi Pendidikan dan kini telah menjadi salah satu standar mutu sebuah Pendidikan. Pemerintah dalam merumuskan kebijakan pembangunan pendidikan Nasional telah membuat kebijakan yang disesuaikan dengan tuntutan regional maupun global yang diselaraskan dengan otonomi daerah. Pemikiran ini direalisasikan dalam Undang-undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menjadi dasar kebijakan untuk membangun pendidikan Nasional.
Dengan kemajuan perkembangan Pendidikan di Indonesia, baik dari aspek administratif atau teknologi, maka proses pelayanan Pendidikan di Indonesia dapat berlangsung secara efektif dan efisien. Untuk mengembangkan mutu Pendidikan dibutuhkan beberapa fasilitas pendukung, dimana salah satu fasilitas pendukung tersebut adalah aplikasi teknologi informasi dalam bidang sistem informasi manajemen Pendidikan.
Pemerintah menyadari bahwa untuk menyusun rencana kegiatan-kegiatan dalam program pembangunan pendidikan diperlukan kepekaan dari pengelola pendidikan untuk melihat permasalahan-permasalahan dalam pendidikan seperti mutu pendidikan, mutu penyelenggara pendidikan, sarana dan prasarana pendidikan dan permasalahan mengenai anak putus sekolah. Dengan memahami permasalahan-permasalahan pendidikan yang dihadapi, maka pada tahap selanjutnya pengelola pendidikan dapat membuat rencana kegiatan-kegiatan pembangunan pendidikan yang mampu menjawab permasalahan-permasalahan tersebut.
Penyusunan SIMP akan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat bila dalam proses pengolahannya juga memperhatikan kebutuhan dan aspirasi yang ada di masyarakat sehingga kegiatan pembangunan pendidikan juga akan menyentuh kebutuhan dan perkembangan yang ada di masyarakat. Oleh sebab itu untuk membangun program pendidikan yang valid, terukur dan berkesinambungan diperlukan data-data pendukung yang lengkap, valid, akuntabel dan terbarukan (up to date). Berdasar pada kebutuhan tersebut kendala yang dihadapi oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tadi semaksimal mungkin diatasi, salah satunya yakni dengan melakukan sistem pendataan terbaru dimana proses transaksi data dilakukan dalam skala mikro dan terpusat daring (online), dan dalam waktu nyata (real time). Sistem ini disebut dengan Dapodik (Daftar Pokok Pendidik). Untuk mendukung sistem Dapodik tersebut, Biro Perencanaan Sekretariat Jendral Kementerian Pendidikan Nasional membangun jaringan pendidikan berskala nasional atau yang disebut dengan JARDIKNAS (Jejaring Pendidikan Nasional). Melalui JARDIKNAS ini sistem Dapodik dapat diakses dan dioperasikan secara langsung (online) dan saat itu juga (real time) oleh seluruh kantor Dinas Pendidikan Provinsi dan Kabupaten/kota seluruh Indonesia.

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah "Bagaimana SIMP yang dikembangkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan?"

Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk menjelaskan bagaimana keberadaan SIMP yang dikembangkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.



Sistem Informasi Manajemen Pendidikan (SIMP) merupakan suatu sistem berbasis komputer yang menyediakan informasi bagi beberapa pemakai yang mempunyai kebutuhan yang serupa (Mc. Leod: 1995)- Sejalan dengan itu, Stoner (1982) juga menyatakan bahwa SIMP merupakan metode formal yang menyediakan informasi yang akurat dan tepat waktu kepada manajemen untuk mempermudah proses pengambilan keputusan dan membuat organisasi dapat melakukan fungsi perencanaan, operas secara efektif dan pengendalian. David etal (2010) menyatakan bahwa SIMP merupakan pengembangan dan penggunaan sistem-sistem informasi yang efektif dalam organisasi.[1]
Dari teori di atas dapat disimpulkan bahwa Sistem Informasi Manajemen Pendidikan merupakan perpaduan antara sumber daya manusia dan aplikasi teknologi informasi untuk memilih, menyimpan, mengolah, dan mengambilkembali data dalam rangka mendukung kembali proses pengambilan keputusanbidang pendidikan. Data-data tersebut adalah data empiris atau data/faktasebenarnya yang benar-benar ada dan dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya.
System Informasi Manajemen (SIM Sekolah/Pendidikan) ini terbagi menjadi 8 sub-sistem yaitu :
1.      Sistem Informasi Profil (Portal Sekolah) : yang nantinya akan berisi Profil Sekolah, Visi, Misi, Fasilitas, program-program, Berita/Artikel, kegiatan/agenda, informasi kesiswaan, forum, galeri foto, dan buku tamu.
2.      Sistem Informasi Personalia : yang berisi Data Guru dan Staf untuk mengelola informasi penting tentang tenaga pengajar maupun staf yang terdaftar di sekolah, seperti biodata, pangkat, jabatan, alamat, status bekerja, jam kerja, riwayat pendidikan, riwayat karir, riwayat pelatihan, tingkat kehadiran, info gaji dan lain-lain
3.      Sistem Informasi Sarana dan Prasarana : berisi mengenai Manajemen Aset sekolah mulai dari penomoran aset, lokasi aset, penggunaan aset dan jumlah aset
4.      Sistem Informasi Keuangan : akan berisi data pembayaran biaya pendidikan siswa, seperti SPP, uang pembangunan, dan biaya-biaya lain. Data pembayaran tersebut akan ditampilkan dalam format laporan yang akan memudahkan pihak sekolah dalam melakukan pemeriksaan dan evaluasi, seperti :
o    Laporan siswa yang belum melakukan pembayaran
o    Laporan siswa yang sudah melakukan pembayaran
o    Laporan-laporan yang berkenaan dengan honor guru/karyawan
5.      Sistem Informasi Siswa : akan berisi data Penerimaan Siswa Baru, Biodata siswa, Pengelolaan Kenaikan Kelas Siswa (manual maupun otomatis), Pengelolaan Kelulusan/Alumni, Pencetakan Kartu Siswa, dan Pengelolaan Kedisiplinan Siswa
6.      Sistem Informasi Akademik : berisi Pengelolaan Kurikulum, Penjadwalan Satuan Pengajaran, Pengelolaan Nilai Akademik Siswa dan Laporan Hasil Studi Siswa, dan Presensi Siswa dalam kegiatan PBM
7.      Sistem Informasi Perpustakaan : berisi Pengelolaan buku, Pengelolaan anggota, Transaksi peminjaman dan pengembalian buku, dan Manajemen Arsip Digital
8.      Sistem E-Learning : berisi Proses pendidikan menggunakan sistem online maupun intranet bagi siswa dan guru berupa modul sekolah, tanya-jawab, kuis online, maupun tugas-tugas.[2]


Awal dari proses sebuah perencanaan adalah perumusan visi dan misi. Visi harus dapat menjawab pertanyaan apa yang sebaiknya dihasilkan dari pengembangan pendidikan terhadap berbagai kebutuhan yang dihadapi.  Sedangkan misi berkaitan dengan hasil analisis terhadap kecenderungan perubahan makro yang berpengaruh pada masyarakat yang pada intinya dapat terjadi dalam dunia pendidikan.
Perumusan visi dan misi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan adalah sesuai dengan tugas melaksanakan kewenangan desentralisasi dan tugas dekonsentrasi di bidang pendidikan. Maka rumusan visi dan misi disamping memperhatikan nilai-nilai luhur yang terdapat dalam masyarakat potensi sumber daya pendidikan, tantangan yang dihadapi serta hasil yang diharapkan pada masa mendatang mengacu pada visi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).
VISI
Terselenggaranya Layanan Prima Pendidikan dan Kebudayaan Nasional untuk Membentuk Insan Indonesia yang Cerdas dan Berkarakter Kuat
MISI
·         Meningkatkan KETERSEDIAAN layanan pendidikan dan kebudayaan;
·         Memperluas KETERJANGKAUAN  layanan pendidikan dan kebudayaan;
·         Meningkatkan KUALITAS layanan pendidikan dan kebudayaan;
·         Mewujudkan KESETARAAN dalam memperoleh layanan pendidikan dan kebudayaan;
·         Menjamin KEPASTIAN / KETERJAMINAN memperoleh layanan pendidikan;
·         MELESTARIKAN DAN MEMPERKUKUH Bahasa dan Kebudayaan Indonesia.
Untuk menopang visi dan misi tersebut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melaksanakan tugas dan fungsinya secara profesional dengan pembagian kerja yang merata yakni :
Tugas :
Menyelenggarakan urusan di bidang pendidikan dan kebudayaan dalam Pemerintahan untuk membantu Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan negara.
Fungsi :
1.      Perumusan, penetapan, dan pelaksanaan kebijakan di bidang pendidikan dan Kebudayaan;
2.      Pengelolaan barang milik negara yang menjadi tanggung jawab Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan;
3.      Pengawasan atas pelaksanaan tugas di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan;
4.      Pelaksanaan bimbingan teknis dan supervisi atas pelaksanaan urusan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di daerah;
5.      Pelaksanaan kegiatan teknis yang berskala nasional.
Sesuai tugas pokok dan fungsinya masing-masing sub dinas ini menyusun
rencana mengolah dan mendistribusikan data yang nantinya akan dirumuskan dalam Sistem Informasi Manajemen Pendidikan Provinsi Jambi setiap tahun Ajaran.
Setiap lembaga pendidikan yang bernaung dibawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan secara rutin memberikan laporan bulanan mulai dari pendidikan dasar hingga menengah, baik yang berstatus negeri maupun swasta. Laporan yang berasal dari setiap lembaga pendidikan ini berisi data dan informasi mengenai keadaan sekolah yang berkaitan dengan sarana prasarana keadaan guru, keadaan siswa, proses pembelajaran serta data-data lain yang turut menunjang dalam pengembangan pendidikan di sekolah-sekolah tersebut.
Tujuan pengembangan SIMP sendiri dimaksudkan agar kebijakan mengenai distribusi guru mata pelajaran, pembagian sarana prasaranadana bantuan pemerintah pusat maupun provinsi ataupun kebijakan lain yang berkaitan dengan pendidikan dapat diputuskan secara adil dan merata. Selain itu, pengembangan SIMP juga bertujuan untuk memantau kemajuan lembaga pendidikan itu sendiri baik berupa fisik maupun kemajuan non fisik".
Selain tujuan di atas, secara rinci tujuan pengembangan SIMP di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan adalah sebagai berikut:
1.      Landasan dalam mengambil keputusan mengenai perumusan kebijakan, perencanaan penyelenggaraan pendidikan, pengembangan proyek pendidikan, penyusunan anggaran dan hal lain yang terkait dalam penyelenggaraan pendidikan.
2.      Menyediakan data terbaru untuk pelaporan kebijakan pimpinan dalam membuat perencanaan dan penyelenggaraan pendidikan baik dalam skala nasional
3.      Landasan dalam rencana pembinaan penyelenggaraan pendidikan secara merata dengan penyesuaian kebutuhan dan kondisi di setiap provinsi, dan kabupaten/ kota.
4.      Penyediaan data dan informasi mengenai penyelenggaraan pendidikan yang sewaktu-waktu dapat diminta oleh pejabat pemerintah setempat pemerintah pusat badan legislatif LSM maupun masyarakat umum.
5.      Pemantauan dan evaluasi pelaksanaan dan pencapaian tujuan pendidikan di lembaga pendidikan itu sendiri.
Pada penerapannya, SIM Pendidikan terasa manfaatnya oleh pra pengguna, antara lain sebagai berikut:
Beberapa kegunaan/fungsi sistem informasi antara lain adalah sebagai berikut:
1.        Meningkatkan aksesibilitas data yang tersaji secara tepat waktu dan akurat bagi para pemakai, tanpa mengharuskan adanya prantara sistem informasi.
2.        Menjamin tersedianya kualitas dan keterampilan dalam memanfaatkan sistem informasi secara kritis.
3.        Mengembangkan proses perencanaan yang efektif.
4.        Mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan akan keterampilan pendukung sistem informasi.
5.        Menetapkan investasi yang akan diarahkan pada sistem informasi. 






Dalam dunia pendidikan keberadaan sistem informasi merupakan salah satu komponen yang tidak dapat dipisahkan dan sangat penting dari aktivitas pendidikan itu sendiri. Hal ini berguna dalam proses pendidikan, sehingga arah dan tujuan tersebut dapat terealisasi dengan benar sesuai dengan tuntutan pendidikan (EtiRochaerty, 2006:14) Keberhasilan dalam penyelenggaraan lembaga pendidikan akan sangat tergantung kepada manajemen komponen-komponen pendukung pelaksanaan kegiatan seperti kurikulum, siswa pembiayaan, tenaga pelaksan4 sarana prasarana Komponen-komponen tersebut merupakan satu kesatuan dalam mencapai tujuan pendidikan.
Perencanaan dan pengembangan SIMP di atas ditujukan untuk mengatasi ketidak tersediaan data dan informasi yang memadai tentang dunia pendidikan di Provinsi Jambi yang mencakup 9 kabupaten dan 2 kota baik sekolah dasar hingga sekolah menengah, swasta maupun negeri.
Oleh karenanya diperlukan persiapan yang baik yang dilakukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam hal kemampuan dasar manajemen, ketersediaan instrument statistik yang akan dipergunakan untuk menghimpun data, serta berbagai fasilitas pengolahan data baik secara komputerisasi maupun manual untuk memudahkan proses pengolahan data hinga menjadi informasi yang bermanfaat.







EtiRochaety, PontjoriniRahayuningsihdkk. 2006. Sistem Informasi Manajemen Pendidikan. Bumi Aksara : Jakarta
Hanckey, 2007, system informasi untuk pendidikan, (online) (http://www.hanckey.pbwiki.com, diakses 16 September 2014)
Undang-undang Sisdiknas Sistem Pendidikan Nasional 2003, Jakarta: sinar Grafika,2006
http://www.websekolahindonesia.com/index.php/articles/simdik/111-konsep-sistem-informasi-manajemen-pendidikan-2.html, diakses pada 16 September 2014.








[1]http://www.websekolahindonesia.com/index.php/articles/simdik/111-konsep-sistem-informasi-manajemen-pendidikan-2.html, diakses pada 16 September 2014.
[2] Hanckey, 2007, system informasi untuk pendidikan, (online) (http://www.hanckey.pbwiki.com, diakses 16 September 2014)

AMIGOS X SIEMPRE

a que tu (clap clap) y yo (clap clap) .....amigos por siempre, encontremos un gran final..... masih ingat lirik lagu ini kan?? Yups, itu potongan lirik original soundtrack telenovela Amigos x Siempre. Masih ingat dengan telenovela satu ini? Telenovela ini dulu disiarkan di salah satu televisi swasta di Indonesia, dan terdiri dari 115 episode yang sudah di dubbing ke dalam bahasa Indonesia tentunya. Telenovela ini cukup tenar di sekitar tahun 2000-an dan menjadi favorit anak-anak pada masa itu, tidak terkecuali saya yang pada saat itu baru duduk di kelas 6 SD. Saya akan membahas sedikit tentang alur cerita telenovela ini dan seperti apa pemainnya saat dulu dan sekarang.
Telenovela ini bercerita tentang kehidupan sekolah yang bergengsi, cenderung kaku dan sangat disiplin. Sekolah itu bernama “Instituto Vidal”. Pemilik sekolah ini adalah Julia Vidal yang sangat keras dan ketat. Dahulu dia adalah seorang yang hangat dan ramah tetapi sejak kematian suami dan anaknya, Laura Vidal, ia berubah menjadi wanita yang dingin.
Anna yang menjadi tokoh utama film ini adalah cucu dari pemilik sekolah Vidal dan punya kekuatan yang bisa mindahin sesuatu dengan Cuma dipelototin doank. Ayah dari Anna, Fransisco Capistrán, yang merupakan menantu dari Julia Vidal alias suami dari Laura Vidal adalah orang jahat yang mencoba untuk membuat supaya dirinya disayangi dengan tujuan mencuri sekolah itu.  Berbeda sekali dengan puterinya, Anna yang baik hati, manis, juga cerdas dan punya kekuatan yang bisa memindahkan sesuatu dengan kekuatan fikirannya, tetapi dianggap tidak bisa berkomunikasi dengan baik karena trauma atas kematian ibunya. Kedatangan pamannya, Salvador, dan anak angkatnya, perlahan membuat Ana merasa tidak sedih dan kesepian lagi. Cerita berkembang menjadi pertempuran antara yang baik dan yang jahat, penindasan dan kebebasan, serta serangkaian petualangan dan percintaan Ana dan sahabat-sahabatnya. Pokoknya luar biasa telenovela yang satu ini hehe. Berikut ini adalah foto para pemeran film Amigos x Siempre, lihat perbedaannya antara saat bermain Amigos dulu dan bagaimana mereka sekarang.

1. Belinda Peregrín Schüll as Anna Capistran Vidal

2. Martín Ricca as Pedro Naredo 


3. Christopher Uckermann as Santiago del Valle

4. Naidelyn Navarette as Renata Sanchez Gavito 


5. Griselle Margarita as Patricia

6. Ronald Duarte as Rafael

7. Mickey Santana as Gilberto Sanchez Gavito 


8. Daniela Mercado as Lourdes

9. Ernesto Laguardia as Salvador Vidal 


10. Adriana Fonseca as Melisa



Referensi :


Wednesday, September 17, 2014

HAKIKAT MANAJEMEN MUTU PENDIDIKAN ISLAM

Oleh:
Rijal Jauhari Syahrulloh[1]



Abstrak
Almost all the nations of the world continue to make the process to improve the quality of education in their countries. For the key to the future of a nation is determined by the quality of education, which is shown by the existence of  quality education institutions. Each educational institutions, including Islamic education institutions, are required to give the best service to the customers. In order for this task be materialize, Islamic educational institutions need to be supported by good management systems. School Improvement, may be referred to as a combination of knowledge-skills, art, and entrepreneurship. All efforts to improve the quality of Islamic education institutions have to pass this variable. The learning process is a factor that directly determines the quality of the school. This paper will purpose the ways and steps to implement the management of quality in Islamic education institution.
Kata kunci : Islamic education, quality, management, institution,


A.  Pendahuluan
Dalam Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang Sistim Pendidikan Nasional (sisdiknas) bab III pasal 4 ayat 6 disebutkan bahwa prinsip penyelenggaraan pendidikan adalah dengan memperdayakan semua komponen masyarakat melalui peran serta dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu layanan pendidikan. Problema pendidikan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia saat ini, tanpa terkecuali pendidikan Islam di antaranya adalah: 1) masih kurangnya pemerataan memperoleh pendidikan, 2) masih rendahnya mutu pendidikan; 3) masih lemahnya manajemen pendidikan, di samping belum terwujudnya keunggulan ilmu pengetahuan dan teknologi di kalangan akademisi dan kemandirian. Berbagai usaha telah dilakukan untuk mengatasi masalah pendidikan lebih khusus pendidikan Islam, misalnya penggantian kurikulum nasional dan lokal dari kurikulum 2006 atau yang lebih dikenal dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menjadi kurikulum 2013, namun dengan melalui penggantian kurikulum ini bukannya menyelesaikan permasalahan pendidikan tapi justru malah menambah permasalahan baru dalam pendidikan di negeri ini. Usaha selanjutnya dalam mengatasi problema pendidikan yaitu peningkatan kompetensi dan konvensasi guru melalui pelatihan dan sertifikasi, pengadaan buku dan alat pelajaran, pengadaan dan perbaikan sarana dan prasarana pendidikan, dan peningkatan mutu manajemen sekolah.
Terlebih dalam pengelolaan pendidikan Islam yang merupakan salah satu segi penopang kehidupan yang urgen untuk membangun peradaban dan menjadikan manusia yang lebih baik dan berakhlak mulia. Pengelolaan pendidikan Islam yang profesional dan bermutu bukan merupakan hal yang mudah bagi seseorang atau lembaga pendidikan di negeri ini.
Dunia pendidikan Islam merupakan tempat yang penuh dengan liku-liku permasalahan yang secara subtansial bisa dikatakan sebagai cawah candradimuka pemeras waktu, tenaga, biaya dan pikiran dalam membentuk manusia yang paripurna. Oleh sebab itu, yang paling inti di dalamnya adalah pola manajemen pengembangan kelembagaan dan kependidikan yang akan menjadi barometer keberhasilan pendidikan Islam itu sendiri dalam peningkatan mutunya.
Namun demikian, berbagai indikator mutu pendidikan Islam belum menunjukan peningkatan yang berarti. Sebagian mutu pendidikan Islam di negeri ini, terutama di pulau Jawa, menunjukan peningkatan mutu pendidikan yang cukup signifikan dan menggembirakan, namun sebagian mutu pendidikan Islam lainnya yang berada di Kalimantan, Sulawesi, dan Papua serta daerah lainnya masih memprihatinkan. Secara fungsional, pendidikan Islam pada dasarnya ditujukan untuk memelihara dan mengembangkan manusia seutuhnya (insan kamil) yakni manusia berkualitas sesuai dengan pandangan Islam.
Tulisan ini hendak membahas mengenai manajemen mutu pendidikan islam secara global, hal-hal yang mendasari manajemen mutu pendidikan islam, dan faktor-faktor dominan dalam program manajemen mutu pendidikan Islam.

B.  Manajemen Mutu Pendidikan Islam
Manajemen adalah serangkaian kegiatan merencanakan, menorganisasikan, memotivasi, mengendalikan, dan mengembangkan segala upaya di dalam mengatur dan mendayagunakan sumber daya manusia, sarana dan prasarana untuk mencapai tujuan organisasi atau lembaga[2]. Manajemen berasal dari kata “ to manage “ yang artinya mengatur. Pengaturan yang dilakukan melalui proses dan diatur berdasarkan urutan dari fungsi-fungsi manajemen itu, jadi dapat dikatakan bahwa manajemen itu merupakan suatu proses untuk mewujudkan tujuan yang diinginkan[3]. Dari berbagai definisi-definisi diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa manajemen adalah ilmu yang mengatur tentang proses pendayagunaan sumber daya manusia maupun sumber-sumber lainnya yang mendukung pencapaian tujuan secara efektif dan efisien. Dari pengertian ini dapat diangkat suatu bentuk pemahaman bahwa dalam manajemen ada sebuah proses yang merupakan bentuk kemampuan atau keterampilan memperoleh hasil dalam rangka mencapai tujuan melalui kegiatan-kegiatan lembaga. Proses ini meliputi tahapan awal berupa perencanaan (planning), mengorganisasi (organizing), pelaksanaan (actuating) dan mengendalikan (controlling) sampai pada pencapaian tujuan.
Pengertian mutu adalah ukuran baik buruk suatu benda, kadar, taraf atau derajat (kepandaian, kecerdasan, dsb)[4]. Mutu mengandung makna derajat keunggulan suatu produk atau hasil kerja, baik berupa barang dan jasa[5]. Sedangkan dalam dunia pendidikan barang dan jasa itu bermakna dapat dilihat dan tidakdapat dilihat, tetapi dapat dirasakan.
Berdasarkan pendapat ahli di atas, dapat disimpulan bahwa mutu (quality) berbicara mengenai ukuran dan tingkat baik buruk suatu benda, yang membantu institusi untuk merencanakan perubahan dan mengatur agenda rancangan sebuah produk barang dan jasa sesuai dengan fungsi dan penggunannya agenda dalam menghadapi tekanan-tekanan eksternal yang berlebihan.
Manajemen mutu merupakan suatu proses yang sistematis yang terus-menerus meningkatkan kualitas proses belajar mengajar dan faktor-faktor yang berkaitan dengan itu, dengan tujuan agar menjadi target lembaga pendidikan Islam agar dapat dicapai dengan lebih efektif dan efisien[6]. Mutu harus dikelola dengan menerapkan trilogi mutu, yaitu perencanaan mutu, pengawasan mutu, dan perbaikan mutu yang dilakukan secara terus menerus seiring dengan berkembangnya kebutuhan pelanggan. Berdasarkan ukuran, kadar, ketentuan dan penilaian tentang kualitas sesuatu barang maupun jasa (produk) sesuai dengan kepuasan pelanggan.
Manajemen mutu memerlukan komitmen yang total baik dari individu maupun kelompok, sehingga perlunya membahas mengenai peningkatan oleh seluruh staf dan kesepakatan yang akan ditetapkan pada sebuah lembaga[7]. Manajemen mutu dalam pendidikan Islam menekankan pada pencarian secara konsisten terhadap perbaikan yang berkelanjutan untuk mencapai kebutuhan dan kepuasan pelanggan. Strategi yang dikembangkan dalam penggunaan manajemen mutu dalam dunia pendidikan adalah institusi pendidikan memposisikan dirinya sebagai institusi jasa atau dengan kata lain menjadi industri jasa. Yakni institusi yang memberikan pelayanan (service) sesuai dengan apa yang diinginkan pelanggan (custumer).

C.  Dasar-dasar Program Manajemen Mutu Pendidikan Islam
Ada beberapa hal pokok yang perlu diperahtikan dalam manajemen mutu pendidikan, yaitu :
1.      Terbuka pada perubahan (accept to change). Pemimpin atau pelaksana program manajemen mutu pendidikan harus memiliki komitmen dan tekad untuk mau berubah. Pada intinya peningkatan mutu adalah melakukan perubahan ke arah yang lebih baik dan lebih berbobot[8]. Kultur di sekolah merupakan nilai-nilai, kebiasaan-kebiasaan, upacara-upacara, slogan-slogan, dan berbagai perilaku yang telah lama terbentuk  di sekolah dan diteruskan dari satu angkatan ke angkatan berikutnya, baik secara sadar maupun tidak. Kultur ini diyakini mempengaruhi perilaku seluruh komponen sekolah, yaitu: guru, kepala sekolah,  staf  administrasi, siswa, dan juga orang tua siswa. Kultur yang kondusif  bagi peningkatan mutu akan mendorong perilaku warga kearah peningkatan mutu sekolah, sebaliknya kultur yang tidak kondusif akan menghambat upaya menuju peningkatan mutu sekolah.
2.      Perbaikan secara terus menerus (continuous improvement). Konsep ini mengandung pengertian bahwa pihak pengelola senantiasa melakukan berbagai perbaikan dan peningkatan secara terus menerus untuk menjamin semua komponen penyelenggara pendidikan telah mencapai standar mutu yang telah ditetapkan[9]. Perbaikan terus-menerus ini dilakukan secara menyeluruh meliputi semua unsur-unsur manajemen pendidikan Islam, seperti; manajemen pembelajaran dan kurikulum pendidikan Islam, manajemen personalia di lembaga pendidikan Islam, perencanaan kebutuhan sumber daya manusia manajemen peserta didik di lembaga pendidikan Islam, dan manajemen hubungan lembaga pendidikan Islam dengan masyarakat.
3.      Menentukan standar mutu (quality assurance). Standar mutu proses pembelajaran harus pula ditetapkan, dalam arti bahwa pihak manajemen perlu menetapkan standar mutu proses pembelajaran yang diharapkan dapat mengoptimalkan proses produksi dan menghasilkan produk yang sesuai, yaitu menguasai standar kemampuan dasar. Pembelajaran yang dimaksud sekurang-kurangnya menggunakan karakteristik pembelajaran siswa aktif (student active learning), pembelajaran kelompok (coorporative learning), dan pembelajaran tuntas (mastery learning).
4.      Mempertahankan hubungan dengan pelanggan (keep close to the customer). Berbagai informasi antara organisasi pendidikan dan pelanggan harus terus-menerus dipertukarkan, agar lembaga pendidikan senantiasa dapat melakukan perubahan-perubahan atau improvisasi yang diperlukan terutama berdasarkan perubahan sifat dan pola tuntutan serta kebutuhan pelanggan. Apalagi mengingat bahwa pendduduk Indonesia mayoritas Islam, tentu pendidikan Islam harus mampu mengambil “hati” masyarakat Indonesia. Dalam manajemen berbasis sekolah, guru dan staff dipandang sebagai pelanggan internal, sedangkan siswa dan orang tua siswa sebagai pelanggan eksternal yang harus dapat terpuaskan melalui interval kreatifitas pimpinan lembaga pendidikan. [10]

D.  Faktor-Faktor Dominan dalam Peningkatan Mutu Lembaga Pendidikan Islam
Untuk meningkatkan mutu sekolah dapat dilakukan dengan melibatkan lima faktor yang dominan :
1.      Kepemimpinan Kepala sekolah.
Kepala sekolah harus memiliki dan memahami visi kerja secara jelas, mampu dan mau bekerja keras, mempunyai dorongan kerja yang tinggi, tekun dan tabah dalam bekerja, memberikan layanan yang optimal, dan disiplin kerja yang kuat.
2.      Siswa.
Pendekatan yang harus dilakukan adalah “anak sebagai pusat “sehingga kompetensi dan kemampuan siswa dapat digali, sehingga sekolah dapat meng inventarisir kekuatan yang ada pada siswa.
3.      Guru.
Penempatan guru sesuai dengan disiplin ilmunya. Pelibatan guru secara maksimal dalam kegiatan sekolah dengan meningkatkan kompetensi dan profesikerja guru dalam kegiatan seminar, MGMP, loka karya serta pelatihan sehingga hasil dari kegiatan tersebut diterapkan disekolah.
4.      Kurikulum.
Adanya kurikulum yang ajeg / tetap tetapi dinamis , dapat memungkinkan dan memudahkan standar mutu yang diharapkan sehingga goals (tujuan ) dapatdicapai  secara maksimal.
5.      Jaringan Kerjasama.
Jaringan kerjasama tidak hanya terbatas pada lingkungan sekolah dan masyarakat semata (orang tua dan masyarakat) tetapi dengan organisasi lain, seperti perusahaan / instansi sehingga output dari sekolah dapat terserap didalam dunia kerja[11].

E.  Kesimpulan
Mutu bukanlah sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba dan muncul dihadapan para guru, karyawan dan kepala sekolah.
Manajemen pendidikan mutu berlandaskan kepada kepuasaan pelanggan sebagai sasaran utama. Pelanggan pendidikan ada dua aspek, yaitu; pelanggan internal dan pelanggan eksternal.  Pendidikan berkulitas apabila :
1.         Pelanggan internal (kepala sekolah, guru, dan karyawan) berkembang baik fisik maupun psikis. Secara fisik antara lain mendapatkan imbalan finasial. Sedangkan secara psikis adalah bila mereka diberi kesempatan untuk terus belajar mengembangkan kemampuan, bakat dan kreativitasnya.
2.         Pelanggan eksternal :
·      Pelanggan Eksternal primer (para siswa) : Menjadi pembelajar sepanjang hayat, pencipta pengetahuan serta menjadi generasi yang bertanggung jawab.
·      Pelanggan Eksternal sekunder (orang tua, pemerintah, dan perusahaan): Para lulusan dapat memenuhi harapan orang tua, pemerintah, dan perusahaan dalam hal menjalankan tugas-tugas yang diberikan kepadanya.
·      Pelanggan Eksternal tersier (pasar kerja dan masyarakat luas) : Para lulusan memiliki kompetensi dalam dunia kerja dan pengembangan masyarakat, sehingga mempengaruhi pada pertumbuhan ekonomi, dan kesejahteraan rakyat.

F.   Daftar Pustaka
Danim. Sudarwan  2007.Visi Baru Manajemen Sekolah. Jakarta : Bumi Aksara
Fidler, Brian, 2002, Strategic of management for school development, London : Paul Chapman Publishing.
Malayu S.P. Hasibuan, 2003, Manajemen Sumber Daya Manusia, Jakarta : Bumi Aksara
Sallis, Edward. 2012. Total Quality Management in Education. Yogyakarta: Ircisod.
Sukmadinata, Nana Syaodih, 2008, Pengendalian Mutu Pendidikan Sekolah Menengah, Bandung : Refika Aditama.
Sutikno, M.Sobry, 2009, Pengelolaan Pendidian: Tinjaian Umum dan Konsep Islami, Bandung : Prospect.
Zamroni. 2007 . Meningkatkan Mutu Sekolah . Jakarta : PSAP Muhamadiyah




[1] Mahasiswa S2 Program Pascasarjana UIN SGD Bandung 2014
[2] M.Sobry Sutikno, Pengelolaan Pendidian: Tinjaian Umum dan Konsep Islami, Hal. 4
[3] Malayu S.P. Hasibuan, Manajemen Sumber Daya Manusia, hal. 1
[4] Software Kamus Besar bahasa Indonesia offline ver. 1.5
[5] Sudarwan Danim,Visi Baru Manajemen Sekolah, hal. 53
[6] Zamroni. Meningkatkan Mutu Sekolah . hal. 2
[7] Brian Fidler, Strategic of management for school development, hal. 77
[8] Nana Syaodih S, Pengendalian Mutu Pendidikan Sekolah Menengah, hal. 8
[9] Edward Sallis, Total Quality of Management in Education, hal. 8
[10] Edward Sallis, Total Quality of Management in Education, hal. 11
[11] Sudarwan Danim,Visi Baru Manajemen Sekolah, hal. 56